Rabu, 22 April 2015
C a t a t a n M a s ’ u l G a u l
Dianjurkan untuk menyebarkan ebook ini, hanya saja jangan dikomersilkan. Kalo mengkomersilkan harus memberi royalti pada penulisnya, hehe :-)
Ingin mendapatkan edisi Bukunya?
Silahkan hubungi penerbit. Harga Rp.35.000, 00.
Judul buku : Catatan Mas’ul Gaul
Penulis : Sirot Fajar
Desain Cover : Tim Mahasiswa SUPER
Diterbitkan Oleh:
Mahasiswa Super Community
FP FB : Mahasiswa SUPER
Email : supermahasiswa@yahoo.com
Contact : 0857-3229-9580
Sirot Fajar | 3
Pengantar Penulis
Segala puji bagi Allah yang telah memberi banyak nikmat sehingga ebook ini bisa jadi. Sholawat dan salam semoga terlimpah kepada Nabi Muhammad saw..
Tepat pertengahan Ramadhan, ada seorang adik yang mau minta bantuan saya untuk melihat tulisannya. Katanya, ia mau mengumpulkan tulisan-tulisannya yang berserakan, untuk disatukan jadi buku. Belum sempat ia mengirimkan, ternyata saya kepikiran untuk mengumpulkan catatan-catatan yang pernah saya tulis. Akhirnya jadilah ebook ini.
Catatan–catatan ini lahir begitu saja. Biasanya terinspirasi menulis setelah menyaksikan sesuatu, menghadapi masalah dakwah kampus, mendapat semangat baru, dan di suasana hati lain. Catatan-catatan ini biasanya saya buat notes atau status di facebook, masukkan bulletin/majalah dakwah kampus, madding, dll. Bahasanya pun mungkin agak kacau, tidak sebaik kalau nulis buku. Tentu tidak semua notes saya masukkan. Ini hanya sebagian yang berkaitan dengan dakwah kampus dan berhubungan dengannya.
4 | C a t a t a n M a s ’ u l G a u l
Mungkin ada yang bertanya terkait judul, kog pede banget memakai judul “Mas’ul Gaul”? Apa iya Sirot itu Gaul? Apa bener Sirot Masul yang Gaul? Entahlah. Kebetulan saja catatan terakhir yang saya tulis itu berjudul “Mas’ul Gaul”. Karena bingung ebook ini mau diberi judul apa, ya akhirnya pakai kalimat itu saja..
Sekian pengantar ebook ini, semoga bermanfaat. Jika ada yang hendak didiskusikan bisa dikirim ke email: sifa_jarumy@yahoo.com.
“Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (QS. Muhammad [47]: 7)
Lamongan, 17 Ramadhan 1435 H
Sirot Fajar
Sirot Fajar | 5
Catatan Mas’ul Gaul
Sepotong Inspirasi untuk Aktivis Dakwah Kampus
Pengantar Penulis................................................................3
1. Memberi Arti Kehidupan………………………………………………..7
Memberi Arti Kehidupan………………………………8
Perjuangan & Pengorbanan………………………….12
Manusia Besar……………………………………………….18
2. Mahasiswa Dewasa……………………………………………………..…25
Mahasiswa Dewasa………………………………………26
Gajah Sexy dan Mahasiswa Sekarang……..32
Yang Muda, Yang Peduli & Penuh Karya…..38
Sang Penterjemah……………………………………….48
3. Menyalakan Lilin Dakwah……………………………………………..55
Sepenggal Kisah dalam Bis………………………...56
Menyalakan Lilin Dakwah…………………………….61
Ssstt Jangan Diam………………………………………68
Sakinah dalam Perjuangan………………………….72
Yang Mengajak, Yang Menyampaikan……….77
Sampaikan Kebaikan Meskipun Belum Melaksanakannya………………………………………….84
6 | C a t a t a n M a s ’ u l G a u l
Mengubah Dunia dengan Cinta………………….93
4. Semangat Pembelajaran………………………………………………97
Maaf, Aku Belum Berpengalaman……………..98
Yang Membuka Hati dan Wawasan…………104
Inilah yang Membedakan Kita dengan Mereka………………………………………………………….110
Masul Gaul…………………………………………………….113
Pembenaran Atas Kesalahan………………….....117
5. Bersama dalam Dakwah………………………………………………119
Penari dan Perbedaan Kita………………………...120
Kita Mungkin Beda, Tapi.. ………………………...122
Madu di Sarang Lebah…………………………….…128
Ukhuwah Anjaliah…………………………………….…133
Syubhat Dalam Berjamaah…………………….…138
6. Teruslah di Jalan Dakwah…………………………………………..145
Pengganti dan Yang Diganti……………………...146
Kader-kader Yang Tak Pernah Keder…....150
Yakinlah Bahwa Kita Akan Memimpin….….156
Sampai Allah Mengirim Malaikat-Nya…...162
Sirot Fajar | 7
Bagian 1
Memberikan Arti untuk kehidupan
Hidup di dunia ini hanya sekali
Karena setelah itu kita ‘kan mati
Namun bukan berarti itu tanda usai
Karena setelahnya ada kehidupan lagi
Hidup ini hanya perjalanan
Tempat kita menghimpun perbekalan
Agar kelak beroleh kebahagiaan
Dan tidak berakhir penyesalan
8 | C a t a t a n M a s ’ u l G a u l
Memberikan Arti Bagi Kehidupan
“Hidup sekali, hiduplah yang berarti”
--KH. Imam Zarkasyi—
Ternyata bukan lama waktu yang menentukan kebesaran seseorang. Ada orang yang hidup di dunia ini lebih dari satu abad tapi biografinya selesai ditulis dalam tiga baris di batu nisan: nama, tanggal kelahiran, dan tanggal kematian. Sementara hanya enam puluh tiga tahun Rasaulullah hadir di panggung sejarah ini, tapi para penulis dan sejarawan belum juga usai menulis dan menggali sejarahnya. Kenapa? Sebab beliau mewakili seluruh efisiensi, efektifitas, dan produktifitas waktu.
Seperti apa kita mengelola dan mengatur waktu yang kita miliki, seperti itu pulalah sebenarnya kualitas diri kita. Sebab, masalah kita dengan waktu adalah masalah keterbatasan dan ketidakpastian. Maka yang terpenting bagi kita bukanlah ‘berapa lama kita hidup di dunia ini’, tapi lebih pada ‘bagaiman kita memanfaatkan hidup yang hanya sebentar ini’. Maka manajemen waktu merupakan sebuah
Sirot Fajar | 9
keniscayaan. Karena waktu merupakan asset yang paling berharga dalam hidup kita.
Manajemen waktu, kata Anis Matta, merupakan bagian yang paling berkaitan dengan pandangan hidup seseorang, dan karenanya bersifat spesifik, unik, dan kasuistis. Dalam sekala yang lebih luas, manajemen waktu sangat terkait dengan falsafah hidup dan budaya sebuah masyarakat.
Kesalahan yang sering kita lakukan dalam manajemen waktu, lanjut Anis Matta, yaitu kebiasaan menyederhanakan konsep manajemen waktu menjadi cara menyusun jadwal kerja. Sebab, jadwal hanyalah bagian yang paling akhir dan paling teknis dari keseluruhan konsep majajemen waktu. Jadi, apa yang kita perlukan adalah sebuah persepsi tentang waktu sebagai ruang atau lanskap, di mana kita membangun rumah kehidupan kita.
Masyarakat kapitalis memandang waktu sebagai uang. The time is money, kata mereka. Sedang kita sebagai orang islam seyogyanya menganggap waktu sebagai kehidupan. Seperti kata Imam Hasan al-Banna, “al-waqtu huwal hayat (waktu adalah kehidupan).” Jika tujuan keberadaan kita di dunia ini adalah untuk beribadah kepada Allah, maka sudah
10 | C a t a t a n M a s ’ u l G a u l
seharusnya kita berusaha agar tiap saat dalam hidup ini juga bernilai ibadah.
Dalam al-Qur’an, selain kata al-waqt (waktu), ada juga kata al-ashr yang berarti masa atau waktu. Kata al-ashr sendiri terambil dari akar kata yang berarti “memeras atau menekan sekuat tenaga sehingga bagian yang terdalam dari sesuatu dapat keluar dan nampak di permukaan.” Dari sini dapat kita pahami bahwa al-Qur’an menuntut agar kita umat Islam menggunakan al-ashr (waktu) dengan sekuat tenaga; memeras keringat, sehingga sari pati kehidupan ini dapat diperoleh.
Akhirnya, di sisa usia kita yang entah masih berapa, tiada yang lebih indah dari pada kita memberikan arti bagi kehidupan ini. Saatnya untuk membuang rasa malas. Saatnya untuk bersegera melakukan amal sholih. Saatnya untuk berjuang, berpeluh dan berlelah. Agar di hari akhir nanti, kita tidak termasuk orang yang menyesal..
Sirot Fajar | 11
Yang namanya Kader LDK itu ya semuanya. Mulai dari low sampai top management.. Kalau ada yang bilang bahwa "Kader sekarang kog begini begitu..." maka yang dilihat bukan hanya yang 'di bawah' saja, tapi yang 'di atas' juga lebih perlu dilihat.. Kalau kader yang di bawah bermasalah, ada atasnya yang ngurusin. Masih mending! Kalo yang bermasalah yang atas, siapa yang mau ngurusi?? Maka menjadi mas'ul, pemimpin, Qiyadah dan sebutan lainnya justru harus lebih bisa menjaga hati, diri, dan laku. Sebab, yang di bawah akan senantiasa melihat tuk jadikan teladan..
Status FaceBook
12 | C a t a t a n M a s ’ u l G a u l
Perjuangan & Pengorbanan
“Perjuangan, bagi manusia-manusia yang agung itu, adalah sebuah instink yang sama kuatnya dengan instink lain dalam diri mereka.”
(Anis Matta)
Siapakah Nabi—selain Nabi Muhammad saw—yang namanya paling sering kita sebut?
Kalau jawaban saya tidak salah, maka beliau yang mulia adalah Nabi Ibrahim ‘alaihis salaam. Mari kita ingat, seberapa sering kita menyebut nama nabi-nabi itu. Tentu saja nabi yang paling sering kita sebut adalah Nabi Muhammad. Dan yang berada di posisi kedua tidak lain dan tidak bukan adalah Nabi Ibrahim AS. Tiap kali sholat, kita menyebut namanya setelah menyebut nama Nabi Muhammad SAW tatkala tahiyat akhir.
Jika kita mendengar nama Nabi Ibrahim, apakah yang terpikir dalam benak kita? Ya tidak salah. Pengorbanan. Lalu apa sih maksud dari pengorbanan itu? Dalam buku Berjuang di Dunia Berharap Pertemuan di Surga #2, Muhammad
Sirot Fajar | 13
Nursani menuliskan, “Berkorban artinya memberikan sesuatu untuk orang lain, mengeluarkan sesuatu bukan untuk kepentingan sendiri, atau, melakukan sesuatu yang hasilnya bukan untuk diri sendiri.”
Nabi-nabi yang diutus Allah, semuanya melakukan pengorbanan dalam hidup mereka. Minimal mereka telah mengorbankan waktu dan pikirannya untuk berdakwah, untuk mengajak manusia bertauhid pada Allah. Dan di antara 25 nabi yang namanya tercantum dalam al-Quran itu, ada lima nabi yang mendapat gelar ulul ‘azmi: orang yang memiliki tekad yang kuat.
Orang-orang besar dalam hidup ini adalah mereka yang hidupnya penuh perjuangan dan pengorbanan. Biarpun mereka meninggal saat masih berusia muda, tapi karena perjuangan dan pengorbanan selama hidupnya, seakan usianya memanjang mengikuti waktu kehidupan. Abadilah mereka.
Perjuangan dan pengorbanan yang dilakukan para nabi dan orang shalih terdahulu tidak ada yang ringan. Semuanya berat. Namun biar demikian tidak berarti tidak bisa kita lakukan. Perjuangan dan pengorbanan itu berat, tapi jika
14 | C a t a t a n M a s ’ u l G a u l
dibandingkan dengan kekuatan Allah swt itu sangat lah kecil sekali. Dan Allah sendiri telah menegaskan bahwa Dia tidak akan membebani seseorang melebihi kesanggupannya.
Perjuangan dan pengorbanan itu berat. Maka tidak banyak orang yang melakukannya. Yang melakukannya pun tidak semua kuat sampai akhir. Seringkali mereka futur di tengah jalan.
Akan kuatkah kaki yang melangkah
Bila disapa duri yang menanti
Akan kaburkah mata yang meratap
Pada debu yang pasti ‘kan hinggap
(Saujana, Suci Sekeping Hati)
Memang seberat apakah perjuangan dan pengorbanan itu? Lalu apa rahasia orang-orang besar itu sehingga mereka mampu bertahan dalam perjuangan dan pengorbanan?
Dalam lanjutan tulisannya Muhammad Nursani menuliskan, “Memberi, secara lahir adalah mengeluarkan sesuatu untuk orang lain yang berarti juga mengurangi sesuatu yang kita miliki. Tapi secara maknawi, memberi sesuatu kepada orang lain itu sama dengan memunculkan
Sirot Fajar | 15
ketenangan batin, kenikmatan dan kecerahan tersendiri bagi yang melakukannya.”
Dengan bahasa lain Anis Matta dalam Serial Cinta-nya menyebut hal seperti itu dengan “Kelezatan Ruhani”. Bahwa kelelahan-kelelahan [dalam perjuangan dan pengorbanan] itu melahirkan kegembiraan ruhani, kelezatan yang melahirkan energi baru untuk terus mengejawantahkan cinta.
Lalu bagaimana jika kita tidak dapat merasakan kenikmatan dalam melakukan perjuangan dan pengorbanan? Jika demikian, maka marilah kita lihat ke dalam diri kita sendiri. Barangkali ada niat yang salah atau ketidakberesan hati kita. Sebagaiman pesan Ibnu Taimiyah, “Bila di hatimu tak ada kelezatan yang bisa kamu dapatkan dari amal yang kamu lakukan, maka curigailah hatimu.”
Kenikmatan kita dalam perjuangan dan pengorbanan sangat dipengaruhi oleh sebesar dan seikhlas apa kita menjalaninya.
“Bila di hatimu tak ada kelezatan yang bisa kamu dapatkan dari amal yang kamu lakukan, maka curigailah hatimu.”
(Ibnu Taimiyah)
16 | C a t a t a n M a s ’ u l G a u l
Maka Umar bin Khatthab mengatakan, “Aku telah membuktikan bahwa kenikmatan hidup ini ternyata ada pada kesabaran kita dalam berkorban.”
Teruslah berjuang dan berkorban. Karena hidup ini pada hakikatnya adalah perjuangan dan pengorbanan. Dan perjuangan dan pengorbanan itu hanyalah untuk kosa kata kebaikan saja. Tidak ada perjuangan dan pengorbanan untuk hal keburukan. Dan perjuangan seorang muslim, kata Imam Ahmad, tiada berkesudahan sehingga kedua kakinya menginjak surga..
Sirot Fajar | 17
"Orang yang BAIK bisa membuat orang lain menjadi BAIK. Artinya kebajikan akan mendatangkan kebaikan dalam masyarakat." (Raja Thailand Bhumibol Adulyadej, dalam KoranSindo 260413) JIka kita memang orang BAIK, atau pun yang berkeinginan menjadi BAIK, mari tularkan ke-BAIK-an pada sesama.. Itulah dakwah: berbuat BAIK, dan menularkan ke-BAIK-an..
Status FaceBook
18 | C a t a t a n M a s ’ u l G a u l
Manusia Besar
“Orang yang hidup bagi dirinya sendiri akan hidup sebagai orang kerdil. Akan tetapi, orang yang hidup bagi orang lain akan hidup sebagai orang besar dan mati sebagai orang besar”
--Sayyid Quthb—
Suatu ketika saat mata kuliah observasi, seorang dosen memberi tugas pada mahasiswanya untuk melakukan observasi kecil-kecilan di lingkungan kampus. Terserah observasi apa yang penting observasi tersebut dilakukan di lingkungan kampus.
Nah, ada satu kelompok yang melakukan observasi unik. Mereka berkumpul di depan gerbang fakultas dan berdiri di tepi jalan yang tidak jauh dari pintu parkir. Setelah berdiskusi sebentar akhirnya beraksilah mereka. Mula-mula seorang mahasiswa (laki-laki) berdiri saja di tepi jalan. Tiap kali ada motor lewat ia melambaikan tangan, berharap bahwa pengendara motor itu akan berhenti.
Sirot Fajar | 19
Sampai kira-kira lima menit, tidak ada satu pun motor yang berhenti menghampiri mahasiswa tersebut.
Aksi selanjutnya, tidak jauh berbeda dari aksi pertama. Mereka semua ngumpet dan melihat dengan sembunyi-sembunyi kawannya yang berdiri di tepi jalan. Hanya saja untuk yang kedua ini diganti dengan mahasiswi (perempuan). Tidak butuh waktu lama seperti yang pertama tadi, ternyata ada motor yang berhenti. Ia juga mahasiswa, bukan tukang ojek. Sambil tersenyum mahasiswa yang mengendarai motor tersebut bertanya, “Ada apa mbak, ada yang bisa saya bantu?”
“Maaf mas, apa bisa mengantar saya ke Fakultas Ilmu Keolahragaan?,” kata mahasiswi yang observasi.
“Iya mbak bisa. Silahkan!”
Hmm.. Sebenarnya apa sih yang mereka lakukan? Observasi. Iya, tapi observasi apa? Ternyata mereka sedang mengobservasi perilaku prososial atau perilaku menolong terhadap orang lain yang dilakukan mahasiswa. Dalam kasus ini, yang menarik adalah mengapa mahasiswa sulit mendapat pertolongan sementara mahasiswi tampak lebih mudah?
20 | C a t a t a n M a s ’ u l G a u l
Boleh saja kita bilang bahwa kebetulan saja orang yang baik baru lewat tatkala mahasiswi sedang beraksi. Lalu bagaimana jika kejadian itu diulang sampai tiga kali dan hasilnya tetap sama. Jika mahasiswa yang melakukan tidak ada yang merespon namun jika mahasiswi yang melakukan langsung ada yang menghentikan motornya tidak lama kemudian. Apakah ini kebetulan orang yang baik baru lewat ataukah karena banyak mahasiswa yang pilih-pilih dalam menolong?
Wallahu a’lam.. Namun saya lebih sepakat yang kedua. Seringkali seorang itu pilih-pilih ketika akan melakukan tingkah laku prososial. Anggap saja bahwa objek observasi tersebut adalah para mahasiswa (bukan mahasiswi) saja. Dan kebanyakan mereka lebih memilih menolong kaum hawa dari pada yang sesama. Padahal kalau lawan jenis kan non muhrim, hehe..
Menurut Robert A. Baron dan Donn Byrne dalam buku Social Psychology ada beberapa hal yang menyebabkan seseorang melakukan prososial atau menolong orang lain.
Pertama: hipotesis empati-eltruisme. Orang yang masuk kelompok ini adalah orang yang menolong hanya
Sirot Fajar | 21
karena korban membutuhkan pertolongannya dan karena ada kebahagiaan ketika memberi pertolongan.
Kedua: model mengurangi keadaan negatif. Yaitu orang memberi pertolongan untuk mengurangi perasaan negatifnya sendiri dan membuat penolong merasa lebih baik.
Ketiga: hipotesis kesenangan empatik. Orang yang memberi pertolongan untuk terlibat dalam suatu aktivitas yang memiliki hasil akhir yang baik, membuat penolong merasa baik.
Sebenarnya masih ada satu lagi, tapi saya kira cukup tiga itu saja. Di antara ketiga itu, masuk yang manakah Anda? Jika saya ditanya seperti itu pun mungkin akan bingung juga. Mungkin tidak termasuk ketiga-tiganya. Sebagai seorang muslim yang saya tahu hanyalah bahwa Allah menyuruh kita untuk saling tolong menolong:
“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.” (Qs. Al-Maidah [5]: 2)
Sebagai seorang muslim kita diperintah Allah agar saling tolong menolong dalam kebaikan. Bahwa sebagai seorang muslim kita dituntut agar tidak hanya menjadi orang
22 | C a t a t a n M a s ’ u l G a u l
yang shalih li nafsihi tetapi juga dituntut untuk shalih li ghoirihi. Atau kalau dalam bahasanya Ust. Tete Qomaruddin dalam Majalah Ummi, “Yang Shalih, Yang Kontributif.”
Sholat kita baru sah jika kita menjalani rukunnya dari takbiratul ihram sampai salam. Takbir disini adalah isyarat ibadah ritual: mengagungkan Allah. Sedangkan salam adalah isyarat agar kita menebar salam pada sesama. Ini memberi pelajaran bagi kita bahwa untuk mencapai kesempurnaan ibadah mahdhoh kita harus melakukan ibadah ghoiru mahdhoh. Kalau kita telah usai mendirikan sholat maka bersegeralah untuk menebar salam dan kebajikan ke manusia lainnya. Segeralah memberi manfaat bagi orang lain.
”Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” (Hr. Tirmidzi)
Dalam perjalanan hidup ini, kita harus berusaha untuk menjadi orang yang bermanfaat. Terlebih jika kita mengaku
Orang sholih sejati bukan lah orang yang hidup bagi dirinya sendiri. Namun ia keluar dari dirinya untuk hidup bagi orang lain.
Sirot Fajar | 23
sebagai muslim. Dalam kondisi bagaimanapun dan di saat apapun pastikan kita berusaha untuk memberi manfaat pada sesama. Minimal kita tidak membebani sesama dengan keberadaan kita.
Orang sholih sejati bukan lah orang yang hidup bagi dirinya sendiri. Namun ia keluar dari dirinya untuk hidup bagi orang lain. Dari dirinya senantiasa mengalir mata air kebajikan yang dapat dirasakan bagi umat sekitarnya. Dalam bahasa Rasulullah, orang sholih yang seperti itu merupakan gambaran orang mukmin yang sebenarnya yang diilustrasikan sebagai lebah.
“Demi Dzat yang jiwa Muhammad ada dalam genggaman-Nya, sesungguhnya perumpamaan seorang mukmin adalah seperti lebah, ia makan yang baik-baik, mengeluarkan yang baik-baik, bila ia hinggap tidak membuat dahan patah dan rusak” (HR. Ahmad, 6577)
Lebah itu bisa mengeluarkan yang baik (madu) karena ia makan yang baik pula. Kita pun demikian. Kita baru bisa memberi ketika kita mempunyai. Seperti kata pepatah Arab, “Faqidusy-syai’i la yu’thiih.” (orang yang tidak mempunyai sesuatu, tidak akan bisa memberikan sesuatu). Bagaimana
24 | C a t a t a n M a s ’ u l G a u l
mungkin kita akan bisa memberi kalau kita sendiri tidak memiliki. Agar kita bisa membangun keshalihan sosial, mari kita terlebih dahulu membangun kesahalihan diri.
Orang yang senantiasa memberi manfaat bagi orang lain akan menjadi manusia besar dan selalu dikenang karena kebaikannya dirasakan banyak orang. Dan di saat berada di akhirat nanti pun mereka akan mendapat tempat terhormat di sisi Allah. Sebab, sebagaimana sabda Rasulullah di atas, mereka adalah ‘manusia terbaik’.
Mengenanang orang-orang besar, saya jadi teringat dengan Sayyid Quthb. Penulis tafsir fii dzilalil qur’an tersebut suatu ketika mengatakan, “Orang yang hidup bagi dirinya sendiri akan hidup sebagai orang kerdil. Akan tetapi, orang yang hidup bagi orang lain akan hidup sebagai orang besar dan mati sebagai orang besar”
Sirot Fajar | 25
Bagian 2
Mahasiswa Dewasa
“Berani hidup harus berani dewasa. Hidup ini memang tidak mudah, tetapi alangkah tidak mudahnya hidup tanpa keberanian menjadi dewasa.”
(Ahmad Zairofi)
“Tidak memakai apa yang diharamkan, dan bergaul dengan orang-orang shalih adalah tanda kedewasaan..”
(Ali Ahmad bin Sahal Al-Busyanji)
26 | C a t a t a n M a s ’ u l G a u l
Mahasiswa Dewasa
“Jangan lihat hidup dari fenomena-fenomena, tapi lihatlah hidup dari hakikat..”
(KH. Rahmat Abdullah)
Dalam dunia kampus akan banyak sekali pandangan, ilmu, ide, gagasan, dan pengetahuan lain yang bermunculan. Wajar saja, di dunia kampus lah para intelek berkumpul. Di sana lah orang-orang bergelar dan ‘para pencari gelar’ bertemu. Di kampus lah para profesor, doktor, master, dan orang-orang yang dianggap ‘intelek’ lainnya berada. Sehingga kampus menjadi pusat ilmu pengetahuan (seharusnya sih gitu..).
Seperti pepatah yang mengatakan: “Beda kepala beda rambut,” maka berkeliaran lah berbagai ide dan gagasan yang dicetuskan civitas akademika. Ide-ide dan gagasan yang bermunculan itu sangat mungkin sekali terjadi pertentangan antara satu dan lainnya. Maka istilah Ghozwul Fikri (Perang Pemikiran) benar-benar menemukan tempat yang cocok. Di sini lah diperlukan ‘kedewasaan berpikir’ bagi para
Sirot Fajar | 27
mahasiswa. Sebab ia akan dihadapkan pada berbagai macam dosen dari bermacam latar belakang. Ada non muslim, alim ulama, free thinker, kejawen, kiai mbeling, dan lain sebagainya.
Para penebar benih pemikiran pun seakan menemukan taman yang subur di kampus. Maka bertumbuh lah berbagai pohon gerakan dan pemikiran di sana. Tiba-tiba saja kita dikejutkan dengan kehadiran gerakan Negara Islam Indonesia (NII) di salah satu perguruan tinggi. Dan sebelum itu, tentu sudah banyak benih pemikiran yang telah tumbuh menjadi pohon gerakan di kampus. Maka kita mengenal HMI, PMII, GMNI, KAMMI, HTI, IPNU, IMM, dan berbagai gerakan mahasiswa lainnya yang eksis di berbagai kampus. ‘Kedewasaan berpikir’ menjadi sesuatu yang niscaya bagi para mahasiswa, karena dengan itulah ia mampu memilah mana pemikiran dan gerakan yang perlu diikuti.
Menurut para psikolog, bahwa tahap-tahap perkembangan kejiwaan dan alam pikiran manusia dalam menilai suatu ide atau pemikiran, umumnya melalui tiga fase.
Fase pertama, menilai baik buruknya suatu ide dengan kebendaan (materi) atau berdasarkan pada pancaindera
28 | C a t a t a n M a s ’ u l G a u l
yang timbul dari kebutuhan-kebutuhan primer. Golongan pertama ini mengukur baik buruknya suatu ide, pemikiran, gerakan dan hal lainnya dengan ukuran materi. Jika gerakan dan pemikiran itu mampu memberikan materi, kesenangan (bukan kebahagiaan) dan hal-hal lain yang bisa ‘dinikmati’ maka ia akan segera mengikuti gerakan dan pemikiran tersebut. Dan saya menyebut fase ini sebagai ‘fase anak-anak’.
Fase kedua, menilai suatu ide, pemikiran atau gerakan atas keteladanan yang diberikan oleh seseorang; dan atau tidak terlepas dari penjelmaan dalam diri pribadi seseorang. Suatu ide, gerakan atau pun pemikiran akan dianggap baik jika tokoh yang ia ikuti yang melakukannya. Atau paling tidak tokoh tersebut telah menilai baik terhadap ide, gerakan atau pemikiran tersebut. Dan ia menjadi jelek jika dinyatakan jelek oleh tokoh tersebut. Saya menyebut fase ini sebagai ‘fase remaja’ karena seorang remaja biasanya akan mudah sekali terpengaruh dengan teman dan lingkungannya.
Orang-orang yang tahap perkembangan pemikirannya masih berada pada fase pertama adalah orang yang
Sirot Fajar | 29
materialis. Ia mengukur segala sesuatu dengan kebendaan saja. Sementara orang yang tahap perkembangan pemikirannya berada pada fase kedua adalah orang-orang yang taqlid, yaitu orang yang mengikuti sesuatu namun tidak mengetahui dasarnya. Orang-orang seperti biasa disebut membebek/mengekor. Ia akan hengkang dan mencampakan suatu gerakan dan pemikiran jika tokoh yang diikutinya tidak lagi sepaham terhadap pemikiran dan berada dalam gerakan tersebut.
Dalam perang uhud, ada sekelompok kaum muslimin yang segera meningalkan medan pertempuran ketika mendengar berita bahwa Rasulullah saw wafat. Padahal berita tersebut hanyalah berita bohong yang dihembuskan kaum musyrikin untuk melemahkan barisan orang beriman. Dan apa yang mereka lakukan itu berhasil, karena ternyata ada juga pasukan kaum muslimin yang terpengaruhi berita tersebut. Kejadian seperti ini muncul karena pandangan sebagian kaum muslimin terhadap suatu ide (keyakinan) -pada waktu itu- baru sampai fase kedua. Maka al-Qur’an pun menegur mereka dengan turunnya ayat 144 dari surat Ali ‘Imraan..
30 | C a t a t a n M a s ’ u l G a u l
Fase ketiga adalah fase kedewasaan. Dalam fase ini, seseorang menilai suatu ide didasarkan atas nilai-nilai yang terdapat pada unsure-unsur ide itu sendiri. Ia tidak terpengaruh dengan faktor lain yang menguatkan atau melemahkan ide tersebut. Ia tidak lagi melihat materi dan pribadi di balik ide, pemikiran dan gerakan tersebut. Ia tidak lagi melihat dari fenomena-fenomena yang dimunculkan gerakan dan pemikiran, tapi ia melihat pada hakikat kebenaran sebuah gerakan dan pemikiran.
Di hari-hari semakin banyaknya pohon gerakan dan pemikiran di kampus, maka kedewasaan berpikir menjadi sebuah keniscayaan yang harus dimiliki para mahasiswa. Dan hanya mereka yang menyandarkan setiap pandangannya pada al-Quran dan Hadis lah yang akan akan memiliki pandangan imani: sebuah pandangan yang tidak lagi melihat hidup dari fenomena-fenomena tapi pada hakikatnya. Seperti yang telah diwasiatkan Syaikhut Tarbiyah KH Rahmat Abdullah, “Jangan lihat hidup dari fenomena-fenomena, tapi lihatlah hidup dari hakikat..”
Sirot Fajar | 31
Kata seorang kawan,
''kader dakwah sejati tidak selalu dimotivasi baru beraksi;
tidak pula harus diajak kemudian baru bergerak.
Ia hadir menginspirasi bukan menanti intruksi.
Ia mampu memotivasi diri untuk bangkit dari kefuturan tanpa harus dinasehati...''
Status FaceBook
32 | C a t a t a n M a s ’ u l G a u l
Gajah ‘Sexy’ dan Mahasiswa Sekarang
“Orang yang bertekad baja tidak akan menyerah pada ujian, akan selalu melihat masalah dengan mata terbuka. Dia adalah penembus zaman, yang selalu bergerak: jika ditutup satu pintu, dia akan menerobos pintu yang lain.”
(Tsabit ibn Zuhair)
Para mahasiswa yang belajar di Masjid Nabawi itu berhamburan keluar. Padahal mata kuliah Hadis yang disampaikan guru besar bidang hadis, Imam Malik, itu sedang berlangsung. Mereka lebih memilih keluar untuk melihat gajah dari pada harus terus duduk manis di ruang kuliah mendengar penjelasan Sang Guru Besar.
Tidak jelas dari mana datangnya rombongan itu, yang jelas mereka datang sembari membawa gajah. Dan di Madinah al-Munawwaroh, tempat di mana para mahasiswa itu sedang belajar, memang tidak ada hewan besar dan berbelalai itu. Sehingga wajar jika mereka begitu penasaran dan ingin melihat dari dekat binatang yang tergolong asing tersebut. Maka gajah itu pun berubah menjadi ‘gajah sexy’;
Sirot Fajar | 33
binatang yang membuat daya tarik dan pesona tersendiri, sehingga orang-orang pun berduyun-duyun untuk melihatnya.
Ruang kuliah seketika sepi, karena semua mahasiswa keluar dari ruang kuliah untuk melihat gajah. Hanya ada satu mahasiswa yang tetap mengikuti kuliah. Yahya bin Yahya nama lelaki itu. Maka guru besar yang telah menulis kitab al-muwattha’ itu segera mendekatinya seraya bertanya, ”Kenapa engkau tidak keluar juga untuk melihat gajah?” Yahya bin Yahya pun menjawab, “Saya datang jauh-jauh dari Andalusia (Spanyol) untuk menuntut ilmu, bukan untuk melihat gajah!” Imam Malik pun takjub mendengar jawabannya. Sejak saat itu beliau kemudian memberi Yahya bin Yahya sebuah gelar ‘aqilul andalus: Orang berakal dari Andalusia.
Pola pikir mahasiswa yang kabur dari kelas untuk melihat gajah, sepertinya mulai ditiru mahasiswa sekarang. Bukan selalu melihat gajah. Karena gajah sexy itu kini telah bermetamorfosis menjadi ruang kantin, kafe, gedung bioskop, mall, tempat nongkrong & hiburan lainnya. Tapi sikap kabur dari ruang kuliah mulai sering kita jumpai di
34 | C a t a t a n M a s ’ u l G a u l
kalangan mahasiswa sekarang. Yang lebih ‘pintar’, titip apsen kepada temannya.
Di sini, di kampus kita tercinta inilah kita menuntut ilmu. Dan dari sana, dari kampung halaman kita masing-masing itulah kita datang, meninggalkan orang tua, keluarga dan kampung halaman tercinta demi menuntut ilmu. Dalam rentang masa itu, tentu akan banyak rintangan yang menjauhkan dan melalaikan kita dari tujuan utama itu. Dan semuanya kembali kepada diri kita masing-masing. Apakah kita terus yakin dengan tujuan kita itu, ataukah justru lalai darinya.
Lelaki andalus dan seekor gajah memberi pejaran pada kita bahwa, betapa kita tidak boleh berhenti atau terhenti oleh sesuatu yang sederhana dan remeh. Kalau sekiranya Yahya sejenak keluar, melihat gajah bersama teman-temannya yang lain, itu pun tak akan jadi soal besar, karena Imam Malik sejenak tidak melanjutkan pelajarannya, sebab semua murid-muridnya keluar. Tapi tidak bagi Yahya. Ia memilih demikian karena ia memiliki kalkulasi keyakinan yang kuat. Ia memiliki tekad yang kuat. Sikap seperti itu bukan soal selera suka atau tidak suka melihat gajah, tapi lebih
Sirot Fajar | 35
merupakan soal pemahaman kemengertian, kesadaran dan juga kedalaman penghayatan tentang keputusan apa yang harus diambil seseorang di saat-saat menghadapi godaan.
Begitulah seharusnya kita bersikap dalam menapaki jalan cita-cita dan harapan kita. Kita harus terus berjalan di jalan tersebut; jalan yang mampu menghantarkan kita mencapai tujuan cita-cita itu. Apapun sikap yang kita pilih dalam perjalanan menuju mimpi-mimpi kita itu memiliki konsekuensi masing-masing. Bermain, berlibur dan refreshing tidaklah buruk. Bahkan hal itu kadang diperlukan untuk mengembalikan semangat dan meremajakan pikiran kita kembali. Tapi semua hal itu punya tempat dan masa sendiri.
Apa yang dilakukan Yahya bin Yahya itu membuat namanya tercatat dalam sejarah. Dan Engkau wahai saudaraku, pasti bisa merengkuh takdir sejarahmu sendiri. Kuncinya hanya itu: “jangan pernah berhenti mengejar cita-cita luhur kalian!!.” Seperti lelaki Andalus itu, rayuan gajah sexy tak mampu menghentikan langkahnya. Kalau ia bisa, terus bagaimana dengan kita?
36 | C a t a t a n M a s ’ u l G a u l
Jika gajah sexy itu datang kepadamu dengan rayuan gombalnya, maka jawablah rayuan itu dengan puisi Chairil Anwar:
Aku
Kalau sampai waktuku
Kumau tak seorang kan merayu
Tidak juga kau. []
(Sumber Inspirasi: Buku Lelaki Pendek, Hitam, dan Lebih Jelek dari Untanya)
Sirot Fajar | 37
Selalu terasa cepat, bila waktu berlalu..
Selama beberapa tahun mengurus Dakwah Kampus ternyata terasa begitu singkat. Dan kita belum sepenuhnya menyadari, betapa kecakapan kolektif kita ternyata belum memadai..
Diamanahi menjadi mas’ul (pemimpin), tidak selalu sama dengan layak memimpin. Sebab, ‘diamanahi’ hanyalah siklus organisasi, tetapi ‘layak memimpin’ bertumpu kepada diri orang yang akan memimpin tersebut..
Semoga kita mampu belajar untuk melayakkan diri menjadi pemimpin, sehingga dapat menjadi mas’ul yang baik. Baik itu mas’ul rumah, jurusan, fakultas, kestari, keuangan, dan mas’ul lainnya..
Pun bisa mengkader generasi penerus untuk menjadi pemimpin yang sebenarnya..
Status FaceBook
38 | C a t a t a n M a s ’ u l G a u l
Yang Muda, Yang Peduli, dan Penuh Karya
“Sesungguhnya Tuhan-mu kagum kepada seorang pemuda yang tidak memiliki sifat Shabwah (kejahilan dan kekanak-kanakan).”
(Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah 1225)
Negeri ini memiliki banyak asset yang cukup berharga dan mahal, tapi di antara itu semua tentu ada yang paling berharga dan paling mahal. Asset ini lah yang harus kita jaga dan kita pertahankan baik-baik. Asset itu adalah pemuda. Pemuda lah asset yang paling berharga bagi negeri ini, karena pemuda lah yang nantinya akan meneruskan kelangsungan negeri ini. Pemuda hari ini lah yang akan memimpin negeri ini di hari esok. Syubbaanul yaum rijaalul ghod, begitu bunyi sebuah pesan yang pernah saya dengar dalam bahasa Arab. Atau kalau dalam Bahasa Inggris berbunyi “Youth today as a leader for tomorrow.” Bahwa pemuda hari ini adalah pemimpin di hari esok.
Pemuda itu sedemikian hebat. Bahwa pemuda itu jika ke-muda-annya dimanfaatkan dengan baik dan benar akan
Sirot Fajar | 39
menghasilkan sesuatu yang luar biasa. Kayaknya tidak berlebihan jika dalam salah satu bukunya Herry Nurdi menuliskan, “Generasi muda adalah bahan baku utama sebuah peradaban, di mana pun dan di zaman apapun. Potensi-potensi muda ini jika diolah dan dipelihara akan menjadi bahan bakar perjuangan. Pemuda-pemuda adalah besi-besi yang siap ditempa.”
Pemuda itu demikian hebat. Maka kita sering mendengar ungkapan Bapak Proklamasi Indonesia yaitu Presiden Soekarno yang mengatakan, “Berikan padaku 10 pemuda maka dengannya aku akan mengguncang dunia.” Dan jauh sebelum itu khalifah Umar bin Khatthab membuat pengakuan, “Kalau aku dihadapkan pada masalah besar, maka yang kupanggil pertama kali adalah seorang pemuda.”
Pemuda Harus Peduli
Pakar Sosiologi Kenneth Kenniston mendefinisikan masa muda (youth) adalah periode transisi antara masa remaja dan masa dewasa yang merupakan masa perpanjangan kondisi ekonomi dan pribadi yang sementara. Lebih jauh lagi Kenniston berpendapat bahwa kaum muda berbeda dengan
40 | C a t a t a n M a s ’ u l G a u l
remaja karena adanya perjuangan antara membangun pribadi yang mandiri dan menjadi terlibat secara sosial, berlawanan dengan perjuangan remaja untuk mendifinisikan dirinya.
Jadi remaja dan pemuda itu beda. Itu sebabnya Psikolog University of Texas at Dallas, John W. Santrock, dalam bukunya Life-Span Development membedakan antara remaja dan pemuda. Remaja merupakan transisi antara masa anak-anak dan masa dewasa dan pemuda merupakan masa dewasa awal.
Jika kita lihat dari pendapat Kenneth Kenniston di atas maka dapat disimpulkan:
Pemuda: adanya perjuangan antara membangun pribadi yang mandiri dan menjadi terlibat secara sosial.
Remaja: usaha untuk mendifinisikan dirinya.
Itu sebabnya kebanyakan pembahasan tentang remaja lebih banyak membahas tentang konsep diri, identitas, dll..
Dari pendapat kenniston itu juga kita dapat melihat bahwa yang namanya pemuda adalah orang yang melakukan perjuangan untuk menjadi terlibat secara sosial. Ketika memasuki masa muda, sudah seharusnya seorang pemuda itu
Sirot Fajar | 41
mulai terlibat secara sosial. Ini bukan masalah pergaulannya yang semakin luas. Tidak! Tapi ini lebih pada kesadaran dalam dirinya bahwa ia adalah bagian dari lingkungan sosialnya.
Hal ini diperkuat oleh pendapat para psikolog bahwa kedewasaan bukan sekedar tercapainya usia yang semakin tua saja. Tetapi seorang pemuda itu bisa disebut dewasa jika dalam dirinya sudah ada ciri-ciri psikologis tertentu sebagai tanda kedewasaan. Di antara ciri-ciri psikologis tersebut, menurut G.W. Allport adalah: extension of the self (pemekaran diri sendiri).
Pemekaran diri sendiri (extension of the self), yang ditandai dengan kemampuan seorang untuk menganggap orang atau hal lain sebagai bagian dari dirinya sendiri juga. Perasaan egoisme (mementingkan diri sendiri) berkurang, sebaliknya tumbuh perasaan ikut memiliki. Salah satu tanda
pemuda bukan saatnya untuk memikirkan diri sendiri lagi, tapi ketika seorang itu telah menjadi pemuda, maka saatnya ia untuk lebih peduli kepada apa yang di luar dirinya.
42 | C a t a t a n M a s ’ u l G a u l
yang khas adalah tumbuhnya kemampuan untuk mencintai orang lain dan alam sekitarnya (Sarwono, 2007: 71).
Demikianlah, pemuda haruslah menjadi orang yang peduli: peduli dengan orang-orang sekitarnya; peduli dengan masyarakatnya; peduli dengan negaranya; peduli dengan agamanya; dan peduli kepada semua hal yang memang pantas untuk dipedulikan. Sebab, pemuda bukan saatnya untuk memikirkan diri sendiri lagi, tapi ketika seorang itu telah menjadi pemuda, maka saatnya ia untuk lebih peduli kepada apa yang di luar dirinya.
Saatnya Untuk Berkarya
Menjadi seorang pemuda, tidak cukup bagi kita untuk hanya melakukan pemekaran diri sendiri (extension of the self). Tapi kita juga harus mulai memikirkan karya apa yang akan kita berikan kepada orang-orang yang ada di sekitar kita; masyarakat kita; negara kita. Sebab, kehadiran kita di tengah masyarakat tidak akan ada gunanya jika kita tidak bisa memberi kontribusi apa-apa. Apalagi jika kita malah membuat kerusakan dan keonaran. Untuk itulah sebagai pemuda kita harus berkarya.
Sirot Fajar | 43
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, karya adalah (1) pekerjaan; (2) hasil perbuatan; buatan; ciptaan. Dengan demikian paling tidak ada dua hal yang harus kita lakukan:
Pertama: dalam pekerjaan yang kita lakukan, jangan hanya berpikir untuk diri sendiri, tapi juga memikirkan bahwa kerja yang kita lakukan memberi manfaat pada sesama. Pekerjaan apa? Pekerjaan apa saja. Tergantung dengan potensi yang kita miliki. Sebab, kita tidak akan bisa bekerja secara maksimal di luar kompetensi kita. Apapun kerja yang kita lakukan, kita harus melakukannya dengan semaksimal mungkin dan professional. Selain itu juga berupaya agar kerja kita itu memberi manfaat pada sesama.
Kedua: kita harus mulai memikirkan sumbangsih yang akan kita berikan kepada orang-orang sekitar kita. Bahkan kalau bisa kita perlu untuk memberikan sumbangsih kepada negara dan dunia. Sumbangsih dalam hal apa? Banyak hal. Di antaranya bisa berbentuk pemikiran-pemikiran baru yang mencerahkan, atau temuan-temuan ilmiah baru yang dibutuhkan masyarakat. Atau mungkin karya lain yang memang dibutuhkan masyarakat.
44 | C a t a t a n M a s ’ u l G a u l
Intinya, bahwa kehadiran kita di negara ini harus bisa memberikan manfaat kepada sesama. Sebagai pemuda, jangan sampai kemudian kehadiran kita justru meresahkan masyarakat karena ulah yang kita lakukan. Pemuda yang penuh karya, akan senantiasa memberikan manfaat kepada orang-orang sekitarnya, yang dengannya ia menjadi pemuda yang kehadirannya ditunggu-tunggu.
Mengintegrasikan ‘Peduli’ dan ‘Karya’
Negeri ini kini lagi menantikan lahirnya pemuda-pemuda yang peduli dan penuh karya; pemuda yang tidak hidup untuk dirinya sendiri saja, tapi juga berusaha untuk keluar dari dirinya, untuk memberi manfaat orang-orang sekitarnya; ia senantiasa berkarya yang dengan itu kepeduliannya semakin tampak nyata di tengah masyarakat dan negara.
Kita tidak bisa menjadi pemuda yang ‘peduli’ saja atau ‘penuh karya’ saja. Kita harus mengintegrasikan kedua-duanya. Kepedulian lebih banyak diperlukan ketika negara ini mengalami krisis, bencana, musibah, dan saat susah dan duka lainnya. Di saat itulah sangat dibutuhkan kepedulian
Sirot Fajar | 45
terhadap sesama. Dan karya lebih banyak dibutuhkan ketika kondisi normal. Dengan karya-karya itulah diharap bisa membuat negara ini jauh lebih baik dan berkembang dengan pesat.
Selain itu, sebuah kepedulian harus dibuktikan dengan kerja/karya, sehingga dampaknya lebih terasa oleh masyarakat dan negara. Sedangkan karya kita akan terasa kurang manfaatnya ketika kita tidak peduli dengan masyarakat dan negara kita sendiri, seperti kisah anak-anak negeri ini yang justru berkarya di negeri lain. Apapun alasannya, hal itu tentunya akan kurang manfaatnya bagi negara ini. Untuk itulah diperlukan integrasi antara peduli dan karya.
Sadar atau tidak ternyata begitu banyak kiprah pemuda yang tercatat dalam sejarah bangsa ini. Mula-mula pada awal tahun1900-an, tepatnya pada tanggal 20 Mei 1908, muncul organisasi bernama Budi Utomo (Boedi Oetomo) yang didirikan oleh sejumlah mahasiswa STOVIA (School tot Opleiding van Indische Artsen) seperti Soetomo, Gunawan, Cipto Mangunkusumo, dan R.T Ario Tirtokusumo. Tanggal itu sampai sekarang diperingati
46 | C a t a t a n M a s ’ u l G a u l
sebagai Hari Kebangkitan Nasional kerena organisasi ini dianggap sebagai organisasi kebangsaan yang pertama.
Tidak begitu lama setelah itu munculnya generasi 28 yang mempelopori persatuan nasiaonal dalam simbol tanah air, kebangsaan dan bahasa persatuan melalui Sumpah Pemuda. Setelah itu muncullah generasi 45 yang mempelopori perjuangan kemerdekaan. Yang mungkin masih lekat di ingatan kita adalah generasi 98 yang berhasil menumbangkan Orde Baru. Dan sebelum itu generasi 66 berhasil menumbangkan Orde Lama.
Kini adalah saat bagi kita menjadi generasi baru. Generasi yang akan diukir dalam tinta emas sejarah bangsa Indonesia. Tentunya hanya dengan itu: Menjadi pemuda yang peduli terhadap persoalan negara untuk kemudian berusaha menyelesaikannya, dan terus berkarya untuk menjadikan Indonesia yang lebih baik.
Sirot Fajar | 47
Prinsip utama seorang Qiyadah adalah optimisme. Apa yang dirasakan Jundi setelah mengikuti pertemuan dengan Anda? Apakah mereka merasa berkembang? Jika tidak, Anda bukanlah seorang Qiyadah! --Field Marshall Montgomery—
Tentu saja Field tidak pernah menuliskan kata Qiyadah & Jundi seperti dalam kata di atas. Sebab, saya telah mengganti kata pemimpin menjadi Qiyadah & karyawan menjadi jundi, hehe.. Terlepas itu semua, memang begitulah adanya. Bahwa tugas seorang pemimpin itu bisa membuat orang yang dipimpinnya berkembang menjadi lebih baik.. Selamat menyambut musim semi dakwah kampus...
Status FaceBook
48 | C a t a t a n M a s ’ u l G a u l
Sang Penterjemah
“Manusia paling utama dengan Al-Qur’an ini adalah yang mengikuti al-Qur’an meskipun ia belum membacanya”
(Hasan Al-Bashri)
Para sahabat Rasulullah dulu, jika belajar dengan Nabi Muhammad saw., biasanya hanya mendapat pelajaran beberapa ayat saja. Usai belajar mereka segera berusaha untuk mempraktekkannya. Mereka berusaha melaksanakan perintah dan mengejawantahkan ilmu yang baru saja didapat dari Nabi. Adalah Abu Hurairah yang memberi pelajaran besar bagi kita, bahwa kita harus berusaha sebisa mungkin untuk mengamalkan ilmu yang telah kita pahami.
Suatu ketika Abu Hurairoh mendapat penjelasan tentang beberapa ayat dari Nabi saw. Tapi belum begitu lama, Abu Hurairah berpapasan dengan Nabi saw di jalan. Namun Abu Hurairah menghindar. Dan Rasulullah tahu bahwa sahabatnya yang kelak paling banyak meriwayatkan hadis tersebut menghindar. Maka keesok harinya Rasulullah pun bertanya kepada Abu Hurairah, kenapa ia menghindar?
Sirot Fajar | 49
Abu Hurairah pun menjawab, “Saya takut bertemu engkau, ya Rasul. Saya takut engkau tanya apa yang telah saya amalkan dari penjelasan ayat yang kemarin. Dan pada waktu itu saya belum melakukan apa-apa.”
Begitulah generasi terbaik sepanjang sejarah itu memperlakukan al-Quran. Mereka berusaha sebisa mungkin untuk mengamalkan al-Quran. Mereka ibarat al-Quran yang berjalan di muka bumi ini. Mereka mempelajari al-Quran untuk di amalkan, maka membumilah al-Quran. Dan mereka pun menjadi generasi menyerah yang terbaik sepanjang masa.
Memiliki ilmu pengetahuan itu penting, namun lebih penting lagi adalah mengamalkan ilmu yang telah kita miliki. Mempelajari al-Quran itu wajib, namun lebih wajib lagi adalah mengamalkan al-Quran dalam hidup. Agar kita bisa mengamalkan al-Quran dalam laku kehidupan ini, maka terlebih dahulu kita harus menerima al-Quran sepenuh jiwa kita. Sebab, sebagaimana kata Sayyid Quthb dalam Ma’alim fi ath-thoriq, ketika jiwa itu telah menyatu dengan al-Quran, maka raga pun akan berkomitmen menjalankan manhaj al-Quran.
50 | C a t a t a n M a s ’ u l G a u l
Dalam kitab Al-Mustadrak diriwayat bahwa: Al-Quran akan menjelma di hari kiamat, lalu ia mendatangi seseorang yang membaca Al-Quan tapi melanggar isinya. Al-Quran menjelma sebagai musuhnya. Ia mengatakan, “Ya Rabb, Engkau memberikan aku kepada orang ini, tapi dia adalah seburuk-buruk orang yang membawaku. Dia mengetahui batasanku tapi ia menyia-nyiakan kewajibanku, melakukan kemaksiatan kepadaku dan meninggalkan taat kepadaku”. Al-Qur’an terus menerus melontarkan tuduhan dengan berbagai alasan sampai akhirnya orang itu dijebloskan ke dalam neraka. (Lili Nur Aulia, Kubisikkan Untukmu, 23)
Seharusnya, Al-Quran yang kita baca itu dapat memberi syafaat kita di akhirat nanti, sebagaimana sabda Rasulullah,
اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لِِصَْحَابِهِ
Al-Qur’an hanyalah sebuah kata. Dan kata itu tidak ada artinya jika tidak kita terjemahkan dalam laku kehidupan.
Sirot Fajar | 51
“Bacalah Al-Qur`an, karena ia akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafa'at kepada para ahlinya” (HR.Muslim)
Agar al-Qur’an benar-benar memberi syafa’at pada kita, hendaknya kita mengamalkan isinya: menerjemahkan dalam laku kehidupan kita. Sebab jika tidak demikian, maka al-Qur’an justru akan menjebloskan kita ke api neraka. Maka bagi orang beriman, hidup di dunia ini selamanya adalah sebagai penerjemah al-Qur’an dalam laku kehidupannya.
Al-Qur’an hanyalah sebuah kata. Dan kata itu tidak ada artinya jika tidak kita terjemahkan dalam laku kehidupan. Maka tugas kita adalah menjadikan al-Quran sebagai ruh kehidupan, dengan berusaha mengamalkannya.
Dalam perjalanan hidup ini, pastilah kita mebutuhkan petunjuk jalan agar bisa sampai ke tujuannya. Dan Allah, Sang Pencipta hidup ini, telah menurunkan petunjuk yang jelas. Maka tugas kita adalah benar-benar memahaminya itu untuk kemudian menjalankan petunjuk yang ada. Sebab jika tidak, ia pasti tersesat di belantara kehidupan ini.
Di antara salah satu nama Al-Qur’an adalah Al-Furqaan. Maka sikap seorang muslim terhadap al-Qur’an
52 | C a t a t a n M a s ’ u l G a u l
harus melahirkan furqaan. Pembeda. Bahwa ada perbedaan anatara yang hak dan yang bathil. Bahwa ada perbedaan anatara yang benar dan yang salah. Nah, sikap seorang mukmin harus bisa membedakan anatar keduanya. Bukan hanya sekedar membedakan saja, tetapi juga berbeda dalam menyikapi keduanya. Ia mengamalkan yang hak dan menjauhi yang bathil.
Saat ini sudah banyak pusat studi Al-Qur’an dan juga Perguruan Tinggi yang membuka jurusan tentang ilmu Al-Qur’an. Namun kebanyakan dari pendidikan yang ada itu hanya dititikberatkan pada pemahan saja; hanya berasyik pada rekreasi intelektual saja. Itu sebabnya biarpun banyak doktor bahkan professor di bidang Al-Qur’an, Hadits, dan Ilmu Agama lainnya, namun tetap saja umat islam ini terbelakang. Sebab para ‘ahli’ agama itu hanya
kembali pada Al-Qur’an adalah menyandarkan hidup kita pada Al-Qur’an; bagaimana kita berbuat, beramal, dan berperilaku sesuai dengan tuntutan Al-Qur’an.
Sirot Fajar | 53
memprioritaskan pengetahuan, dan tidak pada amal. Contoh yang paling sederhana dari hal ini adalah kasus yang terjadi di departemen agama, di mana ada korupsi terhadap uang pengadaan Al-Qur’an.
Akhirnya, untuk mengembalikan kejayaan umat ini, kita harus kembali pada Al-Qur’an. Bukan berarti kita harus belajar di studi al-Qur’an semua. Tidak! Tetapi kembali pada Al-Qur’an adalah menyandarkan hidup kita pada Al-Qur’an; bagaimana kita berbuat, beramal, dan berperilaku sesuai dengan tuntutan Al-Qur’an. Sebab, selamanya kita adalah Sang Penterjemah. Menerjemahkan al-Qur’an dalam laku kehidupan..
54 | C a t a t a n M a s ’ u l G a u l
Sajak Mas’ul Tahukah kamu apa artinya mas’ul itu? Secara bahasa berarti ‘orang yang ditanya’ Maka jangan salah jika ada yang tanya padamu Walaupun mungkin kamu tak tahu pasti jawabannya Mas’ul itu orang yang bertanggung jawab Atas apa yang diamanahkan padanya Maka wajar jika kamu dipaksa menjawab Atas semua yang terjadi pada wajihah Tak ada amanah kecil atau besar Baik masul fakultas atau jurusan Semua amanah harus membuat kita sadar Bahwa semua itu ada pertanggungjawaban Itulah susahnya pemimpin Salah sedikit banyak yang mengkritik Berbuat baik banyak yang nglupain Maka terus usahakanlah yang terbaik Memang tak ada yang sempurna Karena kita hanya manusia biasa jadi wajar jika ada salah dan lupa Maka maafkanlah sesama
Sirot Fajar | 55
Bagian 3
Menyalakan Lilin Dakwah
“Dakwah berkembang di tangan orang-orang yang memiliki militansi, semangat juang yang tak pernah pudar. Ajaran yang mereka bawa bertahan melebihi usia mereka. Boleh jadi usia para mujahid pembawa misi dakwah tersebut tidak panjang, tetapi cita-cita, semangat dan ajaran yang mereka bawa tetap hidup sepeninggal mereka.”
--KH. Rahmat Abdullah--
56 | C a t a t a n M a s ’ u l G a u l
Sepenggal Kisah di Dalam Bis
“Saya banyak mencermati pengalaman orang-orang terdahulu sehingga saya mengerti tentang mereka, seakan-akan hidup sepanjang usia mereka.”
--Ali bin Abi Thalib—
Jarak antara tempat menginapnya kafilah MTQ MN XII dan tempat berlombanya itu cukup jauh. Tempat menginapnya ada di asrama haji Sudiang sementara tempat lombanya ada di kampus II Universitas Muslim Indonesia (UMI). Berangkat dan kembali, para peserta naik bis yang telah disediakan tuan rumah. Karena jumlah bis yang terbatas, maka sering kali bis penuh sesak, dan penumpang yang menaikinya pun banyak yang berdiri.
Pernah suatu ketika dalam perjalanan, saya bersebelahan dengan salah seorang ikhwah dari Manado. Sengaja saya tidak menyebut namanya. Sambil berdiri di dekat pintu layaknya kondektur, kami pun bincang-bincang ngalor ngidul. Dan sampailah ia bercerita bagaimana perjalannanya sehingga bisa sampai mengikuti MTQ
Sirot Fajar | 57
tersebut. “Kami beruntung akh masih bisa berangkat. Benar-benar perjuangan untuk bisa sampai sini. Kami baru mendapat uang sabtu kemarin (H-1) setelah itu langsung berangkat.”
Ternyata perjuangan saudara kita ini tidak hanya untuk ikut MTQ saja. Tetapi hari-hari yang dilaluinya pun penuh perjuangan. Perjuangan untuk menegakkan izzah islam di kampus yang mayoritas civitas akademikanya beragama kristen. Mulai satpam sampai rektor hampir semuanya beragama kristen. Hanya beberapa saja dosen yang beragama islam. Dan total mahasiswa muslim tidak lebih dari dua ratus.
Pernah suatu ketika pihak kampus ingin menurunkan speaker yang biasa menggemakan adzan dari atas musholla. Maka berdatangan lah mahasiswa muslim ke musholla itu. Semuanya mencegah ‘pekerja kampus’ agar tidak menurunkan speaker tersebut. Bahkan ada salah satu senior aktivis dakwah kampus tersebut yang naik ke genteng untuk menghalangi ‘pekerja kampus’ tersebut. Ia bahkan menegaskan, jika masih ingin menurunkan speaker maka
58 | C a t a t a n M a s ’ u l G a u l
harus melangkahi mayatnya terlebih dahulu. Ia berani mati agar adzan tetap bisa menggema di kampus tersebut.
Mendengar kisah tersebut, saya pun menjadi merinding. Saya merasa bahwa apa yang saya lakukan ternyata masih belum apa-apa. Saya pun merasa malu. Belum berhenti keharuan saya, tiba-tiba ia mengenalkan dengan salah seorang temannya yang juga menjadi peserta MTQ. Saya pun berbincang dengannya. Dan saya pun kaget bukan buatan ketika mengetahui amanah dia saat ini. Sebuah amanah yang tidak terpikirkan di benak saya. Karena, sahabat kita ini adalah Ketua UKM Musik alias dia adalah anak band.
Memang sasaran dakwah ini adalah kepada semua manusia. Namun pilihan masuk ke UKM musik adalah sebuah pilihan yang sulit saya pahami. Terlebih di kampus yang umat muslim masih menjadi minoritas. Dan ketika prihal tersebut saya tanyakan, saudara kita ini menjawab, “Iya akh. Kami sengaja masuk UKM Musik, karena sekretariatnya dekat musholla. Kalau tidak kami kuasai maka mereka akan tetap bermusik saat ada waktu sholat. Agar hal itu tidak terjadi,
Sirot Fajar | 59
maka kami memasukinya. Agar saat waktu sholat ngebandnya berhenti, dan kami bisa sholat dengan tenang.”
Saya tidak akan memberi komentar, atau pun ulasan & ibrah dari kisah di atas. Saya hanya ingin bertanya, apa komentar saudara sekalian dan ibrah apa yang bisa saudara petik dari saudara kita di atas???
60 | C a t a t a n M a s ’ u l G a u l
“Kemenangan Dakwah Kampus bukan lah akhir dari perjuangan ini.
Tetapi, kemenangan Dakwah Kampus adalah langkah awal untuk memulai perjuangan yang lebih keras lagi
untuk membuktikan kiprah dakwah ini…”
Status FaceBook
Sirot Fajar | 61
Menyalakan Lilin Dakwah
“Ribuan lilin dapat dinyalakan sari satu batang lilin,
dan lilin itu tidak akan menjadi lebih pendek..
Kebahagiaan tidak pernah berkurang meskipun dibagikan..”
--Budha—
Seorang profesor pada suatu lembaga pengetahuan tinggi yang ternama menantang murid-muridnya dengan pertanyaan ini: “Apakah Tuhan menciptakan semua yang ada?” Dan seorang murid dengan berani menjawab, “Ya, Dia menciptakannya!
“Apakah Tuhan menciptakan segalanya?” sang profesor bertanya.
“Ya, Pak. Dia pasti menciptakan segalanya,” seorang murid menjawab.
Kemudian profesor itu bertanya, ”Jika Tuhan menciptakan segalanya, maka Tuhan menciptakan kejahatan. Dan sejak kejahatan ada, dan menurut prinsip bahwa karya-karya kita mendefinisikan siapa kita, kita dapat menganggap bahwa Tuhan adalah kejahatan.”
62 | C a t a t a n M a s ’ u l G a u l
Murid itu terdiam dan tidak menjawab pernyataan profesor yang hipotetis. Maka, sang profesor, merasa puas dengan diri sendiri, menyatakan dengan sombong di kelas itu bahwa dia telah membuktikan sekali lagi bahwa keyakinan orang-orang Kristiani adalah sebuah dongeng.
Murid lain mengangkat tangannya dan berkata, ”Bolehkah saya bertanya satu pertanyaan, Profesor?”
“Tentu,” jawab profesor itu.
Murid itu berdiri dan bertanya, ”Profesor, apakah dingin itu ada?
“Pertanyaan macam apa itu? Tentu dingin ada. Tidak pernahkah kamu kedinginan?”
Murid-murid yang lain tertawa terbahak-bahak mendengar pertanyaan pemuda itu.
Kemudian pemuda itu menjawab, ”Dalam kenyataannya, Pak, dingin itu tidak ada. Menurut hukum fisika, apa yang kita anggap dingin, dalam kenyataannya adalah ketakhadiran panas. Setiap orang atau benda mudah dipelajari ketika ia (benda atau orang tersebut) memiliki atau memancarkan energi, dan panaslah yang membuat tubuh atau zat memiliki atau memancarkan energi. Suhu nol mutlak (-460 F) adalah
Sirot Fajar | 63
ketakhadiran mutlak dari panas (keadaan di mana panas benar-benar tidak ada); dan semua zat menjadi lembam dan tidak mampu bereaksi pada suhu itu. Dingin itu tidak ada. Kita telah menciptakan kata ini untuk menerangkan bagaimana kita merasakan jika kita tidak memiliki panas.”
Murid itu melanjutkan, ”Profesor, apakah kegelapan itu ada?”
Dan profesor itu menjawab, ”Tentu, kegelapan itu ada.”
Murid itu menjawab, “Sekali lagi Anda salah, Pak. Kegelapan juga tidak ada. Kegelapan dalam kenyataannya adalah ketakhadiran cahaya. Kita dapat mempelajari cahaya, tetapi tidak dengan kegelapan. Dalam kenyataannya, kita dapat menggunakan prisma Newton untuk menguraikan cahaya putih ke dalam beberapa warna dan mempelajari berbagai panjang gelombang dari tiap warna. Anda tidak dapat mengukur kegelapan. Suatu sinar cahaya yang sederhana dapat mendobrak/menembus suatu dunia yang gelap dan meneranginya. Bagaimana Anda dapat mengetahui seberapa gelap suatu ruang tertentu? Anda mengukur jumlah cahaya yang ada. Tidakkah ini benar? Kegelapan
64 | C a t a t a n M a s ’ u l G a u l
adalah istilah yang digunakan oleh manusia untuk menjelaskan apa yang terjadi ketika tidak ada cahaya.”
Akhirnya pemuda itu bertanya kepada profesor, “Tuan, apakah kejahatan itu ada?”
Sekarang dengan tidak yakin, profesor menjawab, “Tentu, seperti yang telah saya katakan. Kita menyaksikannya setiap hari. Kejahatan ada dalam contoh sehari-hari seperti kekejaman manusia terhadap manusia lainnya. Ia ada dalam kejahatan kriminal dan kekerasan di mana-mana di dunia ini. Perwujudan-perwujudan ini tidak lain adalah kejahatan.”
Terhadap jawaban profesor itu, sang murid menjawab, “Kejahatan itu tidak ada, Pak, atau paling tidak, kejahatan tidak ada dengan sendirinya. Kejahatan sebenarnya adalah ketakhadiran Tuhan. Kejahatan persis seperti kegelapan dan dingin, suatu kata yang telah diciptakan manusia untuk menerangkan ketidakhadiran Tuhan. Tuhan tidak menciptakan kejahatan. Kejahatan diakibatkan ketika manusia tidak memiliki kasih Tuhan dalam hati mereka. Ia seperti dingin yang datang ketika tidak ada panas, atau kegelapan yang hadir ketika tidak ada cahaya.”
Sirot Fajar | 65
Akhirnya, profesor itu terduduk dan bertanya, “Anak muda, siapakah Anda?”
“Pak, nama saya Einstein, Albert Einstein.“
Ketika saya membaca kisah Einstein dan professor tersebut di beberapa web/blog yang saya temui, saya kemudian merenung, mencoba merangkai penjelasan dari ayat-ayat al-Quran. Maka teringatlah saya dengan sebuah ayat yang termaktub dalam Surah Al-Isra’ ayat 81:
“Dan katakanlah: ‘kebenaran telah datang dan yang batil telah lenyap.’ Sungguh, yang batil itu pasti lenyap.” (Qs. Al-Isra’ [17]: 81)
Kapankah kebatilan itu akan pergi? Ya, ketika kebenaran itu datang. Selama kebenaran itu belum datang, maka kebatilan pasti akan terus ada dan tetap eksis. Sebab, sebagaimana penjelasan Einstein, kebatilan itu berarti ketiadaan kebenaran. Andai saja ada kebenaran, maka tiada
Jika dihadapkan dengan kegelapan, jangan pernah mengutuknya. Sebab, mengutuk kegelapan tidak akan membuatnya menjadi terang.
66 | C a t a t a n M a s ’ u l G a u l
kebatilan. Disinilah tugas aktivis dakwah: membawa cahaya kebenaran untuk mengusir gelapnya kebatilan.
Jika dihadapkan dengan kegelapan, jangan pernah mengutuknya. Sebab, mengutuk kegelapan tidak akan membuatnya menjadi terang. Yang perlu kita lakukan hanyalah menyalakan cahaya. Sekecil apapun itu. Kita tak perlu mendatangkan bulan atapun menerbitkan matahari untuk mengusir gelapnya malam saat lampu padam. Kita hanya perlu menyalakan lilin. Demikian juga dengan dakwah ini. Kita hanya perlu menyalakan lilin dakwah untuk mengusir gelapnya kebatilan.
Bersediakah kau menyalakannya?
Sirot Fajar | 67
"Sesungguhnya Allah akan senantiasa menolong hambanya, selama hamba itu mau menolong saudaranya," begitu kata Nabi.. Apalagi jika seorang itu menolong agama Allah. Maka Allah pasti lebih akan menolongnya.. Yuk semangat berdakwah.. :)
Status FaceBook
68 | C a t a t a n M a s ’ u l G a u l
Ssstt,,, Jangan Diam…!!!
“Sama seperti besi yang bisa berkarat karena didiamkan, maka berdiam diri bisa merusak kesehatan”
--Leonardo da Vinci--
Ungkapan “Diam adalah Emas” ternyata tidak hanya populer di Indonesia. Di negara-negara lain, semisal Inggris dan Maroko, ternyata peribahasa itu pun cukup dikenal. Namun, ‘diam’ hanya akan benar-benar menjadi ‘emas’ jika diam dari ungkapan dan hal yang tidak bermakna. Ada saat di mana kita harus diam dan ada saat-saat lain yang kita harus bersuara dan bergerak.
Dalam perkataan, kita harus diam jika kita tidak bisa mengucapkan perkataan yang baik. “Barang siapa yang beriman dengan Allah dan hari akhir,” kata Rasulullah, “Maka hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” Dan kita harus berbicara untuk menyampaikan kebenaran; untuk menyampaikan kabar dan peringatan Allah swt.; untuk berda’wah kepada Allah.
Sirot Fajar | 69
Para sastrawan itu mampu merangakai kata yang begitu indah kita dengar. Ungkapan para penyair itu pun mampu menghanyutkan kita bagai angin yang semilir. Mereka mampu merangkum pesan dalam kata-kata yang ringkas dan cerdas. Namun kita bisa mengalahkan mereka. Kita bisa memiliki perkataan dan ucapan yang lebih baik nilainya dari pada para penyair dan sastrawan. Kita bisa mengalahkan mereka jika kita berda’wah. “Dan siapakah yang lebih baik perkataannya dari pada orang yang menyeru kepada Allah dan mengerjakan kebaikan…” (Fushilat [41]: 33).
Kita sering sekali tidak bisa diam dalam perkataan, dimana kita kesulitan mengurangi kicau yang tidak beraturan. Sehingga bualan kita kehilangan arah dan makna. Namun di balik itu, kita sering kali berdiam diri tidak melakukan apa-apa. Inilah yang harus dibalik agar bagaimana kita bisa sedikit dalam perkataan, namun diri ini tak bisa diam dalam berbuat kebaikan. Atau meminjam istilahnya iklan rokok, kita harus Talk Less Do More.
Dalam tindakan, kita harus terus bergerak. Jangan sampai kita berdiam diri. “Sama seperti besi yang bisa berkarat karena didiamkan, maka berdiam diri bisa merusak
70 | C a t a t a n M a s ’ u l G a u l
kesehatan,” kata Leonardo da Vinci. Dunia ini berubah karena bergerak. Untuk menjaga stabilitasnya, alam semesta ini pun bergerak. Dan peradaban manusia terus berkembang karena orang-orang yang bergerak. Karenanya, “Diam tak selalu emas,” kata Herry Nurdi. Kita harus bergerak. Jika gerak adalah tanda orang yang masih hidup, maka berdiam diri adalah tanda bagi orang yang sudah mati. Kalau tidak mati fisiknya, maka sebenarnya ia telah mati antusiasmenya..
Akhirnya, jangan pernah diam. Sampaikanlah kebenaran dan teruslah berbuat kebajikan yang bermanfaat bagi diri dan ummat. Karena di antara tanda kebagusan keislaman seseorang adalah meninggalkan apa-apa yang tidak bermanfaat. Berbuatlah…!!! Karena Allah juga menyuruh kalian untuk terus berbuat, “Bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu, begitu juga Rasul-Nya dan orang-orang mukmin…” (at-Taubah [9]: 105)
11 Rabiul Awal 1432 H.
Sirot Fajar | 71
ALLAH menegaskan bahwa al-falaah (ke-MENANG-an) adalah ketika kita selalu memperbaiki, menata dan membersihkan hati.. Sedangkan kerugian adalah ketika kita membiarkan hati kotor, mendiamkan penyimpangannya dan mengabaikan noda yang ada di dalamnya.. "Sungguh telah MENANG orang yang mensucikan (hati)nya dan telah rugi orang yang mengotori (hati)nya." (Qs. Asy-Syams: 9-10).. Mari kembali luruskan niat kita.. Hayya 'alal falaah.. Mari kita sambut kemenangan Da'wah Kampus…
Status FaceBook
72 | C a t a t a n M a s ’ u l G a u l
Sakinah dalam Perjuangan
Kalau ada kata ‘sakinah’, apa yang terbesit dalam pikiran Anda?
Saya yakin bahwa hal tersebut adalah ‘nikah’.
Tetapi, biarpun belum nikah, bisa kog kita menggapai sakinah.. hehe..
Emang apa sih sakinah itu? Secara sederhana, sakinah bisa berarti ketenangan. Antonim dari guncang & gerak. Tempat kita menenangkan diri dari berbagai aktivitas pun disebut Maskan. Rumah..
Jika kita menelisik kata sakinah dalam al-Quran, kita akan menjumpai bahwa kata sakinah terulang sebanyak enam kali. Keenam ayat itu terdapat pada Al-Baqarah [2] ayat 248; At-Taubah [9] ayat 26 & 40; dan Al-Fath [48] ayat 4, 18, 26.
Dalam konteks apa saja keenam kata sakinah tersebut diturunkan? Silahkan dibuka al-Quran masing-masing, untuk sekalian belajar tafsir maudhu’i (tematik).. :-)
Nah, dalam kesempatan kali ini, mari kita buka Surah At-Taubah ayat 25-26:
Sirot Fajar | 73
“...dan bumi yang luas itu telah terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari kebelakang dengan bercerai-berai. Kemudian Allah menurunkan KETENANGAN (sakinah) kepada Rasul-Nya dan kepada orang-orang yang beriman, dan Allah menurunkan bala tentara yang kamu tiada melihatnya, dan Allah menimpakan bencana kepada orang- orang yang kafir, dan demikianlah pembalasan kepada orang-orang yang kafir...”
Dalam ayat tersebut, Allah menurunkan sakinah kepada orang-orang beriman yang tetap menyertai Rasulullah berperang; yang tetap bertahan di medan pertempuran; yang tidak melarikan diri di saat yang lain kocar-kacir meninggalkan medan Hunain..
Pada peperangan yang terjadi pada tahun kedelapan hijriah tersebut, ada sebagian kaum muslimin yang berbangga dengan jumlah mereka yang banyak. Terlebih
jika kau ingin memeroleh sakinah, teruslah bertahan di jalan dakwah ini. Teruslah bertahan di medan perjuangan ini. Semoga dengannya Allah berkenan turunkan sakinah-Nya kepada kita.
74 | C a t a t a n M a s ’ u l G a u l
peperangan itu terjadi hanya berselang beberapa hari usai penaklukan kota Makkah (fathu makkah). Maka ketika ada seorang sahabat yang dengan semangat meneriakkan, “Kali ini kita tidak terkalahkan!”, para sahabat yang lain pun sepakat membenarkannya.
Akan tetapi, kenyataan yang terjadi di medan pertempuran berbeda dengan bayangan yang mereka angankan. Pasukan kaum muslimin yang berjumlah 12.000 ternyata kocar-kacir menghadapi musuh yang hanya berjumlah 4.000 pasukan. Dari 12.000 pasukan itu, hanya tersisa tidak lebih dari 300 orang yang bertahan. Kepada orang yang bertahan di medan pertempuran inilah Allah karuniakan kepada mereka Sakinah, yang membuat mereka tenang; tidak gentar menghadapi musuh dan berhasil mengubah kekalahan menjadi kemenangan gemilang.
Demikianlah... Sakinah Allah turunkan, salah satunya, kepada orang-orang yang tetap bertahan di medan pertempuran..
Akhirnya, jika kau ingin memeroleh sakinah, teruslah bertahan di jalan dakwah ini. Teruslah bertahan di medan
Sirot Fajar | 75
perjuangan ini. Semoga dengannya Allah berkenan turunkan sakinah-Nya kepada kita..
Jika kau tetap merasa berat bertahan di medan dakwah ini, mungkin kau perlu segera berdiri dan menyenandungkan lagu Maydani yang terinspirasi dari kata-kata Umar bin Khathab dengan lantang:
Bila ada 1000 mujahid, aku lah 1 di antaranya..
Bila ada 100 mujahid, aku lah 1 di antaranya..
Bila ada 10 mujahid, aku lah 1 di antaranya..
Bila ada seorang mujahid, aku lah yang menggenggamnya...
*)Catatan: Jumlah pasukan dalam perang Hunain ini ada beberapa riwayat. Jumlah di atas mengambil dari riwayat yang ada di tafsir jalalain. Satu hal yang pasti adalah jumlah pasukan muslim saat itu lebih banyak dari pasukan musuh..
76 | C a t a t a n M a s ’ u l G a u l
Oh, you hate your job? Why didn't you say so? There's a support group for that. It's called EVERYBODY Kamu benci pekerjaanmu? Bilang Saja! Ada perkumpulannya kog. Nama perkumpulannya: SEMUA ORANG (Drew Corey, Komedian Amerika)
Kamu merasa berat dengan amanah yang diberikan padamu? Kamu merasa terbebani dengan tugas yang ada? Ternyata itu bukan hanya kamu saja. Tapi hampir semua orang juga merasakan hal sama. Tetapi kita selalu punya pilihan untuk melakukan yang terbaik.. Jika kita LILLAH, insya Allah tak ada kata lelah..
Status FaceBook
Sirot Fajar | 77
Yang Mengajak, Yang Menyampaikan…
dakwah yang tenang,
namun lebih gemuruh dari tiupan angin topan yang menderu…
dakwah yang rendah hati,
namun lebih perkasa dari keangkuhan gunung yang menjulang…
dakwah yang terbatas,
namun jangkauannya lebih luas dari belahan bumi seluruhnya…
(Hasan Al-Banna, Majmu’atur Rasa’il)
Beberapa waktu lalu, saya mendapat SMS dari seorang adik, “Kak, menurut pean di MY Club ini kita bener-bener berda’wah gak? Cukup rumit menjelaskannya karena da’wah yang telah saya pelajari adalah da’wah yang terjun benar-benar ke masyarakat”
Di tengah keasyikan berpikir untuk menjawab tanya itu, saya jadi teringat dengan pertanyaan yang pernah saya lontarkan ke para senior. Waktu itu adalah forum sharing yang kami lakukan bersama para senior. Waktu itu saya bertanya, “Sebenarnya kita ini aktivis atau pasivis da’wah? Kalau benar-benar ‘aktif’ kenapa kita lebih mirip dengan seorang yang ‘pasif’. Kita berangkat kajian, halaqoh dll, dan
78 | C a t a t a n M a s ’ u l G a u l
di sana kita mendengar taujih ustadz. Yang aktif kan ustadnya (karena menyampaikan), sementara kita adalah orang yang pasif (karena hanya mendengar). Jadi lebih pantes disebut pasivis da’wah..”
Ah, saya juga lupa dengan jawaban para senior dulu. Karena saya tanya hanya sekedar tanya. Saya tanya karena pada waktu itu disuruh tanya. Itu saja, tidak lebih juga tidak kurang, Persis seperti mahasiswa yang bersekongkol dengan temannya untuk bertanya saat salah satu di antaranya presentasi. Agar mendapat nilai keaktifan.. (jika ada yang merasa, afwan nggeh.. Hehe…)
Da’wah Kampus Vs Da’wah Kampung
Sebenarnya tidak ada perbedaan yang prinsipal antara da’wah kampus dan da’wah kampung. Hanya saja sasaran antara keduanya lah yang berbeda. Sasaran da’wah kampus adalah civitas akedemika yang meliputi: mahasiswa, dosen, dan karyawan. Dan jika memungkinkan baru melebarkan ranahnya ke masyarakat sekitar. Sementara sasaran da’wah kampung adalah masyarakat secara umum. Perbedaan obyek da’wah inilah yang menjadikan lingkup kegiatan antara da’wah
Sirot Fajar | 79
kampus dan da’wah kampung berbeda. Afwan, agar pembahasannnya tidak melebar, apa saja perbedaan lingkup kegiatan antar keduanya monggo untuk dibuka di buku-buku da’wah secara umum dan da’wah kampus.
Di antara salah satu tujuan da’wah kampus adalah Membentuk dan me-suplai alumni yang berafiliasi kepada Islam serta optimalisasi peran kampus dalam mentransformasi masyarakat menuju masyarakat islami (lihat dalam buku-buku da’wah kampus seperti: Risalah Manajemen Dakwah Kampus [tim SMPN FSLDK Indonesia], Menuju Kampus Madani [Ridwansyah Yusuf Achmad], Menuju Kemenangan Dakwah Kampus [Ahmad Atian])
Da’wah kampus lebih mirip sebagai ‘kawah candradimuka’ yang berusaha untuk mentransformasi individu-individu yang pada awalnya belum memiliki kompetensi apa-apa menjadi individu-individu yang memiliki kompetensi keislaman yang tinggi, profesional, intelek, dan siap melakukan amal da’awi (Lihat Risalah Manajemen Dakwah Kampus, hlm: 70). Singkat kata, da’wah kampus adalah tempat pembelajaran agar nantinya ketika mahasiswa telah terjun ke masyarakat (baca: Kampung) bisa
80 | C a t a t a n M a s ’ u l G a u l
menjalankan amal da’awi. Pada mulanya adalah kampus dan pada akhirnya adalah kampung..
Antara Da’wah dan Tabligh
Dulu ketika masih di pesantren, saya beranggapan bahwa seorang da’i adalah orang yang sering berceramah: tiap hari kultum, tiap pekan khutbah jumat, tiap bulan kajian rutin, dan tiap tahun kajian akbar, hehe.. Namun, seiring berjalannya waktu akahirnya saya pun sadar bahwa alangkah sempitnya jika da’wah hanya dipahami dengan memberi ceramah saja. Alangkah terbatasnya kerja da’wah jika seorang itu baru disebut da’i jika ia telah naik mimbar..
Secara bahasa da’wah berasal dari kata da’aa-yad’uu yang berarti mengajak atau menyeru. Dan di antara salah satu media da’wah yang sering digunakan adalah dengan ’menyampaikan secara langsung’ melalui kajian, ceramah, dll. Dari sini lah kemuadian kita mengenal istilah tabligh. Secara bahasa tabligh berasal dari ballagho-yuballighu-tabliighon yang berarti menyampaikan. Hal ini menimbulkan persepsi bahwa da’wah adalah ceramahnya seseorang di atas mimbar
Sirot Fajar | 81
atau di depan jemaah banyak; seorang baru bisa disebut da’i ketika ia telah bisa berceramah dan naik mimbar.
Alangkah sempitnya jika da’wah dimaknai hanya sebatas kegiatan tabligh saja. Padahal da’wah bisa dilakukan kapan saja dan di mana saja. Paling tidak, kalau pun toh kita belum bisa berda’wah kepada banyak orang, kita masih bisa berda’wah pada diri kita sendiri (da’wah nafsiah), atau juga bisa melakukan da’wah fardiyah (orang per orang). Selain itu media da’wah pun bisa dilakukan dengan menulis, dll..
Yang Mengajak dan yang Menyampaikan..
Fokus da’wah kita adalah mengajak orang untuk berbuat kebajikan dan menyampaikan kebenaran islam ke semua manusia. Dalam riwayat Bukhori, Ibnu Mas’ud mengisahkan, “Rasulullah selalu memberikan mau’idzah kepada kami beberapa hari sekali, karena khawatir akan menimbulkan kebosanan pada diri kami.” Ini menunjukkan pada kita bahwa Rasulullah lebih banyak memberi contoh dalam kehidupan nyata dari pada sekedar berbicara. Rasulullah menyampaikan kebenaran islam lebih banyak dengan amal perbuatan. Sebab, sebagaimana kata hikmah,
82 | C a t a t a n M a s ’ u l G a u l
lissanul haal afshhohu min lisaani maqool.. Bicara dengan kenyatan lebih dahsyat pengaruhnya dari pada sekedar untaian kata-kata..
Akhirnya kader da’wah sejati bukanlah orang yang pintar retorika dan merangkai kata-kata saja. Namun kader da’wah sejati adalah orang yang berusaha memenuhui seluruh fikirannya dengan perjuangan, seluruh ucapannya dengan hikmah dan kebajikan, dan seluruh amalnya dengan kemanfaatan untuk umat dan orang sekitarnya. Ia mengajak kebaikan dengan lisannya, dan menunjukkan kebenaran islam dengan pesona akhlaknya..
Jum’at 6 Muharrom 1433 H, Usai sholat Jum’at,
Saat hujan mengguyur Lidah Wetan, yang genangan airnya menembus genteng Ma’had Zam-zam..
Hmm.. Saatnya untuk ngepel lagi..;-)
Sirot Fajar | 83
Mungkin mimpi kita untuk memenangkan dakwah kampus ini terlalu tinggi jika melihat kondisi saat ini. Namun jangan sampai kita menyerah sebelum bertanding.
Jangan sampai untuk sekedar bermimpi saja kita tidak memiliki kesabaran.
Mungkin juga jalan dakwah ini memang benar-banar berat. Namun jangan sampai kondisi ini melumpuhkan semangat kita untuk terus berjuang.
Jangan sampai kita seperti yang dikatakan Sayyid Quthb, “KAU MULAI JEMU BERJUANG, LALU KAU TANGGALKAN SENJATA DARI BAHUMU????”
Status FaceBook
84 | C a t a t a n M a s ’ u l G a u l
Sampaikan Kebaikan, Meskipun Belum Melaksanakannya
“Seandainya seseorang tidak boleh memerintahkan kebaikan dan mencegah kemungkaran sehingga ia menjadi orang yang bersih dari semua dosa, maka tidak ada seorang pun yang memerintahkan kebaikan dan mencegah kemungkaran.”
(Sa’id bin Zubair)
Anak kecil itu membaca surat An-Nashr. Begitu merdu ia membaca. Apalagi logat kekanak-kanakannya semakin membuat semua orang yang melihatnya menjadi gemas. Idha jaa’a nashrullahi wal fath, begitu ia membaca. Al-Hajjaj bin Yusuf dan orang-orang yang melihatnya pun semakin kagum. Tapi mereka mendadak ricuh ketika anak kecil itu membaca ayat berikutnya, wa ra’aita an-naasa yahrujuuna fii diinillahi afwaaja. Ia mengganti kata yadhuluuna (mereka semua masuk) menjadi yakhrujuuna (mereka semua keluar). Sehingga ayat kedua dari surat Al-Ashr itu pun artinya
Sirot Fajar | 85
berubah menjadi: Dan kamu melihat manusia berbondong-bondong keluar dari agama Allah.
“Hai anak kecil, bacaanmu keliru. Yang benar adalah, wa ra’aita an-naasa yadhuluuna fii diinillahi afwaaja,” Begitu Al-Hajjaj bin Yusuf, seorang panglima yang kejam dan dzolim pada masanya itu, mencoba membenarkan bacaan anak kecil itu.
Tapi anak kecil itu dengan tegas dan keras mengatakan, “Tidak! Bacaanku benar, dan engkau lah yang salah. Memang, dahulu mereka berbondong-bondong masuk islam, tapi kini mereka semua berbondong-bondong keluar dari agama islam, sebab kedzolimanmu.”
Ketika membaca kisah tersebut di cover belakang buku Da’i-da’i Cilik yang ditulis Syekh Nashir Asy-Syafi’i (judul asli Al-Athfaal lakin du’at), saya pun tidak bisa menahan diri untuk tidak membeli buku tersebut. Ternyata, yang kita lakukan selama ini belum lah seberapa. Terlalu naif jika membandingkan apa yang kita lakukan dengan yang dilakukan anak itu. Di usia kita yang entah berapa, dakwah yang kita lakukan ternyata masih jauh jika dibanding dengan
86 | C a t a t a n M a s ’ u l G a u l
anak kecil itu. Paling tidak ada beberapa hal yang menjadikan anak kecil itu lebih unggul dari kita.
Pertama, usia. Di usia yang begitu belia, anak itu telah mulai berdakwah. Coba bandingkan dengan kita, umur berapakah kita mulai berdakwah?? Umumnya kita mengenal aktivitas dakwah itu saat mulai beranjak dewasa, bahkan ada yang lebih tua lagi. Memang, dalam buku tersebut penulisnya tidak menyebut usia anak kecil itu. Tapi dalam Psikologi perkembangan, seseorang itu masih disebut anak-anak jika usia belum lebih dari 12 tahun.
Kedua, objek atau sasaran dawah. Kepada siapa biasanya kita berdakwah? Umumnya kita masyarakat biasa atau rekan sesame. Ke pemimpin? Mungkin pernah, tapi itu pun kebanyakan melalui demontrasi. Coba kita bandingkan dengan anak kecil itu. Di usia yang begitu belia, ia berani melakukan dakwah ke pemimpin yang dzolim lagi kejam.
Ketiga, bekal dakwah. Di usia yang begitu belia, anak itu telah hafal al-Qur’an. Coba bandingkan dengan kita, berapa ayat yang telah kita hafalakan. Bahkan hafalan penulis sendiri juga masih sangat sedikit. Mungkin di antara kita ada yang hafal, tapi ketika hafal usia kita mungkin tidak
Sirot Fajar | 87
sebelia anak tersebut. Sekali lagi kita kalah dengan anak kecil tersebut.
Kisah di atas hanyalah cermin bagi kita. Agar kita tergugah untuk mulai berdakwah. Atau kalau sudah mulai meniti jalan dakwah agar lebih semangat dalam berdakwah. Jangan sampai karena kisah tersebut kita justru membuat kita lemah dalam berdakwah. Lemah karena merasa tidak pantas untuk berdakwah. Percayalah bahwa kita pun harus berdakwah, karena:
Pertama, maa laa yudroku kulluhu fa laa yutroku kulluhu, begitu kata koidah ushul fiqih yang ke-33 dalam buku Mabaadi Awwaliyah yang ditulis Abdul Hamid Hakim. Artinya: “Sesuatu yang tidak bisa kita lakukan semuanya maka jangan ditinggal semuanya.“ Misal, ada seseorang yang jumlah tanggungannya itu lima orang. Ketika waktu pembayaran zakat fithr ia pun harus membayar untuk lima orang. Tapi ternyata ia hanya sanggup membayar untuk tiga orang saja. Maka yang tiga itu harus ia bayarkan. Tidak bisa ia meninggalkan semuanya atau tidak membayar zakat sama sekali hanya gara-gara kurang dua orang saja.
88 | C a t a t a n M a s ’ u l G a u l
Begitu pun kita dalam berdakwah. Ketika kita baru sadar untuk berdakwah di usia senja, maka itu pun tidak jadi so’al. Jangan sampai karena berdalih “sudah terlalu tua” atau “sudah terlanjur tidak berdakwah,” kemudian kita tidak berdakwah sepanjang hidup kita. Tidak ada kata terlambat dalam berdakwah. Justru kita harus super semangat untuk mengejar ketertinggalan kita dalam menapaki jalan dakwah.
Kedua, Laa yukallifullaha nafsan illa wus’ahaa, begitu kata Allah sebagaimana yang termaktub dalam surat al-Baqarah. Allah tidak membebani seseorang melebihi kesanggupannya. Kalau kita hanya sanggup berdakwah kepada teman-teman kita sendiri, maka mari kita lakukan hal itu dengan sungguh-sungguh. Tapi jangan sampai kita tidak meningkatkan kualitas diri dan dakwah kita karena berdalih dengan ayat tersebut. Sesuai kesanggupan kita adalah batas maksimum dari kemampuan kita; sesuai dengan usaha maksimum yang kita lakukan. Jika kita belum berusaha maksimal, maka jangan sekali-kali berdalih dengan ayat tersebut.
Ketiga, ballighuu ‘anni wa lau aayatan. Sampaikanlah dariku walaupun satu ayat, begitu pesan Rasulullah. So, biar
Sirot Fajar | 89
pun ilmu kita tidak seberapa, sampaikanlah!! Kalau kita menunggu pintar baru berdakwah, emang kapan kita pintar? Imam Ghozali bahkan mengatakan, “Siapa yang mengatakan dirinya telah mengetahui, sebenarnya dia termasuk orang yang bodoh.” Segera berdakwah, InsyaAllah ilmu yang kita miliki pun akan ditambah oleh Allah.
Ada satu hal yang cukup sering digunakan orang untuk tidak melakukan dakwah. Yaitu merasa masih banyak kekurangan, banyak melakukan kesalahan dan dosa, serta sering melalaikan kewajiban agama. Padahal, sebagai manusia yang tidak ma’shum, kita semua pasti pernah melakukan kesalahan dan banyak berkurang. Keengganan itu sering kali diperkuat dengan firman Allah yang belum dipahaminya secara benar:
“Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaktian, sedang kamu melupakan diri (kewajiban) mu sendiri, padahal kamu membaca Al Kitab (Taurat)? Maka tidaklah kamu berpikir?” (Al-Baqarah [2]: 44)
“Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar
90 | C a t a t a n M a s ’ u l G a u l
kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan”. (Ash-Shaff [61]: 2-3)
Suatu ketika seorang berkata kepada Al-Hasan, “Sesungguhnya Fulan tidak mau memberi nasihat seraya berdalih, ‘Aku takut mengatakan sesuatu yang tidak aku laksanakan.’”
Al-Hasan menjawab, “Siapa kah di antara kita yang yang mampu melaksanakan apa-apa yang ia katakan? Setan ingin menguasai orang ini, sehingga tidak ada seorang pun yang akan memerintahkan kebaikan dan mencegah kemungkaran.”
Al-Hasan benar. Jika kita menunggu baik untuk memulai berdakwah, mungkin di dunia ini tidak ada orang yang berdakwah. Dalam sebuah riwayat Rasulullah bersabda, “Perintahkanlah yang ma’ruf meskipun kamu belum mengamalkannya, dan cegahlah kemungkaran meskipun kamu belum meninggalkan seluruhnya.” (Dihasankan Imam As-Suyuthi dalam Al-Jami’ush Shaghir [8177] diriwayatkan dari banyak jalur di antaranya riwayat Ibnu Abi Dunya dari Abu Hurairah dan riwayat Thabrani dari Anas. Masing-masing memiliki kelemahan, namun riwayat itu naik ke peringkat
Sirot Fajar | 91
hasan lighoirihi sebab saling menguatkan. Arba’in Da’awiyah no: 13)
Memerintah pada kebaikan dan mencegah kemungkaran adalah suatu kewajiban seorang Muslim. Begitu pun dengan mengerjakannya. Sebagaimana koidah ushul fiqih di atas, maka kita tidak bisa meninggalkan salah satunya, dengan beralasan belum bisa melakukan keduanya. Lebih baik kita melakukan salah satunya dari pada tidak melakukan kedua-duanya.
Akhirnya, bagaimanapun kondisi kita, jika kita senantiasa memerintah pada kebaikan dan mencegah kemungkaran, serta memberikan nasihat pada orang lain, maka kita akan lebih berpeluang untuk menjadi lebih baik. Sebab, sebagaimana Kulwit @salimafillah, “Menjadi da’i adalah memperbaiki diri; agar lebih mudah dinasihati; sebab telinga sendiri lebih dekat dari pada milik sesama.”
“Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani (orang-orang yang sempurna ilmu dan ketakwaannya kepada Allah), karena kamu selalu mengajarkan Al Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya” (Ali ‘Imraan [3]: 79)
92 | C a t a t a n M a s ’ u l G a u l
Anyone who doesn't take trust seriously in small matters cannot be trusted in large ones either.. Siapa yang tidak memandang serius kepercayaan dalam skala kecil, tidak bisa dipercaya untuk skala besar.. --Albert Einstein-- Termasuk dalam hal ini adalah amanah... Sekecil apapun amanah yang diberikan kepada kita, biar pun keliatannya ndak penting, yang jika kita acuhkan tampak tidak masalah, tetap saja kita harus menjalankannya dengan sebaik-baiknya..
Status FaceBook
Sirot Fajar | 93
Mengubah Dunia Dengan Cinta..
“Perdamaian adalah maslahat kemanusiaan yang agung. Tapi manusia tidak selalu mencintainya sejak awal”
--Anis Matta--
Ah, tidak perlu saya jelaskan mengenai kondisi dunia hari ini. Saudara tentu sudah melihat dan mendengarnya. Baik itu secara langsung, maupun lewat televisi, surat kabar, internet dan media lainnya. Dan saya yakin saudara adalah orang yang cerdas, sehingga sudah bisa menyimpulkan, bagaimana dengan kondisi dunia hari ini..
Tapi, tahukah engkau wahai saudaraku, kondisi yang ada sekarang ini, dapat diubah dengan satu kata: cinta. Ya, cinta. Sebuah kata yang sudah terlalu sering kita dengar. Biar pun tidak semua di antara kita memahami apa cinta itu sebenarnya. Dan ‘cinta’ yang akan kita bahas disini paling tidak ada dua makna.
Pertama: cinta dalam arti yang sebenarnya. Andai ada cinta di hati pemimpin, maka ia akan melakukan apa saja untuk mensejahterakan rakyatnya. Andai ada cinta di hati
94 | C a t a t a n M a s ’ u l G a u l
rakyat, maka mereka akan taat dan patuh pada pemimpin mereka. Andai ada cinta di hati orang kaya, maka mereka akan memberikan hak orang miskin sesuai dengan semestinya. Andai ada cinta di antara kita, maka orang tidak akan merampok, mencuri, mengkorupsi dan berbagai kedholiman terhadap hak orang lain. Sebab, orang yang mencintai akan senantiasa berusaha membahagiakan orang yang dicintainya; orang yang mencintai akan terus memberi, memberi, dan memberi kebaikan pada orang yang dicintainya. Dan bukan sebaliknya.
Kedua: cinta yang berarti da’wah. Syaikhut Tarbiyah KH Rahmat Abdulllah mengatakan, “Dakwah adalah cinta”. Dan memang, da’wah adalah salah satu wujud cinta kita pada sesama. Karena, dengan da’wah itu kita berarti mengajak kebaikan pada saudara kita; dengan da’wah itu kita mencegah saudara kita untuk berbuat kenistaan; dengan da’wah berarti kita peduli dengan saudara kita. Dengan dakwah itu berarti kita—meminjam istilahnya Ust.Salim—mengambil cinta dari langit, lalu menebarkannya ke bumi.
Kita tidak akan bisa berda’wah kalau tidak ada cinta dalam hati kita. Ketika ada cinta dalam hati ini, maka
Sirot Fajar | 95
perasaan dalam hati menjadi lembut, kata yang terucap pun menjadi indah, dan perilaku pun menjadi mempesona. Dalam keadaan seperti itulah da’wah yang kita serukan akan menjadi lebih mudah diterima. Sebab, sebagaimana tercantum dalam suran Ali ‘Imraan ayat 159, “Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.” Maka benarlah kata Rumi:
Jalan para nabi kita adalah jalan cinta
Kita adalah anak-anak cinta
Dan cinta adalah ibu kita..
Dalam suasana apapun, jadi lah kita orang-orang yang penuh cinta. Jadilah kita para penebar cinta di muka bumi ini. Bahkan di saat peperangan pun kita harus tetap menjadi orang yang penuh cinta. "Akan kami perangi mereka dengan cinta," begitu kata Hasan Al Banna. Sebab hanya dengan cinta lah kita bisa membangun dunia ini.
Akhirnya, Mari kita bangun dunia ini dengan cinta..
Aku mencintai kalian… ^_^
96 | C a t a t a n M a s ’ u l G a u l
Sedikit Renungan Dalam buku Risalatun ilal Amiin, Ustadz Jasim Muhalhil mencoba menguraikan sebab-sebab mundurnya seseorang dari gelanggang dakwah. Salah satunya adalah KESOMBONGAN.. Bagimana bentuk kesombongan dalam konteks dakwah? Dalam tulisannya di Majalah UMMI, Ust Tete Qomaruddin mencontohkan, di antara bentuk kesombongan dalam konteks dakwah adalah melecehkan seseorang yang sudah dimusyawarahkan menjadi pemimpin dakwah dengan mengatakan, “Mengapa harus dia yang jadi pemimpin? Apa yang membuatnya layak untuk itu? Untuk apa aku melaksanakan program-programnya yang dangkal dan tidak realistis?” Mungkin kita pernah melakukan hal itu. Mari beristighfar pada Allah.. Astaghfirullah Rabbal Baraayaa, Astaghfirullah minal khotoo’aa..
Sirot Fajar | 97
Bagian 4
Semangat Pembelajaran
“Orang-orang yang berhenti belajar akan menjadi pemilik masa lalu | Orang-orang yang terus belajar akan menjadi pemilik masa depan.”
--Mario Teguh--
“Orang-orang itu telah melupakan bahwa belajar tidaklah melulu untuk mengejar dan membuktikan sesuatu, namun belajar itu sendiri, adalah perayaan dan penghargaan pada diri sendiri.”
― Andrea Hirata, Padang Bulan
Ta’allamuu qobla an tasuudu.. Belajarlah kalian sebelum kalian mempin!”
--Umar bin Khatthab--
98 | C a t a t a n M a s ’ u l G a u l
Maaf, Aku Belum Berpengalaman!
“Orang bodoh tidak belajar dari pengalaman,
orang pintar belajar dari pengalaman,
orang bijak belajar dari pengalaman orang lain..”
--Anonim—
“Kepercayaan diri, dibangun dari salah satunya pengalaman. Ini berlaku dalam semua bidang keahlian. Termasuk dalam kancah pergerakan islam.”
–Anis Matta—
“….jika pengalaman artinya suka menghadapi masalah baru dengan cara lama: Bahaya!”
--Salim A. Fillah—
Remaja itu masih terlalu belia ketika tiba-tiba ayahnya yang seorang raja meninggal. Sebagai putra mahkota, maka ia pun kemudian didaulat untuk naik tahta kerajaan. Saat itu usianya 20 tahun. Masih sangat muda.
Sirot Fajar | 99
Baru saja naik tahta, ia menghadapi tantangan yang besar: banyak daerah yang berontak karena menganggap remeh Sang Raja yang masih muda dan belum berpengalaman. Para jendral senior pun mulai khawatir. Maka mereka menyarankan agar Sang Raja melakukan negoisasi dengan para pemberontak. Akan tetapi raja muda ini memilih memerangi para pemberontak.
Singkat cerita, raja muda tersebut berhasil mengatasi pemberontakan. Bahkan, sesaat setelai itu dia mulai memperluas kekuasaan. Dengan 35.000 tentara ia berhasil menaklukkan kerajaan Persia yang selama 2000 tahun berkuasa dan tak terkalahkan. Ia sendiri yang memimpin pasukannya dengan gagah berani.
Tak berhenti sampai disitu, pasa usia 24 tahun ia menaklukkan Mesir tanpa perlawanan. Hanya dalam waktu singkat, kekuasaannya mencakup 3 benua dan berhasil membangun 21 kota baru. Yang mana pencapaiannya ini jauh mengungguli ayahnya dan juga prestasi jendral senior yang berpengalaman.
100 | C a t a t a n M a s ’ u l G a u l
Demikian lah sekelumit kisah Iskandar Yang Agung yang kini dikenal sebagai salah satu penakluk dalam sejarah terbesar dalam sejarah dunia..
Apa rahasia yang menjadikan Iskandar Yang Agung bisa mencapai prestasi yang gemilang? Padahal ia sempat diragukan para jendral senior dan diberontak oleh rakyatnya karena dianggap terlalu muda dan tidak berpengalaman?
Salah satunya adalah pendidikan & pembelajaran. Pada usia 13 tahun, ia berguru langsung pada Aristoteles, filsuf paling terkenal di zamannya bahkan hingga sekarang. Biarpun ia tidak berpengalaman, tetapi ia banyak menyerap banyak pengalaman orang lain sehingga ia tidak perlu mengalami kekalahan seperti pendahulunya, dan ia juga juga banyak belajar bagaimana cara memenangkan pertempuran dari para pendahulunya, bahkan belajar dari para musuhnya.
Seperti tertulis dalam Quote awal tulisan ini, “orang pintar belajar dari pengalaman, orang bijak belajar dari pengalaman orang lain..”, demikianalah seharusnya yang dilakukan para aktivis dakwah. Bahwa pengalam tidak harus mengalami sendiri. Kalau kita bisa mengambil pelajaran dari
Sirot Fajar | 101
pengalaman orang lain, kenapa harus susah-susah mengalami sendiri?
Terkadang seorang itu merasa minder atau tidak mampu ketika belum berpengalaman. Padahal yang terjadi sebenarnya bukanlah ketidakmampuan, tetapi ketidakpercayaan-diri. Ketidakpercayaan diri inilah yang kemudian membuatnya benar-benar tidak mampu.
Seorang yang berpengalaman belum tentu bisa melakukan keberhasilan yang sama di waktu yang lain. Adakalanya justru orang yang tidak berpengalaman berhasil melakukan yang lebih baik, karena ia senantiasa belajar dari pengalaman orang lain.
Dalam mengelola lembaga dakwah fakultas & jurusan misalnya, adakah orang yang sebelumnya sudah berpengalaman? Sangat sedikit sekali. Hampir tidak ada orang yang berpengalaman, karena itu adalah tempat untuk
Adakalanya justru orang yang tidak berpengalaman berhasil melakukan yang lebih baik, karena ia senantiasa belajar dari pengalaman orang lain.
102 | C a t a t a n M a s ’ u l G a u l
mencari pengalam untuk amanah-amanah yang lebih besar. Bahkan, tidak ada presiden yang sebelumnya berpengalaman jadi presiden, kecuali incumbent :p
Akhirnya, tidak ada alasan ‘karena belum berpengalaman’ dalam menjalankan amanah. Yang terpenting adalah komitmen dan kesungguhan dalam menjalankannya. Selebihnya, mintalah pertolongan kepada Allah agar Dia memudahkan dan menguatkan kita dalam menjalankannya..
Sirot Fajar | 103
“Kalau ada kanker yang menggerogoti agama-agama, maka di antaranya bisa berbentuk umat yang hanya berbangga dengan status, tak peduli dengan nilai dan kualitas, lalu menjadikan simbol status itu sebagai gincu saja atau alat justifikasi kezaliman.”
--KH. Rahmat Abdullah—
Nah, kader dakwah pun demikian..
Jangan hanya membanggakan statusmu sebagai aktivis dakwah kampus, tapi buktikanalah dengan kiprah nyata untuk dakwah ini..
Selain itu, tingkatkanlah kualitasmu agar menjadi kader dakwah yang sebenarnya..
Status FaceBook
104 | C a t a t a n M a s ’ u l G a u l
Yang Membuka Hati dan Wawasan
“Jadikan Tarbiyah taman terindah untuk lahirkan bunga-bunga jannah full barokah. Give the BEST Get the BEST. Jadilah pahlawan kebaikan”
(Solikhin Abu Izzuddin, 06/12/09)
Ada satu hal yang membuat saya penasaran ketika pertama kali melihat tayangan video “Jejak-jejak Mimpi” yang dibuat Akh Danang Ambar Prabowo dari IPB. Bukan isinya, tapi ucapan thank to di akhir tayangan yang menginspirasi tersebut. Di antara yang disebut adalah thank to “Tarbiyah, yang telah membuka hati dan wawasanku”.
Pertama kali saya melihat itu saat tahun terakhir di pesantren pada acara sosialisasi kampus yang diadakan para alumni. Sebenarnya sejak memasuki aliyah saya sudah sering mendengar kata tarbiyah. Adalah Ustadz Shobri yang saat itu menjadi ketua IKADI Nganjuk sering bercerita mengenai aktivitas yang dilakukannya: tarbiyah. Sebagai orang pesantren yang kebetulan juga mbak saya kuliah di IAIN Sunan Ampel, sepengetahuan saya tarbiyah adalah
Sirot Fajar | 105
nama salah satu fakultas di IAIN. Itu saja. Sama dengan Fakultas Pendidikan di perguruan tinggi umum, hehe..
Nah, sebenarnya apa sih tarbiyah itu? Mari kita cermati arti kata tarbiyah dari bagian yang paling awal: akar kata. Bagi gerakan yang didirikan Hasal Al-Banna tarbiyah memiliki sedikitnya tiga makna. Sebagaimana diulas Salim A. Fillah dalam buku Saksikan Bahwa Aku Seorang Muslim.
Pertama: Rabaa yarbuu yang berati tumbuh. Tarbiyah menumbuhkan seseorang dari kekanakan ruh, kekanakan akal, dan kekanakan jasad menuju kematangan dan kedewasaan masing-masingnya.
Kedua: Rabiya yarbii yang berarti berkembang. Tarbiyah mengembangkan manusia muslim dalam kemampuan-kemampuan yang dibutuhkannya menjalani kehidupan.
Ketiga:: Rabba yarubbu yang berarti memberdayakan. Ia yang telah tumbuh dan berkembang harus diarahkan untuk berdaya guna.
Intinya, tarbiyah secara bahasa bisa berarti improvement, development, dan empowerment. Lalu apa arti tarbiyah secara istilah?
106 | C a t a t a n M a s ’ u l G a u l
Imam Baidhowi (wafat 685) mengatakan bahwa pada dasarnya ar-rabb itu bermakna tarbiyah yang makna lengkapnya adalah “menyampaikan sesuatu hingga mencapai kesempurnaan”. (New Quantum Tarbiyah, hlm: 217)
Mencapai kesempurnaan. Apa makna dari itu? Bukankah manusia itu tidak ada yang sempurna. Lantas kenapa tarbiyah dengan begitu ‘berani’ ingin menjadikan seorang menjadi sempurna? Jawabannya adalah karena kesempunaan itu relatif. “Ukuran kesempurnaan,” kata Anis Matta dalam Serial Kepahlawanan-nya, “Adalah batas maksimum dari kemampuan setiap indvidu untuk berkembang. Karena, ‘Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya...’ (al-Baqarah: 286)”
Pendidikan terhadap anak-anak berkebutuhan khusus dianggap cukup sukses jika anak tersebut bisa mengerjakan kebutuhannya sendiri, tidak bergantung pada orang lain. Misal, biar anak tersebut tunanetra tapi bisa memasak telur sendiri dan tidak minder dengan ketunaannya. Seperti itu lah tarbiyah. Ia membina dan mendidik orang sesuai dengan kebutuhannya. Maka ‘mencapai kesempurnaan’ adalah gerak
Sirot Fajar | 107
untuk menjadi lebih baik yang disesuaikan dengan kemampuan maksimum individunya.
Tarbiyah itu sebagai langkah pembinaan, penumbuhan dan pengembangan potensi akal, fisik dan hati manusia agar sesuai dengan fithrahnya. Aktivitas ini, kata Pak Solikhin, tentu bukan sekedar memfungsikan saja, tetapi bagaimana semua itu mampu berfungsi optimal dan ‘hidup’ sehingga mampu menangkap sinyal-sinyal dengan cerdas. Sebab, “Apa yang dapat menjadi sempurna namun tidak menjadi sempurna adalah sebuah aib di mata para pahlawan,” kata seorang penyair.
Tambah bingung ya? Begitulah tarbiyah. Dimensi yang termuat dalam kata tersebut sangatlah banyak. Jika kita mencari definisi kata ‘pendidikan’ pun mungkin akan menjumpainya berbagai pendapat dari para tokoh dan buku, yang jika kita baca semua mungkin akan tambah bingung. Namun saya pernah membaca buku Arsitek Peradaban-nya Anis Matta yang menukil definisi tarbiyah/pendidikan dalam tiga kata saja.
Fannu tasykiilil insaan. Itu lah definisi tarbiyah yang terdiri dari tiga kata saja, yang beliau nukil dari buku
108 | C a t a t a n M a s ’ u l G a u l
Manhaj Tarbiyah Islamiyah yang ditulis Muhammad Quthb. Yang artinya: Seni membentuk manusia. Jadi tarbiyah bukan sekedar ngaji atau tholabul ilmi saja tetapi lebih dari itu. Tarbiyah adalah proses untuk membentuk pribadi-pribadi Qur’ani yang cemerlang dalam hidupnya, yang terwarnai dengan shibghoh Allah.
Dalam masanya dulu, tarbiyah berhasil mengubah Abu Bakar yang lemah dan penangis menjadi orang yang teguh melawan kemurtdan; mengubah Umar bin Khatthab yang sangar menjadi penangis kala membaca Al-Qur’an; mengubah Mushab bi Umair yang hidupnya glamour menjadi zuhud; mengubah Bilal budak hitam menjadi pemimpin yang terompahnya sudah berada di surfga terlebih dahulu: dan mengubah... Sanggupkah dirimu untuk diubah??
Dalam perjalanan hidup ini kita membutuhkan tarbiyah. Dengan tarbiyah itu lah kita membina diri agar hidup ini menjadi lebih baik tiap waktu ke waktu. Dengan tarbiyah itu lah kita mencoba menjadi insan rabbani yang senantiasa bergegas diri menyambut seruan ilahi..
Sirot Fajar | 109
Apa yang terjadi kalau tak ada cinta saat berdakwah?? Lorraine Monroe bilang, "If you don't love the work you're doing, you get sick--physically, mentally, or spiritually. Eventually, you'll make other sick too... jika kamu tidak mencintai pekerjaan yang sedang kamu lakukan, kamu akan sakit--fisik, psikis, atau spiritual. Bahkan bisa jadi kamu bisa bikin orang sakit.." Mari kita cintai dakwah ini dengan sepenuh hati :)
Status FaceBook
110 | C a t a t a n M a s ’ u l G a u l
Inilah yang Membedakan Kita dengan Mereka
“Halaqah menjadi basis dakwah karena tanpa halaqah, dakwah berubah menjadi acara seremoni belaka..”
(Satria Hadi Lubis, Buku Pintar Mengelola Halaqah, 150)
Ceritanya saya lagi membaca sebuah skripsi yang ditulis mahasiswa USU untuk tambahan refrensi skripsi saya. Judulnya cukup menarik: “Gambaran Subjective Well Being Mahasiswa Anggota Paduan Suara Mahasiswa Gerejawi”. Secara sederhana (karena penjelasannya panjang), Subjective Well Being bisa kita artikan Bahagia, karena memang ia bagian dari Happyness.
Bagimana hasilnya? Ternyata Mahasiswa yang menjadi anggota Paduan Suara Mahasiswa Gerejawi (PSMG) memiliki Subjective Well Being lebih tinggi dari pada mahasiswa yang mengikuti Paduan Suara Biasa. Apa sebabnya? Hal religius/spiritual. Ya, para responden mengaku bahwa lirik lagu yang dinyanyikan dan kegiatan spiritualitas yang
Sirot Fajar | 111
dilakukan dalam PSMG memberikan perasaan tenang dan menyatu dengan Tuhan.
Religius/Spiritual. Inilah yang membedakan PSMG dan paduan suara biasa. Ini pula lah yang menjadikan para aggotanya merasa bahagia. Begitu bahagianya mereka sampai merasa bahwa lagu yang keluar dari mulut mereka itu ibarat suara malaikat.
Apa pelajaran yang bisa kita ambil? Bahwa di antara yang membedakan organisasi dakwah dengan organisasi biasa adalah masalah Religius/Spiritual. Ketika sisi Religius/Spiritual ini tidak ada di dalam organisasi dakwah, maka ia tidak ada bedanya dengan organisasi lainnya. Ketika anggota organisasi dakwah tidak merasakan sentuhan Religius/Spiritual dalam dirinya, maka ia akan segera futur dan merasa sangat berat berada di barisan dakwah.
Dakwah ini adalah jalan yang penuh onak dan duri. Karakteristik dakwah ini adalah katsirul aqabat; banyak rintangannya; sehingga membutuhkan keteguhan hati untuk melewatinya. Karakteristik dakwah ini adalah thuulut thariq; panjang jalannya; sehingga membutuhkan nafas panjang yang akan menguatkan kita untuk terus menusuri jalan maraton
112 | C a t a t a n M a s ’ u l G a u l
ini. Karakteristik dakwah adalah qillatur rijaal; sedikit orangnya; sehingga membutuhkan kesabaran ketika harus sendiri; sehingga membutuhkan kekuatan yang lebih besar untuk mengerjakan tugas yang banyak dengan sedikit orang.
Jalan Dakwah ini bukanlah jalan yang mudah. Jalan dakwah ini adalah jalan yang berat. Lalu apakah yang akan menguatkan kita? Ruhiyah kita. Energi yang perlu kita isi pertama kali adalah energi ruhiyah. Sebab ruhyiah merupakan energi besar yang melebihi materi dan semua yang kasat mata. Kalo kata Motivator: Motivasi yang paling tinggi dan langgeng adalah Al-Quwwal Ar-Ruhiyah; Motivasi karena Allah.
Maka, saya sedikit sedih ketika melihat beberapa wajihah kerohanian di kampus tidak/belum mengaktifkan kajian rutin. Kenapa? Kajian-kajian lah yang akan memberikan sentuhan Religius/Spiritual pada para anggotanya. Ketika SKI/UKKI/LDK/LDF/dkk tidak bisa menyentuh pada sisi Religius/Spiritual-nya, maka anggotanya akan segera membanding-bandingkan dengan organisasi lain yang secara materi lebih menguntungkan dan menyenangkan. Kalo nggak percaya, dicoba aja..
Sirot Fajar | 113
Mas’ul Gaul
Bukan yang tampilannya cool
Apalagi yang dandanannya amburadul
Juga bukan yang suka bermasygul
Yang hobinya hanya berkemul
Dia hanya seorang rajul
Pemimpin orang yang lagi berkumpul
Pada sesama sering merangkul
Dan selalu meneladani Sang Rasul
Beberapa saat usai diberi amanah sebagai ketua MY Club, saya diajak mbak-mbake jalan-jalan sambil makan-makan. Baik banget ya mbak-mbake itu. Ngomong-ngomong kalian pernah nggak diajak begitu? Ah, kasihan banget kalau belum :-p
Namun ini bukan jalan-jalan ke taman bungkul, atau tempat biasa orang jalan-jalan dan berkumpul. Bersama beberapa teman yang juga dapat amanah di MY Club, kami jalan-jalan silaturrahim ke rumah Pak Dani Setiawan (pernah
114 | C a t a t a n M a s ’ u l G a u l
jadi Ketua Puskomnas FSLDK 2010) dan Bunda Nisa’, yang kebetulan waktu itu mereka masih tinggal di Driyorejo, untuk sharing-sharing tentang Dakwah Kampus. Lha makan-makannya ya saat udah bertamu itu terus disuguhi makanan, wkwkwk…
Masih teringat bagaimana celetukan Pak Dani saat saya baru saja masuk dan mau salaman dengan beliau, “Antum akh yang jadi ketua MY Club sekarang? Ya udah keluar sana antum!”
Saya pun bingung dan membatin, “Lha ini bapaknya gimana, wong duduk aja belum udah disuruh keluar.” Tapi saya terus menjabat tangan beliau dan duduk.
Setelah teman-teman duduk semua, kemudian beliau melanjutkan, “Antum nanti harus sering-sering keluar kampus agar wawasannya terbuka. Antum harus bergaul dengan teman-teman dari LDK lain biar nggak
para aktivis dakwah kampus kini harus menjadi orang yang gaul dan tidak kuper: gaul kepada teman-teman di sekitar agar dakwah mudah diterima; dan gaul dengan teman-teman di luar sana agar wawasan makin luas dan banyak pengalaman
Sirot Fajar | 115
kuper. Jangan sampai antum di sini seperti pendekar sabuk hitam, tapi setelah keluar ternyata jiaaaaaaaaaaaah masih sabuk putih.”
Di bulan berikutnya, kebetulan ada rakorwil (rapat koordinasi wilayah) FSLDK Jatim di Unair. Lagi-lagi mbak-mbake nyuruh saya untuk hadir. Akhirnya saya pun hadir walaupun hanya sehari, karena besoknya ada acara sendiri di kampus.
Karena ingin menjadi masul yang gaul dan tidak kuper, sebagaimana dipesankan Pak Dani, sejak saat itu kemudian saya mulai berusaha untuk selalu menghadiri acara FSLDK. Mulai saat PMLDK di UWKS bersama Mas Gunanto, Sar-Nas di UGM bersama 12 teman lain dari MY Club, FS-Nas di ITB bersama Baihaqi. Dan yang terakhir dan paling berkesan tentu saja FSDA VI di UTM. Selain karena saya juga masuk kepanitiaan, dari MY Club dan Formusa yang hadir mencapai 25 lebih. Itu mungkin rekor keikutsetaan kami di acara FSLDK.
Sebenarnya, ketika kita mengikuti acara FSLDK atau acara di kampus lain itu acaranya biasa aja. Secara acara itu biasa saja. Misalnya Sekolah LDK, kita bisa saja mengadakan
116 | C a t a t a n M a s ’ u l G a u l
sendiri sebagaimana yang pernah dilakukan Tim Syiar tahun lalu. Yang menjadi luar biasa dan begitu berkesan adalah ketika kita bertemu dan bergaul dengan teman-teman dari LDK lain; ketika saling bercerita tentang perkembangan LDK masing-masing; ketika berkisah tentang suka duka selama menjadi ADK; ketika berbagi pengalaman yang mengharukan, dll. Itulah saat-saat yang begitu mengesankan. Dan di situlah saat kita banyak belajar.
Akhirnya, Sirot tentu bukan mas’ul yang gaul. Bahkan bagi sebagian orang, ia termasuk orang yang kuper. Melalui tulisan ini saya hanya ingin menyampaikan sebuah harapan. Harapan agar para aktivis dakwah kampus kini menjadi orang yang gaul dan tidak kuper: gaul kepada teman-teman di sekitar agar dakwah mudah diterima; dan gaul dengan teman-teman di luar sana agar wawasan makin luas dan banyak pengalaman..
Catatan: Maaf, bahasanya Unesa banget, hehe.. Semoga yang dari kampus lain tetap bisa memahami…
Sirot Fajar | 117
“Justifying a fault doubles it.” Pembenaran atas kesalahan membuat kesalahan menjadi dua kali lipat. --Peribahasa Perancis— Seorang kawan yang pernah ditilang polisi bercerita. Ceritanya, jarak dari tempat ia tinggal dan kampus tidak terlalu jauh. Maka ia pun tidak pernah pakai helm. Berkali-kali polisi mengingatkan, “Mas helm-nya dipakai” tapi tidak sampai menilangnya. Nah suatu ketika, Pak Polisi menilangnya. Maka ia beralasan, “Pak, saya ini mahasiswa. Jaraknya ke kampus dekat.” Apa kata Pak Polisi? “Justru karena Anda itu mahasiswa mas, jadinya harus tahu kalau hal ini melanggar lalu lintas,” begitu jawaban Pak Polisi yang membuat teman saya terpaksa rela ditilang.. Kayaknya tidak berlebihan nasihat presiden pertama Amerika George Washington: “It is batter to offer no excuse than a bad one; Lebih baik tidak menyampaikan alasan dari pada mengungkap alasan yang buruk.”
118 | C a t a t a n M a s ’ u l G a u l
Dulu di zaman Khalifah Umar juga pernah terjadi hal demikian. Seorang lelaki peminum khamr dibawa ke hadapan khalifah. Ketika telah dibuat keputusan atasnya, ia mencoba untuk membela diri dengan harapan bisa meringankan hukuman, “Demi Allah wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya Allah telah menakdirkan ini atas diriku.” Apa jawab Umar? Kepada para pembantunya Umar justru bilang: “Berikan dia hukuman dua kali. Hukuman pertama karena ia telah minum khamr. Hukuman kedua karena ia telah menghina Allah.” Nah, semoga ada hikmah.. Jangan suka buat-buat alasan. Apalagi alasan untuk mangkir dari amanah dan dakwah :-)
Sirot Fajar | 119
Bagian 5
Bersama dalam Dakwah
Kalian tahu kenapa hujan itu menyenangkan? Karena turunnya rame-rame
Pasti garing kalau hujan itu turunnya hanya satu tetes
Lantas satu tetes lagi, dan seterusnya.
Sungguh,
Di dunia ini sesuatu yang positif selalu spesial saat rame2 dilakukan
Shalat jamaah, rame2 tentu lebih afdol
Gotong royong, rame2 tentu lebih oke
Belajar, rame2 saling bantu lebih banyak yang dipelajari
Bekerja, rame2 saling tolong lebih cepat selesai
Itulah gunanya teman2 terbaik
Teman2 yang saling menasehati dan mengingatkan
Rame2 menjadi selalu lebih seru.
Kalian tahu kenapa keyboard laptop atau HP harus lengkap?
Karena hilang satu saja, rasanya tidak utuh lagi.
Begitulah pertemanan yang baik.
Hilang satu, terasa kosong semuanya.
Rame-rame selalu lebih menyenangkan.
*Darwis Tere Liye
120 | C a t a t a n M a s ’ u l G a u l
Penari dan Perbedaan Kita Lihatlah para penari itu..!! Kostum yang mereka kenakan berbeda-beda.. Namun keragaman itu, justru menjadikan mereka tampak indah dan serasi.. Karena biarpun kostum mereka berbeda, namun mereka memiliki satu tujuan dan tekad yang sama: menghibur orang yang menyaksikannya..
Sirot Fajar | 121
Kesamaan tujuan itu lah yang menjadikan mereka tampak serasa dan serasi.. Kalau benar Allah sebagai tujuan kita (Allahu ghoyatuna), Rasulullah sebagai teladan kita (Ar-Rasul qudwatuna), dan al-Quran sebagai pedoman kita (al-Quraan dusturona), maka sebenarnya banyak hal yang telah menyamakan kita.. Namun mengapa kita sering kali berselisih hanya karena kostum (baca: partai, harokah, jamaah, ormas, organisasi, dll) kita berbeda.. Jika demikian, mari kita bertanya pada diri ini, apakah kita sedang menuju-Nya ataukah ingin menampakkan kostum kita???
122 | C a t a t a n M a s ’ u l G a u l
Kita Mungkin Berbeda, Tapi . . .
Tiba-tiba saja saya teringat kenangan saat berada di asrama haji Sudiang Embarkasi Makassar, saat iku MTQ Mahasiswa Nasional XII. Satu pekan yang begitu indah, bertemu orang-orang yang luar biasa. Tiap sudut santero, selalu saja kutemui orang-orang yang pegang mushaf. Mungkin memurajaah hafalannya, atau mungkin juga tilawah, atau entah lah.. Yang jelas mereka adalah pemuda dari penjuru negeri ini yang cinta Al-Quran, insyaAllah..
Berada di Makassar membuat saya bisa selalu bangun lebih pagi karena perbedaan waktu. Makassar masuk kawasan WITA sehingga jamnya lebih cepat satu jam dari pada di Surabaya. Jadi saya bisa sholat tahajjud sebelum shubuh. Nah suatu pagi, di saat perjalanan ke Masjid untuk Sholat Shubuh berjamaah, ternyata wudhu saya batal. Mau tidak mau saya pun harus wudhu di Masjid. Karena antrian yang agak panjang, maka sampai iqomat pun saya belum wudhu. Dan di tengah penantian itu, sayup-sayup saya mendengar imam sholat berkata, “Jamaaah sekalian, bagi yang mau qunut, nanti saya beri waktu.”
Sirot Fajar | 123
Akhirnya saya pun sholat dengan menjadi makmum masbuq. Dan tatkala imam selesai salam, tiba-tiba terjadi keributan. Saya tidak tahu pasti sebab keributannya, dan juga tidak bisa memperhatikan karena harus menyempurnakan rakaat sholat yang masih kurang. Perkiraan saya, ada orang yang tidak terima karena sholatnya tidak pakai qunut, karena biasanya selalu pakai qunut (ini sholat khusyu’ apa enggak ya?).
Di tengah keributan itu, Sang Khotib yang biasanya memberi kultum tiap usai sholat, segera naik mimbar. Panjang lebar ia menjelaskan mengenai perbedaan itu, dan di akhir penjelasannya, beliau mengatakan dengan tegas, “Saudara sekalian..! Perbedaan adalah rahmat. Dan pertengkaran adalah laknat. Kalau saudara mau dilaknat, ayo bertengkar dengan saya..”
Seusai Sang Khatib turun mimbar, ada salah seorang yang menyerukan, “Takbir..!!” maka seketika Masjid pun riuh dengan teriakan “ALLAHU AKBAR”. Namun, ternyata pertikaian yang sempat terhenti itu akhirnya berlanjut lagi beberapa saat. Namun jarak ruang dan waktu juga yang
124 | C a t a t a n M a s ’ u l G a u l
akhirnya memisahkan ‘pertengkaran’ mereka, karena semua jamaah segera kembali ke wisma masing-masing.
Setelah saya tanyakan ke teman-teman yang saya jumpai, ternyata permasalahannya bukan ‘qunut’, karena yang masalah itu Sang Imam telah meminta izin. Lha yang dipermasalahkan apa?? Basmalah. Ya, salah seorang makmum tidak terima karena imam sholat membaca basmalah disirrikan.
Dalam permasalahan agama ini, memang sering kali ada perbedaan di tengah umat. Namun selama mereka masih percaya bahwa rukun islam itu ada lima dan rukun iman itu ada enam, maka seharusnya tidak ada pertengkaran di antara mereka, karena pada hakikatnya mereka masih bersaudara. Innamal mu’minuuna ikhwatun, begitu firman Allah dalam salah satu ayatnya.
Kita mungkin berbeda, tapi selama kita percaya bahwa Allah adalah Tuhan kita, dan Nabi Muhammad adalah Rasul-Nya maka kita tetap saudara. Ketika Ali bin Abi Tholib ditanya mengenai posisi orang-orang yang berontak terhadapnya, ia menjawab, “Mereka adalah termasuk saudara kita, hanya saja mereka berlaku dzalim pada kita”
Sirot Fajar | 125
Memang perbedaan tidak dapat kita hindari di dalam kehidupan ini. Namun jangan pula kita menyuburkan perbedaan. Ada orang yang justru mencari-cari perbedaan dengan alasan ingin mendapat rahmat Allah. Ia berdalih bahwa Rasulullah bersabda, ”Ikhtilaafu ummati rohmah: Perselisihan di kalangan umatku adalah rahmat.” Padahal di kalangan ahli hadis, hadis tersebut masuk kategori hadits maudhu’. Bahkan Syaikh Al-Bani mengatakan: hadis itu tidak ada asalnya.
Berbedaan itu sebuah keniscayaan. Maka yang perlu kita lakukan bukanlah menghindari perbedaan, tapi bagaimana agar perbedaan di antara kita berubah menjadi sebuah kebaikan. Andai saja kandungan hadits di atas benar, apakah semua perbedaan itu akan menjadi rahmat?? Ini lah pertanyaan yang perlu kita jawab.
Menurut ust. Ahzami Samiun Jazuli, perbedaan yang bisa menjadi rahmat bukan sekedar asal beda. Perbedaan yang berpotensi melejitkan kekuatan adalah perbedaan yang bersifat variatif atau pengembangan. Namun perbedaan yang bersifat kontradiktif justru akan memunculkan perpecahan dan kehancuran.
126 | C a t a t a n M a s ’ u l G a u l
Bisa. Bisa saja Allah menjadikan umat ini bersatu. Bisa saja Allah menghilangkan semua perbedaan yang ada di antara kita. Bahkan Allah sendiri telah menegaskan dalam surat Al-Maidah ayat 48:
وَلَوْ شَاء ا ه للُّ لَجَعَ لَكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلَكِن لِهيَبْلُوَكُمْ فِي
مَا آتَاكُم فَاسْتَبِقُوا الخَيْرَات
“Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan.”
Perbedaan adalah ujian. Allah hendak menguji sejauh mana ‘kedewasaan’ kita dalam menghadapi perbedaan yang ada. Allah ingin tahu, bagaimana sikap kita dalam menyikapi perbedaan yang ada. Dengan perbedaan itu Allah ingin melihat kita: siapa di antara kita yang paling bagus amalnya. Dan dengan perbedaan itu, mari kita berlomba untuk menjadi golongan terbaik dalam pandangan Allah dan Rasul-Nya..
Sirot Fajar | 127
Temukan Komunitasmu.. duri dalam bunga mawar itu dihargai karena bunganya bukan karena durinya yang tajam.. Anjing yang air liurnya najis itu, derajatnya dapat terangkat dan disebut dalam al-Quran karena ia bergabung dengan kafilah kebaikan: Ashaabul Kahfi.. itulah The Power of "Berjamaah". ketika kita bergabung dengan kelompok kebaikan, maka derajat kita akan terangkat dengan sendirinya.. maka temukanlah "komunitas Emas" dan bergabunglah bersamanya.. agar hidup anda tidak termubadzirkan dan termarjinalkan.. dan tentu saja, hidup anda akan jauh lebih indah.. Sudahkah Saudara Menemukan "Komunitas Emas" tersebut...???
Catatan; sepertinya sajak ini terinspirasi dari buku yang ditulis Pak Sholikin Abu Izzuddin. Tapi saya lupa ada di buku apa. Maklum udah lama banget nulisnya…
128 | C a t a t a n M a s ’ u l G a u l
Madu di Sarang Lebah
Tiba-tiba saya ingin lagi nulis catatan untuk teman-teman sekalian. Khususnya teman-teman Master of Syuro, yang kerjanya syuro terus. Tiada hari tanpa syuro. Pagi sebelum kuliah syuro. Siang saat di kampus juga syuro. Sore pun masih syuro lagi. Bahkan bila perlu malam pun juga syuro. Kog syuro terus? Emang udah tau ye syuro itu apaaan?? Kalo tampang-tampang antum sih, ana gak yakin, hehe.. Nggak yakin kalo nggak tahu. Pasti tahu!
Tetapi izinkan saya berbagi sedikit tentang apa yang baru saya ketahui. Semoga dengan ini Allah menambahkan pemahaman pada saya dan antum yang berkenan membacanya. Selain itu, saya menulis catatan ini untuk mengikatnya, agar tidak lupa di waktu yang akan datang. Seperti pesan Imam Asy-Syafi’i: “Ilmu adalah binatang buruan, dan pena yang menuliskan adalah tali pengikatnya.”
Syuro biasa diartikan dengan ‘musyawarah’. Dan kata ‘musyawarah’ sendiri dalam KBBI diartikan dengan: pembahasan bersama dengan maksud mencapai keputusan atas penyelesaian masalah. Nah, dalam kesempatan bincang-
Sirot Fajar | 129
bincang kali ini, mari kita lihat makna syuro dari bahasa di mana ia diambil: Bahasa Arab.
Kata syuro itu terdiri dari tiga haruf: Syin, Wau, & Ra’ yang pada mulanya bermakna: Mengeluarkan madu dari sarang lebah. Makna ini kemudian berkembang, sehingga mencakup segala sesuatu yang dapat diambil atau dikeluarkan dari yang lain (termasuk pendapat). Syuro juga dapat berarti mengatakan atau mengajukan sesuatu. Jadi kalo pas syuro antum diem aja itu pada hakikatnya sama saja antum tidak ikut syuro, karena tidak mengatakan atau mengajukan sesuatu. Hehe afwan jika ada yang tersungging..
Madu. Itu lah ‘hasil’ dari syuro. Dan madu bukan sekedar manis dirasa, tetapi ia juga obat untuk banyak penyakit, sekaligus sumber kesehatan dan kekuatan. Itu berbeda dengan obat pada umumnya yang rasanya pahit. Apa maknanya? Bahwa kebijakan yang dihasilkan melalui syuro harusnya bukan sekedar baik. Lebih dari itu, ia harusnya semanis madu. Sehingga orang yang menjalani kebijakan itu tidak merasa pahitnya hasil syuro tersebut. Memang susah. Tetapi kita harus mengupayakannya. Terlebih bagi jamaah
130 | C a t a t a n M a s ’ u l G a u l
dakwah. Agar tidak ada yang merasa bahwa dakwah ini pahit (seperti obat). Dakwah ini harus semanis madu.
Tetapi...
Madu terbaik hanya dapat dihasilkan oleh lebah terbaik. Dan antum semua, yang melakukan syuro itu lah lebah-lebah yang harusnya menghasilkan madu terbaik. Maka mari teladani lebah: makhluk yang sangat berdisipin, kerjasamanya mengagumkan, makanannya dari sari kembang, di mana pun ia hinggap takpernah membuat kerusakan, ia tak mengganggu kecuali diganggu, bahkan sengatannya pun dapat menjadi obat..
Maka benarlah Rasulullah yang mengibaratkan seorang Mukmin dengan Lebah. Sebagaimana diriwayakan oleh Imam Ahmad: ”Demi Dzat yang jiwa Muhammad ada dalam genggaman-Nya, sesungguhnya perumpamaan seorang mukmin adalah seperti lebah, ia makan yang baik-baik, mengeluarkan yang baik-baik, bila ia hinggap tidak membuat dahan patah dan rusak” (HR. Ahmad)
Oh ya, satu lagi. Ini pesan Mbak Anik Andri Asnanik yang ditulis di buku Sepotong Hati Untukmu Mahasiswa: “Jika seorang mukmin diibaratkan seekor lebah, maka
Sirot Fajar | 131
sebagai da’i yang tugasnya menyeru, mungkin kita belum memiliki “daya sengat” seperti yang dimiliki lebah. Sehingga yang terjadi adalah ucapan kita tidak didengar, ajakan kita tidak direspon. Proses tarbiyah yang kita jalani hanya sebagai ajang tatap muka dan transfer ilmu. Tidak membekas dan tidak berpengaruh pada pemegang tongkat estafet dakwah selanjutnya. Maka bekal ilmu dan iman yang kita perkuat dan semai dalam jiwa masih perlu banyak revolusi. Kata pepatah Arab, “Faqidusy-syai’i la yu’thihi” (orang yang tidak mempunyai sesuatu, tidak akan bisa memberikan sesuatu itu pada orang lain).”
Semoga kita bisa senantiasa menjadi Lebah yang menghasilkan Madu terbaik...
Senin, 17 Juni 2013 usai shubuh..
Ketika hendak membaca buku “Wawasan Al-Quran: Tafsir Maudhu’i atas Pelbagai Persoalan Umat.” untuk persiapan MTQ MN XIII di Padang. Kebetulan ada pembahasan tentang syuro..
132 | C a t a t a n M a s ’ u l G a u l
Kekitaan Teringat saya tulisan KH Rahmat Abdullah dalam Warisan Sang Murabbi. Dalam tulisan yang berjudul ‘Tarbi Mania’ beliau menuliskan, “Kam fina wa laisa minna wa kam minna wa laisa fina (Berapa banyak orang yang ada di tengah kita tetapi bukan kelompok kita dan berapa banyak orang yang tercatat bagian dari kita tetapi tak ada di tengah kita)”. Ikhwah sekalian, ternyata ‘kekitaan’ kita tidak terletak pada kebersamaan kita secara fisik, tapi lebih ditentukan oleh ketertautan hati dan kebersamaan kita dalam menanggung beban da’wah dan dalam melalui jalan panjang perjuangan. Biarpun seorang itu satu asrama/kos dengan kita, tetapi jika ia tidak pernah memikirkan da’wah ini, maka sebenarnya ia bukanlah bagian dari da’wah ini. Namun biarpun seorang itu jauh dari kita, tidak bersama kita, tetapi ia selalu memikirkan da’wah ini, maka itu lah orang yang pada hakikatnya termasuk golongan kita. Sertakan aku dalam do’a rabithah yang antum baca ya!
Sirot Fajar | 133
Ukhuwah Anjaliyah
Mungkin judul ini terlalu memaksa. Namun saya tidak menemukan judul lain untuk mengisahkan ukhuwah para Anjal (anak jalanan) yang saya jumpai suatu ketika.
Ceritanya saya naik bus di Tuban untuk kembali ke Surabaya. Karena sudah penuh, maka Sang Kondektur pun menyuruh saya duduk di ‘bantalan’ yang di sebelah sopir. Tidak lama berselang, ada seorang cewek yang naik, kemudian duduk di samping saya. Sekilas saya perhatikan, ada tatto di lehernya. Saya bisa melihatnya karena kebetulan rambutnya pendek. Saya amati tatto itu, ingin tahu gambar apa. Di saat itu saya baru sadar kalo ia habis potong rambut, karena banyak potongan rambut kecil di pakaian dan lehernya.
Saya pun mengalihkan perhatian ke yang lain; membaca majalah Tarbawi yang saya bawa. Tiba-tiba kondektur yang di depan kami membuka obrolan dengan cewek tersebut, “Habis potong ya mbak?”
“Iya ini.”
134 | C a t a t a n M a s ’ u l G a u l
Setelah itu Sang Kondektur melanjutkan obrolanya dengan pertanyaan yang lain, “Dari mana, mau ke mana, mau ngapain, biasa mangkal di mana, sekarang bawa barang atau tidak, dll..”
Dengan semangat cewek di samping saya itu menjawab. Dari jawabannya, akhirnya saya tahu kalau ia anak jalanan, mau ke rumah cowoknya. Dan dari obrolan mereka berdua saya juga tahu kalau sang kondektur juga orang jalanan. Bahkan ia mengenal beberapa nama yang disebutkan si cewek. Pun demikian dengan cewek tersebut, ia mengenal beberapa nama yang disebut Sang Kondektur. Klop.
Sampai disitu saya menyinyimpulkan satu hal, yang menjadi pelajaran pertama: orang itu akan mudah berakrab-akrab dengan orang yang sama dengannya. Mereka sama-sama orang jalanan. Maka mereka pun cepet akrab. Bahkan mereka pun sudah saling percaya sampai menanyakan prihal ‘barang’.
Bus terus berjalan. Sampai akhirnya ada seorang pengamen yang naik. Pengamen yang sudah sering saya temui dan tidak pernah saya beri karena tidak suka gayanya: bertindik, rambut gondrong, bertatto. Ketika pengamen
Sirot Fajar | 135
tersebut selesai bernyanyi dan mulia mengeluarkan bungkus permen dari sakunya,dengan segera cewek di samping saya pun mengambil uang dari dompetnya. Tak tanggung-tanggung, ia mengeluarkan uang puluhan ribu. Maka sang kondektur pun bertanya, “Mau buat apa uang itu?”
“Ya itu buat pengamen.” Jawab si cewek dengan santai.
“Owh..” jawab Sang kondektur sambil menganggukkan kepala. Ia kemudian melanjutkan, “Kog banyak?”
Dengan mantap kemudian si cewek bilang, “Itu temanku. Aku kenal dia. Kasihan jadi ya saya beri ini...”
Saya pun kaget bukan main. Seumur-umur saya tidak pernah memberi pengamen uang puluhan ribu. Bahkan hanya beberapa kali saja saya memasukkan uang puluhan ribu di kotak amal masjid saat sholat jumat. Maka hal ini pun kemudian memberi saya pelajaran kedua tentang persaudaraan mereka: ternyata mereka begitu ringan tangan untuk berbagi dengan sesamanya..
Saya kemudian merenung. Ternyata Ukhuwah Anjaliyah mereka begitu kuat. Dari tampilannya, si cewek yang duduk di sebelah saya bukanlah orang yang sudah sukses besar. Ia masih biasa yang mungkin hidupnya hanya
136 | C a t a t a n M a s ’ u l G a u l
sedikit lebih baik dari teman-temannya sesama anak jalanan. Tapi ketika ia bertemu dengan teman lamanya, ia tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk berbagi.
Kini, banyak saudara kita yang terkena bencana dan musibah. Semoga hal itu menjadikan Ukhuwah Insaniyah kita tergerak untuk membantu mereka, saudara kita sesama manusia. Biar pun beda suku, ras, bangsa, dan lainnya, semoga hal itu tidak mengalangi kita untuk berbagi pada sesama..
Kini, banyak saudara kita sesama muslim yang menghadapi masalah besar. Semoga hal itu menjadikan Ukhuwah Islamiyah kita tergerak untuk membantu mereka, saudara kita sesama muslim. Biarpun mungkin beda madzhab, harokah, dan lainnya, tapi jika mereka masih satu akidah, marilah kita membantunya...
Semoga catatan sederhana ini bermanfaat.. :-)
Sirot Fajar | 137
Siapa suka si mawar merah.. Dapat ditanam di tempat teduh.. Siapa suka berpecah belah.. Rahmat Allah semakin jauh... (Tifatul Sembiring, MenKomInfo) Mari kita cari persamaan-persamaan di antara kita, dan sejenak melupakan perbedaan-perbedaan di antara kita.. Semoga kita bisa dipertemukan oleh Allah dalam indahnya ukhuwah...
Status FaceBook
138 | C a t a t a n M a s ’ u l G a u l
Syubhat dalam Berjamaah
Pada dini hari tanggal 13 Maret 1963, di New York City, seorang manajer sebuah bar, Catherine (Kitty) Genovese, diserang seorang lelaki tak dikenal di depan apartemennya. Ia pun menjerit minta tolong, barangkali ada tetangganya yang terbangun dan tergugah mau menolongnya. Seketika lampu-lampu apartemen menyala. Maka lelaki yang menyerang itu pun menghentikan aksinya dan berniat untuk kabur.
Sayang nian, orang-orang dalam apartemen itu tidak tergerak untuk memberikan pertolongan. Sehingga lelaki penyerang yang sempat berniat kabur itu pun melanjutkan aksinya. Ny. Genovese pun dihabisi lelaki tak dikenal tersebut. Ia ditusuk berkali-kali hingga kehabisan darah dan akhirnya meninggal. Parahnya lagi, penyerangan mengerikan yang terjadi selama 45 menit itu, disaksikan oleh 38 saksi mata. Tapi dari jumlah sebanyak itu, tidak ada satu pun yang tergerak untuk menolong Ny. Genovese atau menelpon polisi.
Kejadian itu menggelitik dua psikolog sosial, John Darley dan Bibb Latane, untuk mulai berspekulasi dengan
Sirot Fajar | 139
menawarkan penjelasan yang dapat diuji. Dua psikolog tersebut akhirnya sampai pada kesimpulan bahwa: dalam keadaan banyak bystander maka akan terjadi fenomena diffusion of responsibility atau terjadi ‘penyebaran tanggung jawab’. Semakin banyak bystander yang ada, semakin kurang rasa tanggung jawab untuk melibatkan diri pada keadaan darurat tersebut. Dan semakin banyak bystander, semakin rendah presentase orang yang memberikan respons dan makin lama mereka menunggu sebelum memberi respons.
Dalam kehidupan berjamaah, fenomena ‘penyebaran tanggung jawab’ ini pun terjadi. Apapun yang terjadi dalam jamaah, tidak akan ditanggung satu orang saja, tapi akan ditanggung sebanyak orang yang ada dalam jamaah tersebut. Terlepas dari besarkecilnya beban yang ditanggung antar anggota jamaah. Ketika terdapat kesalahan dalam ijtihad jama’i, misalnya, maka kesalahan itu tidak akan dibebankan kepada satu orang saja. Tetapi ditanggung bersama-sama. Walaupun mungkin keputusan syuro berasal dari gagasan seorang individu anggota majlis syuro.
140 | C a t a t a n M a s ’ u l G a u l
Keadaan seperti itu bisa menjadi boomerang bagi jamaah, jika seluruh anggota jamaah memiliki pikiran yang sama untuk mengelak dari tanggung jawab: lebih mengharap saudaranya yang melaksanakan tanggung jawab, dan bukan dirinya sendiri. Akibatnya, tidak satu pun dari anggota jamaah yang menjalankan keputusan syuro. Karena lebih mengharap saudaranya yang lain yang menjalankan keputusan syuro sambil membebaskan dirinya dari tanggung jawab. Na’udzu billah min dzalik..
Maka, kematangan tarbawi individu dalam kehidupan berjamaah merupakan sesuatu yang niscaya. Hanya dengan kematangan tarbawi itulah individu dalam jamaah akan merasa bertanggung jawab dengan kelangsungan jamaah. Dengan kematangan tarbawi, individu tidak akan lagi mengharap saudaranya yang akan menggugurkan kewajiban kifayah-nya. Ia justru akan berusaha menggugurkan kewajiban kifayah saudaranya. Mereka akan berlomba-lomba mengerjakan kebaikan yang ada. Subhanallah…
Selain fenomena diffusion of responsibility, dalam psikologi sosial juga dikenal istilah Social Loafing. Inilah syubhat kedua dalam berjamaah. Ketika beberapa orang
Sirot Fajar | 141
melakukan sesuatu hal dengan bersama-sama, mereka mungkin terlibat dalam Social Loafing: mereka berpura-pura bekerja keras, tapi nyatanya mereka mengeluarkan usaha yang lebih sedikit dari pada yang mungkin akan mereka lakukan jika melakukannya sendirian.
Memang, ketika kita melakukan kerja bersama-sama, secara otomatis kita akan mengeluarkan tenaga yang relatif lebih sedikit, karena telah dibantu dengan yang lainnya. Tapi yang dimaksud dengan Social Loafing adalah membiarkan orang lain melakukan pekerjaan lebih banyak dari pada dirinya sendiri. Jika demikian, maka orang yang melakukan Social Loafing secara tidak langsung telah medholimi saudaranya. Karena ia telah membebani saudaranya lebih dari beban yang seharusnya dipikulnya. Beban yang seharusnya ia pikul, telah sedikit dialihkan kepada saudaranya yang lain. Sehingga ia termasuk orang yang membebani saudaranya.
Untuk mengurangi fenomena Social Loafing ini, perlu ditanamkan komitmen kepada seluruh anggota jamaah. Yaitu menumbuhkan keyakinan yang kokoh sehingga membelenggu seluruh hati nuraninya dan kemudian menggerakkannya
142 | C a t a t a n M a s ’ u l G a u l
perilakunya menuju arah yang diyakininya. Selain itu, kesadaran tawâshou (saling menasihati) anatar anggota jamaah perlu diperbaiki, sehingga nantinya mereka akan saling mengingatkan dengan saudaranya yang lain.. [wallahu a’lam bi ash-showaab..]
Sirot Fajar | 143
Senyum Sejenak Suatu ketika, saat usai menempelkan SK Panitia WAFO (Warung Informasi: untuk sambut Mahasiswa baru) di asrama-asrama, ada adik akhwat yang SMS: A: Mas, saya xxx dari asrama yyy. Nama saya kog tidak ada di daftar panitia wafo ya? Terus saya masuk di sie apa? S: Ya afwan, nama yang masuk SK yang dilaporkan masulny aja & yang udah jelas sie-nya. Yang belum masuk, nanti menyusul. A: Terus saya masuk sie apa? S: Maunya sie apa? A: Saya ndak tahu. Terserah sampean. Saya nurut saja. S: Ya udah, amanahnya beli konsumsi di amanah ;-) [Ket: salah satu toko roti, tempat mahasiswa biasa pesan konsumsi acara adalah Toko Amanah] A: Serius ini.. S: Ini juga serius :-D Besoknya saat syuro: S: Ya udah, begitu saja. Apa ada yang mau disampaikan lagi? Mbake: Udah ndak ada. Tapi ada yang mau kami sampaikan di luar topic Wafo. Boleh?
144 | C a t a t a n M a s ’ u l G a u l
S: Ya, silahkan. M: Afwan, antum itu kalo di-SMS adik2e balasnya yang serius. Masak ditanya amanahnya apa beli roti di amanah? Bla bla bla bla…. … … … S: Nggeh mbak -_- Amanah memang harus dijalani dengan serius, tetapi dalam proses menjalaninya terkadang perlu nyantai :-) Kenapa saya jawab nggak serius begitu? Karena saya pun ndak tahu mau masukkan sie apa. Yang lebih tahu kan mbak-mbaknya. Saya jawab begitu biar ia tanya mbaknya aja.. Jawaban guyonan itu sebenarnya untuk menghilangkan image kalo saya terlalu serius. Karena kata sebagian teman, Sirot itu orang terlalu serius, padahal ya sebenarnya nggak begitu amat :-p
Sirot Fajar | 145
Bagian 6
Teruslah di Jalan Dakwah
Kalau mau mutung mending ke laut aja
Lalu kenanglah Dzun Nun yang berpaling dari kaumnya
Yang kemudian terpenjara di perut ikan dalam gulita
Dan akhirnya terselamatkan karena kasih sayang Rabb-nya
Jalan dakwah memang melelahkan
Seringkali juga ada ujian dan cobaan
Tapi tetaplah engkau terus bertahan
Semoga segera beroleh kemenangan
146 | C a t a t a n M a s ’ u l G a u l
Pengganti atau Yang Diganti?
“Dan jika kamu berpaling, Dia akan menggantikan (kamu) dengan kaum yang lain, dan mereka tidak akan jadi seperti kamu” (Qs. 47: 38)
Ada pepatah bahasa Indonesia yang berbunyi, “Mati Satu Tumbuh Seribu” Pepatah itu mengingatkan saya pada “Generasi Pengganti” yang disinyalir Allah dalam surat Al-Ma’idah ayat 54:
“Wahai orang-orang yang beriman! Barang siapa di antara kamu yang murtad (keluar) dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum, Dia mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya…”
Jika kita murtad dari agama ini, maka Allah akan mendatangkan kaum yang lebih baik dari kita. Jika kita tidak mau berjuang, maka akan ada saja orang yang mau memperjuangkan agama ini, karena da’wah akan terus berjalan dengan atau tanpa kita. Akhirnya semuanya kembali pada kita, apakah kita ingin menjadi umat yang ‘diganti’ atau menjadi umat yang ‘mengganti’.
Sirot Fajar | 147
Proses pergantian itu tidak bisa dianalogikan dengan pemain line-up dalam sepak bola. Di mana pemain pengganti biasanya memang tidak lebih baik dari pemain yang diganti. Pemain cadangan/pengganti biasanya memang kualitasnya dibawah pemain line-up. Tidak! Karena Allah telah menjamin bahwa orang yang mengganti itu lebih dicintai oleh Allah. Tentunya, karena yang mengganti lebih baik dari pada yang diganti.
Kalau kita mencermati ayat di atas, maka kita akan menemukan sebuah fakta: jika ada satu orang yang keluar dari agama ini atau tidak lagi mau berjuang di jalan da’wah ini, maka Allah akan mengganti dengan banyak orang. Hal ini dapat dilihat dari penggunaan bahasa al-Qur’an. Tatkala menyebut kata murtad (yang diganti), Allah menggunakan kata yartadda yang kalau dalam bahasa arab itu merupakan kata mufrod/tunggal. Sedangkan ketika menyebut penggantinya, Allah menggunakan kata qoum yang berarti kaum atau orang banyak. Hal ini dikuatkan lagi dengan penggunaan kata jama’/plural setelahnya (yuhibbuuna, yujaahiduuna, dan la yakhoofuuna)
148 | C a t a t a n M a s ’ u l G a u l
Maka satu orang yang murtad dari agama ini, maka Allah akan mengganti banyak orang yang lebih baik dari dia. Satu orang yang mutung dari jalan da’wah ini, maka Allah akan mengganti dengan seribu orang yang lebih baik dari dirinya. Disinilah pepatah, “Mati Satu Tumbuh Seribu” itu nyata terlihat…
Ketika makin banyak yang mutung dari jalan dakwah, ketika jumlah kader dakwah terus berkurang, mungkin saja kita akan merasa makin berat. Bahkan mungkin kecewa karena ternyata kita tidak pernah menjumpai ‘para pengganti’ yang dijanjikan tersebut. Namun kita harus tetap yakin dengan datangnya generasi pengganti tersebut.
Mungkin saja Allah mengganti dalam bentuk yang lain. Orang-orang yang mau bertahan, Dia jadikan menjadi orang dengan kapasitas yang luar biasa, yang bisa mengisi kekosongan yang ditinggalkan orang-orang sebelumnya. Bukankah ada seorang yang disetarakan dengan ribuan orang? Bukankah kata Qoum, juga seakar dengan kata Qowwam yang berarti pemimpin?
Akhirnya, bertanyalah kita pada diri ini, apakah kita akan menjadi orang yang ‘diganti’ atau kah yang ‘mengganti’??
Sirot Fajar | 149
Masa muda adalah saat yang tepat untuk belajar yang sebanyak-banyaknya. Terlebih bagi para calon PEMIMPIN. Belajar di masa muda mutlak diperlukan.. Umar bin Khatthab berpesan, "Ta'allamu Qobla An Tasuuduu: Belajarlah sebelum kalian memimpin.." Mengapa?? Sebab, "Ketika anak muda menjadi pemimpin ia akan kehilangan banyak waktu belajarnya," begitu kata Imam Syafi'i..
Status FaceBook
150 | C a t a t a n M a s ’ u l G a u l
Kader-kader Yang Tak Pernah Keder
Keluarlah keluarlah saudaraku
Berdirilah tegap di ujung jalan itu
Sebentar lagi sejarah kan lewat
Mencari aktor baru untuk drama kebenarannya
Sambut saja dia
Engkaulah yang ia cari
(M. Anis Matta, Lc)
Seringkali kali saya mendengar keluhan dari adik-adik. Ada yang beralasan karena pergaulan di kampusnya tidak ada yang ikut ngaji, sehingga ia pun malas untuk menghadiri halaqah. Ada yang memang bawaannya sejak SMA tidak kenal islam, sehingga di saat kuliah agak parno dengan hal-hal yang berbau islam. Ada yang SMA-nya rajin ngaji tapi karena salah pergaulan akhirnya tidak mau ikut ngaji lagi. Bahkan ada yang dari pesantren, tetapi saat kuliah kehilangan identitas kesantriannya. Dan berbagai curahan hati lainnya..
Sirot Fajar | 151
Tak terkecuali, masalah-masalah itu pun menyapa kader-kader yang telah lama terjun di dunia dakwah. Berapa banyak kader yang begitu getol berdakwah saat dikampus tapi ia menghilang begitu saja dari arena dakwah setelah diwisuda. Atau mungkin kader yang begitu semangat dakwahnya ketika di masjid dan syuro’, tapi ketika saatnya kuliah di kampus, ia kembali ke habitat semula: menjadi orang yang pantas untuk didakwahi. Semoga Allah menjaga dan senantiasa memberikan rahmat-Nya kepada kita agar tidak futur dari jalan dakwah ini..
Yang sering menjadi alasan ke-futur-an adalah karena sebab lingkungan dan kondisi. Karena temannya tidak ada yang mau diajak ngaji, maka ia pun tidak ngaji juga, karena kalau tetap ngaji dibilang ‘sok alim’. Karena teman-temannya pada lepas jilbab atau mungkin pake tapi ‘jilbab gaul’ dan pakaiannya kekurangan bahan, maka ia pun segera meminjam pakaian adiknya untuk menyesuaikan dengan teman-temannya. Dan berbagai contoh yang lainnya...
Dalam berinteraksi sosial seseorang hanya dihadapakan pada dua pilihan: mempengaruhi dan dipengaruhi. Kalau ada orang yang tidak mau ‘mempengaruhi’,
152 | C a t a t a n M a s ’ u l G a u l
maka ada kemungkinan bahwa dia ingin menjadi orang yang ‘dipengaruhi’, biarpun ia tidak menyadarinya. Kalau kita tidak mampu—atau mungkin juga tidak mau—mempengaruhi teman-teman kita untuk berbuat kebajikan, maka diri kita akan berpotensi untuk dipengaruhi agar berbuat keburukan. Ketika kita punya kesungguhan untuk memengaruhi lingkungan kita, paling tidak kita tidak akan mudah untuk di pengaruhi.
Jika sekarang banyak yang curhat karena telah dipengaruhi lingkungannya, semoga nantinya banyak yang bilang dan bertekad, “Karena lingkungan saya seperti itu, maka saya harus mempengaruhi lingkungan dengan pengaruh yang ada dalam diri saya. Saya harus merubah lingkungan menjadi lebih baik”.
Seseorang yang kuat melawan arus lingkungan yang menghanyutkan hanyalah orang-orang yang kuat: kuat kepribadiannya, kuat karakternya, kuat tsaqofahnya, kuat tarbiyahnya, kuat ibadahnya, dan kuat imannya. Mereka menjadi orang yang kuat karena memiliki konsep diri yang jelas. Dalam bahasanya para ulama, mereka adalah orang-
Sirot Fajar | 153
orang yang ma’rifatun nafs atau orang yang mempunyai pengetahuan tentang dirinya.
Ma’rifatun nafs adalah sebuah ilmu yang berdiri paralel dengan ma’rifatullah. Maka Ibnu Qiyyim AL-Jauziyah memasukkan ilmu ma’rifatun nafs sebagai ilmu kedua setelah ma’rifatullah. Sebab, seperti kata Ali bin Abi Thalib, “man ‘arofa nafsahu, ‘arofa Rabbahu... Barang siapa yang mengenal dirinya maka ia mengenal Tuhan-Nya”
Seorang yang mengetahui ‘dirinya’ dengan baik maka ia akan berpeluang untuk dapat menumbuhkan dan memaksimalkan sisi-sisi positif yang ada dalam dirinya. Dengan mengetahui kadar kemampuannya maka seseorang akan mampu mengoptimalkan quwwatul khair (kekuatan kebaikan) yang ada dalam dirinya. Dan di saat yang sama ia akan mampu meminimalisir quwwatus syarr (kekuatan kejahatan) yang ada dalam dirinya.
Ya.. ya.. ya... ‘alaa kulli haal, kader dakwah sejati harus siap menghadapi bagaimanapun kondisi lingkungannya. Ia senantiasa teguh menghadapi arus dan badai kerusakan umat. Ia akan selalu bersama kebenaran biarpun hanya ia seorang diri yang bersama kebenaran tersebut. Mereka
154 | C a t a t a n M a s ’ u l G a u l
mengingatkan saya dengan ungkapan Imam Hasan Al-Banna, “Antum ruhun jadidah tarsi fi jasadil ummah”. Kamu adalah ruh baru, kamu adalah jiwa baru yang mengalir di tubuh ummat, yang menghidupkan tubuh yang mati itu dengan Al-Qur’an.
Kini saatnya kader tidak lagi mengandalkan kebesaran oraganisasi. Atau menagandalkan dakwah rame-rame. Ia harus mampu terjun ke lapangan seorang diri. Ia harus mampu menjadi ruh baru yang mengalir di tengah lingkungannya. Maka kader masa kini senantiasa meningkatkan kapasitas dirinya. Karena hanya dengan itulah ia bisa menjadi pribadi yang lebih baik. Sebab Rasulullah sendiri telah mengingatkan:
مَنْ أَبْطَأ بِهِ عَمَلُهُ لَمْ يُسْرِعْ بِهِ نَسَبُه “Barang siapa yang lambat amalnya maka tidak akan dipercepat oleh nasabnya.” (HR. Abu Daud)
Nasab kita tidak akan memberi manfaat pada kita jika kita sendiri tidak mau beramal. Begitu pun dengan organisasi. Sebaik dan sehebat apapun organisasi tersebut membantu diri kita, tetapi kalau diri kita sendiri tidak
Sirot Fajar | 155
segera tergerak untuk berbenah dan memperbaiki diri, maka kesemuanya itu tidak ada gunanya.
Ah, kader.. Begitu indah namamu. Kebersamaan kalian di jamaah memang bagus, namun ada saatnya nanti kalian tidak lagi bersama. Ada saatnya kalian harus berpisah dan menanggung beban dakwah ini seorang diri. Mulai sekarang, belajarlah untuk ‘menikmati kesendirian’. Rubahlah dirimu sendiri. Budayakanlah Tarbiyah Dzatiyah (pendidikan mandiri) untuk menguasai mata kuliah kehidupan; untuk memahami medan dakwah antum.
Akhirnya, jika membahas para kader, saya selalu teringat dengan penulis buku ‘Untukmu Kader Dakwah’ Syaikhut Tarbiyah KH. Rahmat Abdullah. Suatu ketika beliau berpesan, ”Selalulah bersama Kebenaran, walaupun Engkau sendirian..”. Jangan pernah takut bersama kebenaran. Jangan pernah malu melakukan kebaikan. Pengaruhilah lingkungan Antum agar menjadi lebih baik. Jadilah cahaya di kegelapan di lingkungan Antum. Dan jangan pernah gentar. Karena saya yakin, bahwa antum adalah kader-kader yang tak pernah keder..
156 | C a t a t a n M a s ’ u l G a u l
Yakinlah, Bahwa Kita Bisa Memimpin..
“Teruslah bergerak, hingga kelelahan itu lelah mengikutimu
Teruslah berlari, hingga kebosanan itu bosan mengejarmu
Teruslah berjalan, hingga keletihan itu letih bersamamu
Teruslah bertahan, hingga kefuturan itu futur menyertaimu
Tetaplah berjaga, hingga kelesuan itu lesu menemanimu.”
(KH. Rahmat Abdullah)
Yahudi mengapa mereka berprestasi?. Begitulah pertanyaan yang diajukan KH. Toto Tasmara melalui judul bukunya. Tentu buku itu tidak mengajak kita untuk mengagumi dan mengikuti orang Yahudi. Tidak! Yang perlu kita contoh dari Yahudi adalah semangatnya. Biarpun jumlahnya hanya sedikit tapi mereka bisa mengendalikan dunia ini. Biarpun secara kuantitas mereka sedikit, namun secara kualitas tidak ada lagi yang meragukan mereka.
Seharusnya ini patut ditiru para aktivis dakwah, dimana jumlah mereka sangat sedikit jika dibandingkan dengan jumlah orang yang harusnya didakwahi. Di manapun itu, baik di kampus, kampung, parlemen, pasar dan tempat
Sirot Fajar | 157
lainnya, selalu saja jumlah para penyeru kebaikan itu lebih sedikit. Namun biarpun demikian, kita harus optimis bahwa kita juga bisa memenangkan dakwah ini. Syaratnya hanya satu: sabar. Ya, sabar. Sebab kesabaran itu lah yang akan menguatkan kita untuk terus menapaki jalan dakwah ini.
“Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah [2]: 249)
“Maka jika ada di antaramu seratus orang yang sabar, niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ratus orang kafir; dan jika di antaramu ada seribu orang (yang sabar), niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ribu orang, dengan seizin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar.” (Al-Anfaal [8]: 66)
“Memperjuangkan dakwah islam, sama dengan meniti jalan yang sudah dilalui Rasulullah saw. Dan jalan ini sejak dahulunya, memiliki tabiat serius dan sangat jauh dari sikap santai,” begitulah tulis Muhammad Nursani dalam artikelnya di majalah Tarbawi yang berjudul ‘Ini Jalan yang Penuh Keseriusan’.
158 | C a t a t a n M a s ’ u l G a u l
Jalan dakwah ini ada permulaannya dan tidak ada akhirnya. Selama kita masih bernafas, maka selama itu pula kita berkewajiban menjalankan dakwah ini. Karena jalannya yang panjang dan penuh keseriusan itu lah maka Syaikh Musthofa Masyhur mensyaratkan sifat ‘nafasun thawil’ atau nafas panjang, yang harus ada dalam diri para pejuang dakwah. Baginya, jalan perjuangan yang terjal dan panjang tak mungkin bisa dilewati oleh orang-orang yang ber-‘nafas pendek’ alias mudah goyah, dan tidak sabar.
Kesabaran. Apakah makna yang kita pahami tentang kesabaran itu? Dalam Serial Kepahlawanan-nya Anis Matta mengatakan, “Kesabaran adalah daya tahan psikologis yang menentukan sejauh apa kita mampu membawa beban idealisme [...], dan sekuat apa kita mampu survive dalam menghadapi tekanan hidup.”
Mungkin mimpi kita untuk memenangkan dakwah kampus ini terlalu tinggi jika melihat kondisi saat ini. Namun jangan sampai kita menyerah sebelum bertanding. Jangan sampai untuk sekedar bermimpi saja kita tidak memiliki kesabaran. Mungkin juga jalan dakwah ini memang benar-banar berat. Namun jangan sampai kondisi ini melumpuhkan
Sirot Fajar | 159
semangat kita untuk terus berjuang. Jangan sampai kita seperti yang dikatakan Sayyid Quthb, “Kau mulai jemu berjuang, lalu kau tanggalkan senjata dari bahumu?”
Kesabaran. Sejauh manakah kita harus mempertahankan kesabaran dalam perjuangan ini. Sedangkan dalam Al-Qur’an Allah selalu memerintah untuk bersabar dalam semua tahap perjuangan dakwah Rasulullah: dakwah sirriyah, dakwah jahriyyah, hijrah, periode Madaniyah, menjelang turunnya kewajiban jihad, ketika ada perintah jihad, setelah jihad dilaksanakan dan seterusnya..
Kesabaran. Dan apakah yang akan Allah berikan jika kita mampu bersabar dalam perjuangan ini? “Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar. Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami.” (As-Sajdah [32]: 24)
Yakinlah saudaraku, bahwa kita pun bisa memimpin dan memenangkan dakwah (di) kampus ini. Syaratnya hanya satu; bersabarlah. Karena Allah telah berjanji akan memberikan kepemimpinan dalam agama (al-imaamu fi ad-diin) ini ketika
160 | C a t a t a n M a s ’ u l G a u l
kita mampu bersabar. Bersabarlah, bersabarlah, dan bersabarlah dalam melakukan perjuangan dakwah ini.
Akhirnya, “Sabar”, kata Anis Matta dalam Arsitek Peradaban-nya, “Bagaikan laut yang dapat menghanyutkan semua kesedihan, kelemahan, ketakutan, kecemasan, kekhawatiran, emosi, ketergesa-gesaan, dan semuanya. Tapi bukan hanyut untuk hilang selamanya. Melainkan hanyut untuk kembali menjadi kekuatan jiwa baru, dorongan baru, dan semangat baru.”
“Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung.” (Ali ‘Imraan [3]: 200)
Selamat menikmati episode dakwah kampus yang aduhai..!!
Sirot Fajar | 161
Sekelumit Kisah Seorang bertanya kepada Hasan Al-Banna, “Bila keadaan memisahkan hubungan kita, siapa yang Anda rekomendasikan untuk kami angkat jadi pemimpin?” Dengan tegas beliau menjawab, “Wahai Ikhwan, silahkan angkat orang yang paling lemah, kemudian dengar dan taatilah dia, niscaya ia akan menjadi orang paling kuat di antara kalian” Ketika cerita ini saya sampaikan saat mengisi materi Al-Qiyadah wal Jundiah di UKM BKI UWKS, seorang peserta bertanya: Apa benar Hasan Al-Banna menyarankan memilih orang yang paling lemah? Saya pun cuma tersenyum kemudian menjawab: maksudnya, jika yang paling lemah saja menjadi orang paling kuat jika didukung, apalagi jika orang tersebut sudah kuat. Tentu akan lebih kuat lagi.. Nah, siapapun masul kalian, dukunglah dengan sepenuh hati. Jika ada yang kalian tidak suka, silahkan disampaikan dengan cara yang baik…:-)
162 | C a t a t a n M a s ’ u l G a u l
Sampai Allah Mengirim ‘Malaikat’-Nya
Allah pasti ‘kan bersamamu
Bila kau selalu bersama-Nya
Allah pasti ‘kan menolongmu
Bila kau menolong agama-Nya
(Izzatul Islam, Allah Bersamamu)
Dalam sebuah organisasi, tak terkecuali organisasi/lembaga dakwah, kaderisasi merupakan salah satu kerja inti. Proses kaderisasi bertujuan menghasilkan kader yang memiliki kecakapan (muwashofat) kader sehingga terbentuk pribadi yang unggul. Kurang lebih begitulah yang saya baca dalam buku Risalah Manajemen Dakwah Kampus.
Masih dalam buku yang sama disebutkan bahwa, “Untuk dapat merealisasikan model kader yang kita inginkan, harus dibuat pentahapan menuju ke sana. Inilah yang kita sebut alur kaderisasi.” Dalam penjenjangan kadernya itu mungkin ada beberapa tahapan dan nama yang berbeda dari masing-masing kampus, yang itu disesuaikan dengan kampus masing-masing. Namun esensinya sama: kaderisasi.
Sirot Fajar | 163
Di Unit Kegiatan Kerohanian Islam (UKKI) Universitas Negeri Surabaya (Unesa), pun ada beberapa tahapan kaderisasi. Tahap pertama adalah Study Islam Intensif (SII) [kader muda], tahap kedua: Learning I [kader madya], dan tahap tiga: Learning II [kader purna].
Nah, biasanya SII selalu dilakukan di pesantren-pesantren yang ada di luar kota. Menurut beberapa senior yang sempat saya wawancarai, SII sengaja dilakukan di luar kota agar memberi kesan tersendiri bagi peserta. Selain itu, hal itu juga untuk menarik peserta agar minat ikut jenjang kaderisasi (Ya biasa, kalau keluar kota bisa sekalian rihlah). Mungkin mereka ingin menerapkan prinsip pesan pertama begitu menggoda, selanjutnya terserah Anda.
Tahun 2009, tahun ketika saya baru mulai memasuki dunia kampus, kebetulan SII diadakan di Pon-Pes Riyadul Jannah Pacet Mojokerto. Dari foto yang ada di pamflet, bisa kami lihat bahwa pesantren tersebut benar-benar asri dan indah. Apalagi ditambah kolam ikan yang ada di dalam pesantren. Tempat ini pun cukup menarik bagi para mahasiswa. Itu terbukti dengan tidak cukupnya tiga
164 | C a t a t a n M a s ’ u l G a u l
kendaraan yang disediakan panitia, yang kemudian memaksa mereka untuk mendatangkan dua kendaraan lagi.
Selama kegiatan, di hadapan peserta, panitia selalu menampakkan kecerian. Mereka mengaku gembira dengan banyaknya peserta yang sampai melebihi target. Tapi dibalik kegembiraan itu semua, ternyata panitia merasa khawatir dengan membludaknya peserta. Mereka khawatir kalau uang yang dianggarkan sebelumnya tidak cukup. Dan untuk mencari tambahan dana tentu merupakan hal yang sulit karena acara telah dimulai. Selain itu panitia juga sudah terlalu sibuk untuk melakukan itu semua.
Ketika hari ke-3, sebelum acara ditutup, semua panitia dan peserta berkumpul untuk melaksanakan penutupan di ruang aula pesantren. Sembari menunggu pengasuh Pon-Pes yang dicanangkan menutup acara tersebut, ketua panitia menjelaskan keadaan yang sebenarnya. Di satu sisi ia merasa bahagia karena pesertanya banyak dan dapat berjalan dengan baik, tapi di sisi yang lain ia merasa sedih karena dana yang dianggarkan tidak cukup. Dana yang dianggarkan untuk menyewa kendaraan buat pulang, telah dipakai
Sirot Fajar | 165
menyewa saat berangkat. Sehingga dana buat pulang pun menjadi kurang.
Di tengah suasana seperti itulah kemudian pengasuh pesantren yang mau menutup acara datang. Tapi beliau tidak datang sendiri. Beliau datang bersama seseorang yang sebelumnya belum pernah kami lihat dan kenal. Dari tampangnya, seharusnya kami sudah bisa mengira, siapa sebenarnya orang itu. Tapi karena kecamuk pikiran kami, sehinga kami tidak terlalu memedulikan kehadiran orang itu.
Setelah ketua panitia selesai bicara, dan kami sepakat untuk menggalang dana seikhlasnya untuk biaya pulang, bapak pengasuh Pon-Pes minta waktu sebentar untuk berbicara. Beliau menjelaskan siapa sebenarnya lelaki yang bersamanya itu. Kami pun seketika bertakbir, karena ternyata orang yang bersamanya adalah Syeh Ahmad Darwis yang baru datang dari Mesir. Beliau mau mengisi seminar di Malaysia, tapi menyempatkan diri untuk berkunjung ke pesantren tersebut. Yang lebih menggembirakan, karena Syeh Ahmad Darwis bersedia memberi sedikit nasehat kepada kami.
166 | C a t a t a n M a s ’ u l G a u l
Ketika melihat kami mengumpulkan uang, Syeh Ahmad Darwis berbisik kepada bapak pengasuh. Setelah itu beliau memanggil panitia yang membawa kardus buat pengumpulan uang. Tak kami sangka ternyata beliau mengeluarkan lembaran uang 100 ribuan dan memasukkannya dalam kardus. Kami pun seketika bertakbir. Setelah itu bapak pengasuh menjelaskan, bahwa ketika berbisik tadi, Syeh Ahmad Darwis bertanya, untuk apa kami mengumpulkan uang.
Kejadian itu pun semakin membuat kami yakin, jika kita mau menolong agama Allah, maka Allah tidak akan pernah menyia-nyiakan kita. Di saat kami kesulitan untuk pulang, ternyata Allah mengirim ‘malaikat’ dari mesir. Yang selain menyumbang materi, ‘malaikat’ itu pun memberi tausiyah kepada kita. Sehingga semakin membuat kami yakin untuk terus berada di jalan dakwah ini…
“Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (QS. Muhammad [47]: 7)
Maka jangan pernah mangkir dari jalan dakwah ini. Sebab, “Dakwah akan terus berjalan, dengan atau tanpa kita. Kalau tidak bersamamu dakwah akan bersama yang lain.
Sirot Fajar | 167
Kalau tidak bersama dakwah, engkau mau bersama siapa?”. Begitu yang saya baca di buku New Quantum Tarbiyah.
Selalulah berada di jalan dakwah ini, kapanpun, dimanapun, dan dalam kondisi bagaimanapun. Dengan dakwah, InsyaAllah hidup kita akan lebih barakah. Dengan kita berada di jalan dakwah ini, Allah akan senantiasa menolong kita, dengan cara yang tidak pernah kita pikirkan sebelumnya.
Wallahu a’lam bish showaab...
168 | C a t a t a n M a s ’ u l G a u l
Daftar Pustaka
Abdullah, Rahmat. 2008. Warisan Sang Murabbi. Jakarta: Tarbawi Press.
Alamsyah, Isa. 2010. No Excuse!. Jakarta: Asma Nadia Publishing House.
Aulia, Muhammad Lili Nur. 2011. Allah, Kokohkan Kaki Kami di Atas Jalan-Mu. Jakarta: Tarbawi Press.
Baron, Robert A. dan Byrne, Donn. 2005. Psikologi Sosial. Terjemahan oleh Ratna Djuwita. Jakarta: Erlangga.
Fajar, Sirot. 2013. Psikologi Pemuda. Yogyakarta: Mitra Pustaka Nurani
Fillah, Salim A.. 2007. Saksikan Bahwa Aku Seorang Muslim. Yogyakarta: Pro-U Media.
Izzuddin, Solikhin Abu. 2009. New Quantum Tarbiyah. Yogyakarta: Pro-U Media
Nursani, Muhammad. 2008. Berjuang di Dunia Berharap Pertemuan di Surga seri-2. Jakarta: Tarbawi Press
Nursyam, Fakhruddin. 2006. Arba’in Da’awiyah. Solo: Bina Insani Press
Matta, Anis. 2007. Arsitek Peradaban. Jakarta: Firah Robbani.
Matta, Anis. 2009. 8 Mata Air Kecemerlangan. Jakarta: Tarbawi Press.
Sarwono, Sarlito Wirawan. 2007. Psikologi Remaja. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Sirot Fajar | 169
Shihab, Quraisy. 2007. Lentera Hati. Bandung: Mizan Pustaka
Syafi’i, Syaikh Nashir Asy-. 2007. Dai-dai Cilik: kisah Anak-anak Ajaib Penuh Inspirasi. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar.
Zairofi, Ahmad. 2009. Lelaki Pendek Hitam dan Lebih Jelek dari Untanya. Jakarta: Tarbawi Press
Dan berbagai sumber lain yang saya tidak lagi mengingatnya. Baik itu buku, majalah, Koran, bulletin, blog, fb, sms tausiyah, nasihat para asatidz, dan lainnya. Terutama yang menjadi Status Facebook.. Afwan jika ada refrensi yang belum tercantum. “Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur'an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian.”
170 | C a t a t a n M a s ’ u l G a u l
Profil Penulis
Sirot Fajar pernah menjadi Ketua Muslim Youth Club (FB: Klub Da’wah Kampus Unesa) pada tahun 2011 & 2012. Selain itu juga pernah aktif di berbagai organisasi kampus di antaranya: Infokom BEM FIP, KaDept Agama BEMP Psikologi, KaDept PSDM UKKI Lidah 2012, Dirjen Kajian Islam Kementrian Agama BEM Unesa 2013, dll..
Sejak menjadi ketua MY Club, ia ‘terpaksa’ mulai mengisi kajian-kajian & training yang diadakan SKI, Depag/LDF, Musholla, dll, juga ke beberapa kampus tetangga yang ada di Surabaya..
Allah mengabulkan keinginannya untuk menjadi mas’ul yang tidak kuper dengan memberi kesempatan berkunjung ke berbagai kampus di luar Surabaya dalam berbagai kegiatan di antaranya: di UM Malang, UMI Makassar, UGM Yogya, UB Malang, ITB Bandung, UNJ Jkt, Univ Andalas, Univ Trisakti Jkt, UNP Padang, UIN Jogja, UTM Madura, dll..
Telah menulis dua buku yang telah diterbitkan: Psikologi Pemuda dan 30 Renungan Agar Sukses Menjalani Hidup.
Untuk Bersilaturrahim dengannya bisa kirim email ke sifa_jarumy@yahoo.com atau langsung di 0857-3229-9580.
Sirot Fajar | 171
Psikologi Pemuda
“Kalau aku dihadapkan pada masalah besar, maka yang kupanggil pertama kali adalah seorang pemuda.”
--Khalifah Umar bin Khatthab—
“Berikan padaku 10 pemuda maka dengannya aku akan mengguncang dunia.”
--Soekarno, Proklamator RI—
“Anak-anak muda selamanya adalah energi peradaban yang mengalirkan sungai sejarah. Setiap kali energi itu meledak, maka sejarah segera mencatat peristiwa-peristiwa dan langit menjadi saksi.”
--Anis Matta—
Siapakah pemuda itu? Yang begitu hebat dan bisa diandalkan? Yang dinanti-nanti dan dirindukan? Adakah di antaramu yang sudah termasuk di dalamnya? Atau, maukah kamu menjadi bagian darinya? Menjadi pemuda: generasi hebat, pembangun umat!
Dapatkan buku Psikologi Pemuda di TB Gramedia atau beberapa TB online yang ada..
172 | C a t a t a n M a s ’ u l G a u l
30 Renungan Agar Sukses Menjalani Hidup
“Mereka yang tak pernah lupa hakekat hidup yang hanya sekali, tak pernah ragu untuk memilih keabadian si sisi-Nya dan terus menggaungkan suara kebenaran yang diyakininya”
(KH. Rahmat Abdullah)
“Jika kamu mendambakan kemuliaan yang sempurna, maka janganlah membanggakan kemuliaan yang bisa sirna”
(Ibnu ‘Athaillah)
Ternyata tidak semua orang paham akan hakikat hidup ini. Atau, mungkin juga paham hanya sering melalaikannya. Padahal, bagaimana pemahaman kita terhadap hidup ini, seperti itulah kita menjalaninya.
Renungan-renungan dalam buku ini akan membantu kita memahami kehidupan. Bukan sekedar menjalani, namun menjalani kehidupan dengan penuh makna sehingga memperoleh kesuksesan hidup. Sukses dalam pandangan manusia, dan lebih penting lagi dalam pandangan Allah..
Sirot Fajar | 173
Sepotong Hati Untukmu Mahasiswa
“Berawal dari kata, peristiwa besar bisa terjadi. Berawal dari kata, perubahan-perubahan mengejutkan bisa mengguncang hati. Berawal dari kata pula, seorang yang keras bisa lunak hatinya. Sebaliknya, orang baik-baik bisa berubah menjadi orang yang rusak karena mendengar, mencerna atau membaca tulisan yang merusak hati dan pikiran..” (Inspiring Words for Writers)
Cita-cita kami untuk memenangkan dakwah kampus pun ingin kami mulai dengan ‘kata’.
Sebab, sebagaimana kata pemikir dan pemimpin pergerakan Islam di India, Abul Hasan Ali Al-Hasani An-Nadawai, bahwa “Kata adalah sepotong hati”.
Maka ini lah sepotong hati untukmu..
Buku ini berisi kumpulan tulisan teman-teman Klub Dakwah Kampus pada tahun 2011. Berisi renungan, kisah, dan motivasi untuk terus menguatkan kita agar terus berada di jalan dakwah (kampus)..
Buku ini hanya dicetak terbatas untuk kalangan sendiri. Hanya ebook-nya disebarluaskan secara gratis..
Ingin mendapatkan buku atau ebook-nya? Silahkan hubungi akun FB Klub Da’wah Kampus Unesa, email sifa_jarumy@yahoo.com atau SMS 0857-3229-9580.
174 | C a t a t a n M a s ’ u l G a u l
C a t a t a n M a s ’ u l G a u l
Rabu, 22 April 2015 - -
Hak Cipta © 2014 pada Penulis
Dianjurkan untuk menyebarkan ebook ini, hanya saja jangan dikomersilkan. Kalo mengkomersilkan harus memberi royalti pada penulisnya, hehe :-)
Ingin mendapatkan edisi Bukunya?
Silahkan hubungi penerbit. Harga Rp.35.000, 00.
Judul buku : Catatan Mas’ul Gaul
Penulis : Sirot Fajar
Desain Cover : Tim Mahasiswa SUPER
Diterbitkan Oleh:
Mahasiswa Super Community
FP FB : Mahasiswa SUPER
Email : supermahasiswa@yahoo.com
Contact : 0857-3229-9580
Sirot Fajar | 3
Pengantar Penulis
Segala puji bagi Allah yang telah memberi banyak nikmat sehingga ebook ini bisa jadi. Sholawat dan salam semoga terlimpah kepada Nabi Muhammad saw..
Tepat pertengahan Ramadhan, ada seorang adik yang mau minta bantuan saya untuk melihat tulisannya. Katanya, ia mau mengumpulkan tulisan-tulisannya yang berserakan, untuk disatukan jadi buku. Belum sempat ia mengirimkan, ternyata saya kepikiran untuk mengumpulkan catatan-catatan yang pernah saya tulis. Akhirnya jadilah ebook ini.
Catatan–catatan ini lahir begitu saja. Biasanya terinspirasi menulis setelah menyaksikan sesuatu, menghadapi masalah dakwah kampus, mendapat semangat baru, dan di suasana hati lain. Catatan-catatan ini biasanya saya buat notes atau status di facebook, masukkan bulletin/majalah dakwah kampus, madding, dll. Bahasanya pun mungkin agak kacau, tidak sebaik kalau nulis buku. Tentu tidak semua notes saya masukkan. Ini hanya sebagian yang berkaitan dengan dakwah kampus dan berhubungan dengannya.
4 | C a t a t a n M a s ’ u l G a u l
Mungkin ada yang bertanya terkait judul, kog pede banget memakai judul “Mas’ul Gaul”? Apa iya Sirot itu Gaul? Apa bener Sirot Masul yang Gaul? Entahlah. Kebetulan saja catatan terakhir yang saya tulis itu berjudul “Mas’ul Gaul”. Karena bingung ebook ini mau diberi judul apa, ya akhirnya pakai kalimat itu saja..
Sekian pengantar ebook ini, semoga bermanfaat. Jika ada yang hendak didiskusikan bisa dikirim ke email: sifa_jarumy@yahoo.com.
“Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (QS. Muhammad [47]: 7)
Lamongan, 17 Ramadhan 1435 H
Sirot Fajar
Sirot Fajar | 5
Catatan Mas’ul Gaul
Sepotong Inspirasi untuk Aktivis Dakwah Kampus
Pengantar Penulis................................................................3
1. Memberi Arti Kehidupan………………………………………………..7
Memberi Arti Kehidupan………………………………8
Perjuangan & Pengorbanan………………………….12
Manusia Besar……………………………………………….18
2. Mahasiswa Dewasa……………………………………………………..…25
Mahasiswa Dewasa………………………………………26
Gajah Sexy dan Mahasiswa Sekarang……..32
Yang Muda, Yang Peduli & Penuh Karya…..38
Sang Penterjemah……………………………………….48
3. Menyalakan Lilin Dakwah……………………………………………..55
Sepenggal Kisah dalam Bis………………………...56
Menyalakan Lilin Dakwah…………………………….61
Ssstt Jangan Diam………………………………………68
Sakinah dalam Perjuangan………………………….72
Yang Mengajak, Yang Menyampaikan……….77
Sampaikan Kebaikan Meskipun Belum Melaksanakannya………………………………………….84
6 | C a t a t a n M a s ’ u l G a u l
Mengubah Dunia dengan Cinta………………….93
4. Semangat Pembelajaran………………………………………………97
Maaf, Aku Belum Berpengalaman……………..98
Yang Membuka Hati dan Wawasan…………104
Inilah yang Membedakan Kita dengan Mereka………………………………………………………….110
Masul Gaul…………………………………………………….113
Pembenaran Atas Kesalahan………………….....117
5. Bersama dalam Dakwah………………………………………………119
Penari dan Perbedaan Kita………………………...120
Kita Mungkin Beda, Tapi.. ………………………...122
Madu di Sarang Lebah…………………………….…128
Ukhuwah Anjaliah…………………………………….…133
Syubhat Dalam Berjamaah…………………….…138
6. Teruslah di Jalan Dakwah…………………………………………..145
Pengganti dan Yang Diganti……………………...146
Kader-kader Yang Tak Pernah Keder…....150
Yakinlah Bahwa Kita Akan Memimpin….….156
Sampai Allah Mengirim Malaikat-Nya…...162
Sirot Fajar | 7
Bagian 1
Memberikan Arti untuk kehidupan
Hidup di dunia ini hanya sekali
Karena setelah itu kita ‘kan mati
Namun bukan berarti itu tanda usai
Karena setelahnya ada kehidupan lagi
Hidup ini hanya perjalanan
Tempat kita menghimpun perbekalan
Agar kelak beroleh kebahagiaan
Dan tidak berakhir penyesalan
8 | C a t a t a n M a s ’ u l G a u l
Memberikan Arti Bagi Kehidupan
“Hidup sekali, hiduplah yang berarti”
--KH. Imam Zarkasyi—
Ternyata bukan lama waktu yang menentukan kebesaran seseorang. Ada orang yang hidup di dunia ini lebih dari satu abad tapi biografinya selesai ditulis dalam tiga baris di batu nisan: nama, tanggal kelahiran, dan tanggal kematian. Sementara hanya enam puluh tiga tahun Rasaulullah hadir di panggung sejarah ini, tapi para penulis dan sejarawan belum juga usai menulis dan menggali sejarahnya. Kenapa? Sebab beliau mewakili seluruh efisiensi, efektifitas, dan produktifitas waktu.
Seperti apa kita mengelola dan mengatur waktu yang kita miliki, seperti itu pulalah sebenarnya kualitas diri kita. Sebab, masalah kita dengan waktu adalah masalah keterbatasan dan ketidakpastian. Maka yang terpenting bagi kita bukanlah ‘berapa lama kita hidup di dunia ini’, tapi lebih pada ‘bagaiman kita memanfaatkan hidup yang hanya sebentar ini’. Maka manajemen waktu merupakan sebuah
Sirot Fajar | 9
keniscayaan. Karena waktu merupakan asset yang paling berharga dalam hidup kita.
Manajemen waktu, kata Anis Matta, merupakan bagian yang paling berkaitan dengan pandangan hidup seseorang, dan karenanya bersifat spesifik, unik, dan kasuistis. Dalam sekala yang lebih luas, manajemen waktu sangat terkait dengan falsafah hidup dan budaya sebuah masyarakat.
Kesalahan yang sering kita lakukan dalam manajemen waktu, lanjut Anis Matta, yaitu kebiasaan menyederhanakan konsep manajemen waktu menjadi cara menyusun jadwal kerja. Sebab, jadwal hanyalah bagian yang paling akhir dan paling teknis dari keseluruhan konsep majajemen waktu. Jadi, apa yang kita perlukan adalah sebuah persepsi tentang waktu sebagai ruang atau lanskap, di mana kita membangun rumah kehidupan kita.
Masyarakat kapitalis memandang waktu sebagai uang. The time is money, kata mereka. Sedang kita sebagai orang islam seyogyanya menganggap waktu sebagai kehidupan. Seperti kata Imam Hasan al-Banna, “al-waqtu huwal hayat (waktu adalah kehidupan).” Jika tujuan keberadaan kita di dunia ini adalah untuk beribadah kepada Allah, maka sudah
10 | C a t a t a n M a s ’ u l G a u l
seharusnya kita berusaha agar tiap saat dalam hidup ini juga bernilai ibadah.
Dalam al-Qur’an, selain kata al-waqt (waktu), ada juga kata al-ashr yang berarti masa atau waktu. Kata al-ashr sendiri terambil dari akar kata yang berarti “memeras atau menekan sekuat tenaga sehingga bagian yang terdalam dari sesuatu dapat keluar dan nampak di permukaan.” Dari sini dapat kita pahami bahwa al-Qur’an menuntut agar kita umat Islam menggunakan al-ashr (waktu) dengan sekuat tenaga; memeras keringat, sehingga sari pati kehidupan ini dapat diperoleh.
Akhirnya, di sisa usia kita yang entah masih berapa, tiada yang lebih indah dari pada kita memberikan arti bagi kehidupan ini. Saatnya untuk membuang rasa malas. Saatnya untuk bersegera melakukan amal sholih. Saatnya untuk berjuang, berpeluh dan berlelah. Agar di hari akhir nanti, kita tidak termasuk orang yang menyesal..
Sirot Fajar | 11
Yang namanya Kader LDK itu ya semuanya. Mulai dari low sampai top management.. Kalau ada yang bilang bahwa "Kader sekarang kog begini begitu..." maka yang dilihat bukan hanya yang 'di bawah' saja, tapi yang 'di atas' juga lebih perlu dilihat.. Kalau kader yang di bawah bermasalah, ada atasnya yang ngurusin. Masih mending! Kalo yang bermasalah yang atas, siapa yang mau ngurusi?? Maka menjadi mas'ul, pemimpin, Qiyadah dan sebutan lainnya justru harus lebih bisa menjaga hati, diri, dan laku. Sebab, yang di bawah akan senantiasa melihat tuk jadikan teladan..
Status FaceBook
12 | C a t a t a n M a s ’ u l G a u l
Perjuangan & Pengorbanan
“Perjuangan, bagi manusia-manusia yang agung itu, adalah sebuah instink yang sama kuatnya dengan instink lain dalam diri mereka.”
(Anis Matta)
Siapakah Nabi—selain Nabi Muhammad saw—yang namanya paling sering kita sebut?
Kalau jawaban saya tidak salah, maka beliau yang mulia adalah Nabi Ibrahim ‘alaihis salaam. Mari kita ingat, seberapa sering kita menyebut nama nabi-nabi itu. Tentu saja nabi yang paling sering kita sebut adalah Nabi Muhammad. Dan yang berada di posisi kedua tidak lain dan tidak bukan adalah Nabi Ibrahim AS. Tiap kali sholat, kita menyebut namanya setelah menyebut nama Nabi Muhammad SAW tatkala tahiyat akhir.
Jika kita mendengar nama Nabi Ibrahim, apakah yang terpikir dalam benak kita? Ya tidak salah. Pengorbanan. Lalu apa sih maksud dari pengorbanan itu? Dalam buku Berjuang di Dunia Berharap Pertemuan di Surga #2, Muhammad
Sirot Fajar | 13
Nursani menuliskan, “Berkorban artinya memberikan sesuatu untuk orang lain, mengeluarkan sesuatu bukan untuk kepentingan sendiri, atau, melakukan sesuatu yang hasilnya bukan untuk diri sendiri.”
Nabi-nabi yang diutus Allah, semuanya melakukan pengorbanan dalam hidup mereka. Minimal mereka telah mengorbankan waktu dan pikirannya untuk berdakwah, untuk mengajak manusia bertauhid pada Allah. Dan di antara 25 nabi yang namanya tercantum dalam al-Quran itu, ada lima nabi yang mendapat gelar ulul ‘azmi: orang yang memiliki tekad yang kuat.
Orang-orang besar dalam hidup ini adalah mereka yang hidupnya penuh perjuangan dan pengorbanan. Biarpun mereka meninggal saat masih berusia muda, tapi karena perjuangan dan pengorbanan selama hidupnya, seakan usianya memanjang mengikuti waktu kehidupan. Abadilah mereka.
Perjuangan dan pengorbanan yang dilakukan para nabi dan orang shalih terdahulu tidak ada yang ringan. Semuanya berat. Namun biar demikian tidak berarti tidak bisa kita lakukan. Perjuangan dan pengorbanan itu berat, tapi jika
14 | C a t a t a n M a s ’ u l G a u l
dibandingkan dengan kekuatan Allah swt itu sangat lah kecil sekali. Dan Allah sendiri telah menegaskan bahwa Dia tidak akan membebani seseorang melebihi kesanggupannya.
Perjuangan dan pengorbanan itu berat. Maka tidak banyak orang yang melakukannya. Yang melakukannya pun tidak semua kuat sampai akhir. Seringkali mereka futur di tengah jalan.
Akan kuatkah kaki yang melangkah
Bila disapa duri yang menanti
Akan kaburkah mata yang meratap
Pada debu yang pasti ‘kan hinggap
(Saujana, Suci Sekeping Hati)
Memang seberat apakah perjuangan dan pengorbanan itu? Lalu apa rahasia orang-orang besar itu sehingga mereka mampu bertahan dalam perjuangan dan pengorbanan?
Dalam lanjutan tulisannya Muhammad Nursani menuliskan, “Memberi, secara lahir adalah mengeluarkan sesuatu untuk orang lain yang berarti juga mengurangi sesuatu yang kita miliki. Tapi secara maknawi, memberi sesuatu kepada orang lain itu sama dengan memunculkan
Sirot Fajar | 15
ketenangan batin, kenikmatan dan kecerahan tersendiri bagi yang melakukannya.”
Dengan bahasa lain Anis Matta dalam Serial Cinta-nya menyebut hal seperti itu dengan “Kelezatan Ruhani”. Bahwa kelelahan-kelelahan [dalam perjuangan dan pengorbanan] itu melahirkan kegembiraan ruhani, kelezatan yang melahirkan energi baru untuk terus mengejawantahkan cinta.
Lalu bagaimana jika kita tidak dapat merasakan kenikmatan dalam melakukan perjuangan dan pengorbanan? Jika demikian, maka marilah kita lihat ke dalam diri kita sendiri. Barangkali ada niat yang salah atau ketidakberesan hati kita. Sebagaiman pesan Ibnu Taimiyah, “Bila di hatimu tak ada kelezatan yang bisa kamu dapatkan dari amal yang kamu lakukan, maka curigailah hatimu.”
Kenikmatan kita dalam perjuangan dan pengorbanan sangat dipengaruhi oleh sebesar dan seikhlas apa kita menjalaninya.
“Bila di hatimu tak ada kelezatan yang bisa kamu dapatkan dari amal yang kamu lakukan, maka curigailah hatimu.”
(Ibnu Taimiyah)
16 | C a t a t a n M a s ’ u l G a u l
Maka Umar bin Khatthab mengatakan, “Aku telah membuktikan bahwa kenikmatan hidup ini ternyata ada pada kesabaran kita dalam berkorban.”
Teruslah berjuang dan berkorban. Karena hidup ini pada hakikatnya adalah perjuangan dan pengorbanan. Dan perjuangan dan pengorbanan itu hanyalah untuk kosa kata kebaikan saja. Tidak ada perjuangan dan pengorbanan untuk hal keburukan. Dan perjuangan seorang muslim, kata Imam Ahmad, tiada berkesudahan sehingga kedua kakinya menginjak surga..
Sirot Fajar | 17
"Orang yang BAIK bisa membuat orang lain menjadi BAIK. Artinya kebajikan akan mendatangkan kebaikan dalam masyarakat." (Raja Thailand Bhumibol Adulyadej, dalam KoranSindo 260413) JIka kita memang orang BAIK, atau pun yang berkeinginan menjadi BAIK, mari tularkan ke-BAIK-an pada sesama.. Itulah dakwah: berbuat BAIK, dan menularkan ke-BAIK-an..
Status FaceBook
18 | C a t a t a n M a s ’ u l G a u l
Manusia Besar
“Orang yang hidup bagi dirinya sendiri akan hidup sebagai orang kerdil. Akan tetapi, orang yang hidup bagi orang lain akan hidup sebagai orang besar dan mati sebagai orang besar”
--Sayyid Quthb—
Suatu ketika saat mata kuliah observasi, seorang dosen memberi tugas pada mahasiswanya untuk melakukan observasi kecil-kecilan di lingkungan kampus. Terserah observasi apa yang penting observasi tersebut dilakukan di lingkungan kampus.
Nah, ada satu kelompok yang melakukan observasi unik. Mereka berkumpul di depan gerbang fakultas dan berdiri di tepi jalan yang tidak jauh dari pintu parkir. Setelah berdiskusi sebentar akhirnya beraksilah mereka. Mula-mula seorang mahasiswa (laki-laki) berdiri saja di tepi jalan. Tiap kali ada motor lewat ia melambaikan tangan, berharap bahwa pengendara motor itu akan berhenti.
Sirot Fajar | 19
Sampai kira-kira lima menit, tidak ada satu pun motor yang berhenti menghampiri mahasiswa tersebut.
Aksi selanjutnya, tidak jauh berbeda dari aksi pertama. Mereka semua ngumpet dan melihat dengan sembunyi-sembunyi kawannya yang berdiri di tepi jalan. Hanya saja untuk yang kedua ini diganti dengan mahasiswi (perempuan). Tidak butuh waktu lama seperti yang pertama tadi, ternyata ada motor yang berhenti. Ia juga mahasiswa, bukan tukang ojek. Sambil tersenyum mahasiswa yang mengendarai motor tersebut bertanya, “Ada apa mbak, ada yang bisa saya bantu?”
“Maaf mas, apa bisa mengantar saya ke Fakultas Ilmu Keolahragaan?,” kata mahasiswi yang observasi.
“Iya mbak bisa. Silahkan!”
Hmm.. Sebenarnya apa sih yang mereka lakukan? Observasi. Iya, tapi observasi apa? Ternyata mereka sedang mengobservasi perilaku prososial atau perilaku menolong terhadap orang lain yang dilakukan mahasiswa. Dalam kasus ini, yang menarik adalah mengapa mahasiswa sulit mendapat pertolongan sementara mahasiswi tampak lebih mudah?
20 | C a t a t a n M a s ’ u l G a u l
Boleh saja kita bilang bahwa kebetulan saja orang yang baik baru lewat tatkala mahasiswi sedang beraksi. Lalu bagaimana jika kejadian itu diulang sampai tiga kali dan hasilnya tetap sama. Jika mahasiswa yang melakukan tidak ada yang merespon namun jika mahasiswi yang melakukan langsung ada yang menghentikan motornya tidak lama kemudian. Apakah ini kebetulan orang yang baik baru lewat ataukah karena banyak mahasiswa yang pilih-pilih dalam menolong?
Wallahu a’lam.. Namun saya lebih sepakat yang kedua. Seringkali seorang itu pilih-pilih ketika akan melakukan tingkah laku prososial. Anggap saja bahwa objek observasi tersebut adalah para mahasiswa (bukan mahasiswi) saja. Dan kebanyakan mereka lebih memilih menolong kaum hawa dari pada yang sesama. Padahal kalau lawan jenis kan non muhrim, hehe..
Menurut Robert A. Baron dan Donn Byrne dalam buku Social Psychology ada beberapa hal yang menyebabkan seseorang melakukan prososial atau menolong orang lain.
Pertama: hipotesis empati-eltruisme. Orang yang masuk kelompok ini adalah orang yang menolong hanya
Sirot Fajar | 21
karena korban membutuhkan pertolongannya dan karena ada kebahagiaan ketika memberi pertolongan.
Kedua: model mengurangi keadaan negatif. Yaitu orang memberi pertolongan untuk mengurangi perasaan negatifnya sendiri dan membuat penolong merasa lebih baik.
Ketiga: hipotesis kesenangan empatik. Orang yang memberi pertolongan untuk terlibat dalam suatu aktivitas yang memiliki hasil akhir yang baik, membuat penolong merasa baik.
Sebenarnya masih ada satu lagi, tapi saya kira cukup tiga itu saja. Di antara ketiga itu, masuk yang manakah Anda? Jika saya ditanya seperti itu pun mungkin akan bingung juga. Mungkin tidak termasuk ketiga-tiganya. Sebagai seorang muslim yang saya tahu hanyalah bahwa Allah menyuruh kita untuk saling tolong menolong:
“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.” (Qs. Al-Maidah [5]: 2)
Sebagai seorang muslim kita diperintah Allah agar saling tolong menolong dalam kebaikan. Bahwa sebagai seorang muslim kita dituntut agar tidak hanya menjadi orang
22 | C a t a t a n M a s ’ u l G a u l
yang shalih li nafsihi tetapi juga dituntut untuk shalih li ghoirihi. Atau kalau dalam bahasanya Ust. Tete Qomaruddin dalam Majalah Ummi, “Yang Shalih, Yang Kontributif.”
Sholat kita baru sah jika kita menjalani rukunnya dari takbiratul ihram sampai salam. Takbir disini adalah isyarat ibadah ritual: mengagungkan Allah. Sedangkan salam adalah isyarat agar kita menebar salam pada sesama. Ini memberi pelajaran bagi kita bahwa untuk mencapai kesempurnaan ibadah mahdhoh kita harus melakukan ibadah ghoiru mahdhoh. Kalau kita telah usai mendirikan sholat maka bersegeralah untuk menebar salam dan kebajikan ke manusia lainnya. Segeralah memberi manfaat bagi orang lain.
”Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” (Hr. Tirmidzi)
Dalam perjalanan hidup ini, kita harus berusaha untuk menjadi orang yang bermanfaat. Terlebih jika kita mengaku
Orang sholih sejati bukan lah orang yang hidup bagi dirinya sendiri. Namun ia keluar dari dirinya untuk hidup bagi orang lain.
Sirot Fajar | 23
sebagai muslim. Dalam kondisi bagaimanapun dan di saat apapun pastikan kita berusaha untuk memberi manfaat pada sesama. Minimal kita tidak membebani sesama dengan keberadaan kita.
Orang sholih sejati bukan lah orang yang hidup bagi dirinya sendiri. Namun ia keluar dari dirinya untuk hidup bagi orang lain. Dari dirinya senantiasa mengalir mata air kebajikan yang dapat dirasakan bagi umat sekitarnya. Dalam bahasa Rasulullah, orang sholih yang seperti itu merupakan gambaran orang mukmin yang sebenarnya yang diilustrasikan sebagai lebah.
“Demi Dzat yang jiwa Muhammad ada dalam genggaman-Nya, sesungguhnya perumpamaan seorang mukmin adalah seperti lebah, ia makan yang baik-baik, mengeluarkan yang baik-baik, bila ia hinggap tidak membuat dahan patah dan rusak” (HR. Ahmad, 6577)
Lebah itu bisa mengeluarkan yang baik (madu) karena ia makan yang baik pula. Kita pun demikian. Kita baru bisa memberi ketika kita mempunyai. Seperti kata pepatah Arab, “Faqidusy-syai’i la yu’thiih.” (orang yang tidak mempunyai sesuatu, tidak akan bisa memberikan sesuatu). Bagaimana
24 | C a t a t a n M a s ’ u l G a u l
mungkin kita akan bisa memberi kalau kita sendiri tidak memiliki. Agar kita bisa membangun keshalihan sosial, mari kita terlebih dahulu membangun kesahalihan diri.
Orang yang senantiasa memberi manfaat bagi orang lain akan menjadi manusia besar dan selalu dikenang karena kebaikannya dirasakan banyak orang. Dan di saat berada di akhirat nanti pun mereka akan mendapat tempat terhormat di sisi Allah. Sebab, sebagaimana sabda Rasulullah di atas, mereka adalah ‘manusia terbaik’.
Mengenanang orang-orang besar, saya jadi teringat dengan Sayyid Quthb. Penulis tafsir fii dzilalil qur’an tersebut suatu ketika mengatakan, “Orang yang hidup bagi dirinya sendiri akan hidup sebagai orang kerdil. Akan tetapi, orang yang hidup bagi orang lain akan hidup sebagai orang besar dan mati sebagai orang besar”
Sirot Fajar | 25
Bagian 2
Mahasiswa Dewasa
“Berani hidup harus berani dewasa. Hidup ini memang tidak mudah, tetapi alangkah tidak mudahnya hidup tanpa keberanian menjadi dewasa.”
(Ahmad Zairofi)
“Tidak memakai apa yang diharamkan, dan bergaul dengan orang-orang shalih adalah tanda kedewasaan..”
(Ali Ahmad bin Sahal Al-Busyanji)
26 | C a t a t a n M a s ’ u l G a u l
Mahasiswa Dewasa
“Jangan lihat hidup dari fenomena-fenomena, tapi lihatlah hidup dari hakikat..”
(KH. Rahmat Abdullah)
Dalam dunia kampus akan banyak sekali pandangan, ilmu, ide, gagasan, dan pengetahuan lain yang bermunculan. Wajar saja, di dunia kampus lah para intelek berkumpul. Di sana lah orang-orang bergelar dan ‘para pencari gelar’ bertemu. Di kampus lah para profesor, doktor, master, dan orang-orang yang dianggap ‘intelek’ lainnya berada. Sehingga kampus menjadi pusat ilmu pengetahuan (seharusnya sih gitu..).
Seperti pepatah yang mengatakan: “Beda kepala beda rambut,” maka berkeliaran lah berbagai ide dan gagasan yang dicetuskan civitas akademika. Ide-ide dan gagasan yang bermunculan itu sangat mungkin sekali terjadi pertentangan antara satu dan lainnya. Maka istilah Ghozwul Fikri (Perang Pemikiran) benar-benar menemukan tempat yang cocok. Di sini lah diperlukan ‘kedewasaan berpikir’ bagi para
Sirot Fajar | 27
mahasiswa. Sebab ia akan dihadapkan pada berbagai macam dosen dari bermacam latar belakang. Ada non muslim, alim ulama, free thinker, kejawen, kiai mbeling, dan lain sebagainya.
Para penebar benih pemikiran pun seakan menemukan taman yang subur di kampus. Maka bertumbuh lah berbagai pohon gerakan dan pemikiran di sana. Tiba-tiba saja kita dikejutkan dengan kehadiran gerakan Negara Islam Indonesia (NII) di salah satu perguruan tinggi. Dan sebelum itu, tentu sudah banyak benih pemikiran yang telah tumbuh menjadi pohon gerakan di kampus. Maka kita mengenal HMI, PMII, GMNI, KAMMI, HTI, IPNU, IMM, dan berbagai gerakan mahasiswa lainnya yang eksis di berbagai kampus. ‘Kedewasaan berpikir’ menjadi sesuatu yang niscaya bagi para mahasiswa, karena dengan itulah ia mampu memilah mana pemikiran dan gerakan yang perlu diikuti.
Menurut para psikolog, bahwa tahap-tahap perkembangan kejiwaan dan alam pikiran manusia dalam menilai suatu ide atau pemikiran, umumnya melalui tiga fase.
Fase pertama, menilai baik buruknya suatu ide dengan kebendaan (materi) atau berdasarkan pada pancaindera
28 | C a t a t a n M a s ’ u l G a u l
yang timbul dari kebutuhan-kebutuhan primer. Golongan pertama ini mengukur baik buruknya suatu ide, pemikiran, gerakan dan hal lainnya dengan ukuran materi. Jika gerakan dan pemikiran itu mampu memberikan materi, kesenangan (bukan kebahagiaan) dan hal-hal lain yang bisa ‘dinikmati’ maka ia akan segera mengikuti gerakan dan pemikiran tersebut. Dan saya menyebut fase ini sebagai ‘fase anak-anak’.
Fase kedua, menilai suatu ide, pemikiran atau gerakan atas keteladanan yang diberikan oleh seseorang; dan atau tidak terlepas dari penjelmaan dalam diri pribadi seseorang. Suatu ide, gerakan atau pun pemikiran akan dianggap baik jika tokoh yang ia ikuti yang melakukannya. Atau paling tidak tokoh tersebut telah menilai baik terhadap ide, gerakan atau pemikiran tersebut. Dan ia menjadi jelek jika dinyatakan jelek oleh tokoh tersebut. Saya menyebut fase ini sebagai ‘fase remaja’ karena seorang remaja biasanya akan mudah sekali terpengaruh dengan teman dan lingkungannya.
Orang-orang yang tahap perkembangan pemikirannya masih berada pada fase pertama adalah orang yang
Sirot Fajar | 29
materialis. Ia mengukur segala sesuatu dengan kebendaan saja. Sementara orang yang tahap perkembangan pemikirannya berada pada fase kedua adalah orang-orang yang taqlid, yaitu orang yang mengikuti sesuatu namun tidak mengetahui dasarnya. Orang-orang seperti biasa disebut membebek/mengekor. Ia akan hengkang dan mencampakan suatu gerakan dan pemikiran jika tokoh yang diikutinya tidak lagi sepaham terhadap pemikiran dan berada dalam gerakan tersebut.
Dalam perang uhud, ada sekelompok kaum muslimin yang segera meningalkan medan pertempuran ketika mendengar berita bahwa Rasulullah saw wafat. Padahal berita tersebut hanyalah berita bohong yang dihembuskan kaum musyrikin untuk melemahkan barisan orang beriman. Dan apa yang mereka lakukan itu berhasil, karena ternyata ada juga pasukan kaum muslimin yang terpengaruhi berita tersebut. Kejadian seperti ini muncul karena pandangan sebagian kaum muslimin terhadap suatu ide (keyakinan) -pada waktu itu- baru sampai fase kedua. Maka al-Qur’an pun menegur mereka dengan turunnya ayat 144 dari surat Ali ‘Imraan..
30 | C a t a t a n M a s ’ u l G a u l
Fase ketiga adalah fase kedewasaan. Dalam fase ini, seseorang menilai suatu ide didasarkan atas nilai-nilai yang terdapat pada unsure-unsur ide itu sendiri. Ia tidak terpengaruh dengan faktor lain yang menguatkan atau melemahkan ide tersebut. Ia tidak lagi melihat materi dan pribadi di balik ide, pemikiran dan gerakan tersebut. Ia tidak lagi melihat dari fenomena-fenomena yang dimunculkan gerakan dan pemikiran, tapi ia melihat pada hakikat kebenaran sebuah gerakan dan pemikiran.
Di hari-hari semakin banyaknya pohon gerakan dan pemikiran di kampus, maka kedewasaan berpikir menjadi sebuah keniscayaan yang harus dimiliki para mahasiswa. Dan hanya mereka yang menyandarkan setiap pandangannya pada al-Quran dan Hadis lah yang akan akan memiliki pandangan imani: sebuah pandangan yang tidak lagi melihat hidup dari fenomena-fenomena tapi pada hakikatnya. Seperti yang telah diwasiatkan Syaikhut Tarbiyah KH Rahmat Abdullah, “Jangan lihat hidup dari fenomena-fenomena, tapi lihatlah hidup dari hakikat..”
Sirot Fajar | 31
Kata seorang kawan,
''kader dakwah sejati tidak selalu dimotivasi baru beraksi;
tidak pula harus diajak kemudian baru bergerak.
Ia hadir menginspirasi bukan menanti intruksi.
Ia mampu memotivasi diri untuk bangkit dari kefuturan tanpa harus dinasehati...''
Status FaceBook
32 | C a t a t a n M a s ’ u l G a u l
Gajah ‘Sexy’ dan Mahasiswa Sekarang
“Orang yang bertekad baja tidak akan menyerah pada ujian, akan selalu melihat masalah dengan mata terbuka. Dia adalah penembus zaman, yang selalu bergerak: jika ditutup satu pintu, dia akan menerobos pintu yang lain.”
(Tsabit ibn Zuhair)
Para mahasiswa yang belajar di Masjid Nabawi itu berhamburan keluar. Padahal mata kuliah Hadis yang disampaikan guru besar bidang hadis, Imam Malik, itu sedang berlangsung. Mereka lebih memilih keluar untuk melihat gajah dari pada harus terus duduk manis di ruang kuliah mendengar penjelasan Sang Guru Besar.
Tidak jelas dari mana datangnya rombongan itu, yang jelas mereka datang sembari membawa gajah. Dan di Madinah al-Munawwaroh, tempat di mana para mahasiswa itu sedang belajar, memang tidak ada hewan besar dan berbelalai itu. Sehingga wajar jika mereka begitu penasaran dan ingin melihat dari dekat binatang yang tergolong asing tersebut. Maka gajah itu pun berubah menjadi ‘gajah sexy’;
Sirot Fajar | 33
binatang yang membuat daya tarik dan pesona tersendiri, sehingga orang-orang pun berduyun-duyun untuk melihatnya.
Ruang kuliah seketika sepi, karena semua mahasiswa keluar dari ruang kuliah untuk melihat gajah. Hanya ada satu mahasiswa yang tetap mengikuti kuliah. Yahya bin Yahya nama lelaki itu. Maka guru besar yang telah menulis kitab al-muwattha’ itu segera mendekatinya seraya bertanya, ”Kenapa engkau tidak keluar juga untuk melihat gajah?” Yahya bin Yahya pun menjawab, “Saya datang jauh-jauh dari Andalusia (Spanyol) untuk menuntut ilmu, bukan untuk melihat gajah!” Imam Malik pun takjub mendengar jawabannya. Sejak saat itu beliau kemudian memberi Yahya bin Yahya sebuah gelar ‘aqilul andalus: Orang berakal dari Andalusia.
Pola pikir mahasiswa yang kabur dari kelas untuk melihat gajah, sepertinya mulai ditiru mahasiswa sekarang. Bukan selalu melihat gajah. Karena gajah sexy itu kini telah bermetamorfosis menjadi ruang kantin, kafe, gedung bioskop, mall, tempat nongkrong & hiburan lainnya. Tapi sikap kabur dari ruang kuliah mulai sering kita jumpai di
34 | C a t a t a n M a s ’ u l G a u l
kalangan mahasiswa sekarang. Yang lebih ‘pintar’, titip apsen kepada temannya.
Di sini, di kampus kita tercinta inilah kita menuntut ilmu. Dan dari sana, dari kampung halaman kita masing-masing itulah kita datang, meninggalkan orang tua, keluarga dan kampung halaman tercinta demi menuntut ilmu. Dalam rentang masa itu, tentu akan banyak rintangan yang menjauhkan dan melalaikan kita dari tujuan utama itu. Dan semuanya kembali kepada diri kita masing-masing. Apakah kita terus yakin dengan tujuan kita itu, ataukah justru lalai darinya.
Lelaki andalus dan seekor gajah memberi pejaran pada kita bahwa, betapa kita tidak boleh berhenti atau terhenti oleh sesuatu yang sederhana dan remeh. Kalau sekiranya Yahya sejenak keluar, melihat gajah bersama teman-temannya yang lain, itu pun tak akan jadi soal besar, karena Imam Malik sejenak tidak melanjutkan pelajarannya, sebab semua murid-muridnya keluar. Tapi tidak bagi Yahya. Ia memilih demikian karena ia memiliki kalkulasi keyakinan yang kuat. Ia memiliki tekad yang kuat. Sikap seperti itu bukan soal selera suka atau tidak suka melihat gajah, tapi lebih
Sirot Fajar | 35
merupakan soal pemahaman kemengertian, kesadaran dan juga kedalaman penghayatan tentang keputusan apa yang harus diambil seseorang di saat-saat menghadapi godaan.
Begitulah seharusnya kita bersikap dalam menapaki jalan cita-cita dan harapan kita. Kita harus terus berjalan di jalan tersebut; jalan yang mampu menghantarkan kita mencapai tujuan cita-cita itu. Apapun sikap yang kita pilih dalam perjalanan menuju mimpi-mimpi kita itu memiliki konsekuensi masing-masing. Bermain, berlibur dan refreshing tidaklah buruk. Bahkan hal itu kadang diperlukan untuk mengembalikan semangat dan meremajakan pikiran kita kembali. Tapi semua hal itu punya tempat dan masa sendiri.
Apa yang dilakukan Yahya bin Yahya itu membuat namanya tercatat dalam sejarah. Dan Engkau wahai saudaraku, pasti bisa merengkuh takdir sejarahmu sendiri. Kuncinya hanya itu: “jangan pernah berhenti mengejar cita-cita luhur kalian!!.” Seperti lelaki Andalus itu, rayuan gajah sexy tak mampu menghentikan langkahnya. Kalau ia bisa, terus bagaimana dengan kita?
36 | C a t a t a n M a s ’ u l G a u l
Jika gajah sexy itu datang kepadamu dengan rayuan gombalnya, maka jawablah rayuan itu dengan puisi Chairil Anwar:
Aku
Kalau sampai waktuku
Kumau tak seorang kan merayu
Tidak juga kau. []
(Sumber Inspirasi: Buku Lelaki Pendek, Hitam, dan Lebih Jelek dari Untanya)
Sirot Fajar | 37
Selalu terasa cepat, bila waktu berlalu..
Selama beberapa tahun mengurus Dakwah Kampus ternyata terasa begitu singkat. Dan kita belum sepenuhnya menyadari, betapa kecakapan kolektif kita ternyata belum memadai..
Diamanahi menjadi mas’ul (pemimpin), tidak selalu sama dengan layak memimpin. Sebab, ‘diamanahi’ hanyalah siklus organisasi, tetapi ‘layak memimpin’ bertumpu kepada diri orang yang akan memimpin tersebut..
Semoga kita mampu belajar untuk melayakkan diri menjadi pemimpin, sehingga dapat menjadi mas’ul yang baik. Baik itu mas’ul rumah, jurusan, fakultas, kestari, keuangan, dan mas’ul lainnya..
Pun bisa mengkader generasi penerus untuk menjadi pemimpin yang sebenarnya..
Status FaceBook
38 | C a t a t a n M a s ’ u l G a u l
Yang Muda, Yang Peduli, dan Penuh Karya
“Sesungguhnya Tuhan-mu kagum kepada seorang pemuda yang tidak memiliki sifat Shabwah (kejahilan dan kekanak-kanakan).”
(Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah 1225)
Negeri ini memiliki banyak asset yang cukup berharga dan mahal, tapi di antara itu semua tentu ada yang paling berharga dan paling mahal. Asset ini lah yang harus kita jaga dan kita pertahankan baik-baik. Asset itu adalah pemuda. Pemuda lah asset yang paling berharga bagi negeri ini, karena pemuda lah yang nantinya akan meneruskan kelangsungan negeri ini. Pemuda hari ini lah yang akan memimpin negeri ini di hari esok. Syubbaanul yaum rijaalul ghod, begitu bunyi sebuah pesan yang pernah saya dengar dalam bahasa Arab. Atau kalau dalam Bahasa Inggris berbunyi “Youth today as a leader for tomorrow.” Bahwa pemuda hari ini adalah pemimpin di hari esok.
Pemuda itu sedemikian hebat. Bahwa pemuda itu jika ke-muda-annya dimanfaatkan dengan baik dan benar akan
Sirot Fajar | 39
menghasilkan sesuatu yang luar biasa. Kayaknya tidak berlebihan jika dalam salah satu bukunya Herry Nurdi menuliskan, “Generasi muda adalah bahan baku utama sebuah peradaban, di mana pun dan di zaman apapun. Potensi-potensi muda ini jika diolah dan dipelihara akan menjadi bahan bakar perjuangan. Pemuda-pemuda adalah besi-besi yang siap ditempa.”
Pemuda itu demikian hebat. Maka kita sering mendengar ungkapan Bapak Proklamasi Indonesia yaitu Presiden Soekarno yang mengatakan, “Berikan padaku 10 pemuda maka dengannya aku akan mengguncang dunia.” Dan jauh sebelum itu khalifah Umar bin Khatthab membuat pengakuan, “Kalau aku dihadapkan pada masalah besar, maka yang kupanggil pertama kali adalah seorang pemuda.”
Pemuda Harus Peduli
Pakar Sosiologi Kenneth Kenniston mendefinisikan masa muda (youth) adalah periode transisi antara masa remaja dan masa dewasa yang merupakan masa perpanjangan kondisi ekonomi dan pribadi yang sementara. Lebih jauh lagi Kenniston berpendapat bahwa kaum muda berbeda dengan
40 | C a t a t a n M a s ’ u l G a u l
remaja karena adanya perjuangan antara membangun pribadi yang mandiri dan menjadi terlibat secara sosial, berlawanan dengan perjuangan remaja untuk mendifinisikan dirinya.
Jadi remaja dan pemuda itu beda. Itu sebabnya Psikolog University of Texas at Dallas, John W. Santrock, dalam bukunya Life-Span Development membedakan antara remaja dan pemuda. Remaja merupakan transisi antara masa anak-anak dan masa dewasa dan pemuda merupakan masa dewasa awal.
Jika kita lihat dari pendapat Kenneth Kenniston di atas maka dapat disimpulkan:
Pemuda: adanya perjuangan antara membangun pribadi yang mandiri dan menjadi terlibat secara sosial.
Remaja: usaha untuk mendifinisikan dirinya.
Itu sebabnya kebanyakan pembahasan tentang remaja lebih banyak membahas tentang konsep diri, identitas, dll..
Dari pendapat kenniston itu juga kita dapat melihat bahwa yang namanya pemuda adalah orang yang melakukan perjuangan untuk menjadi terlibat secara sosial. Ketika memasuki masa muda, sudah seharusnya seorang pemuda itu
Sirot Fajar | 41
mulai terlibat secara sosial. Ini bukan masalah pergaulannya yang semakin luas. Tidak! Tapi ini lebih pada kesadaran dalam dirinya bahwa ia adalah bagian dari lingkungan sosialnya.
Hal ini diperkuat oleh pendapat para psikolog bahwa kedewasaan bukan sekedar tercapainya usia yang semakin tua saja. Tetapi seorang pemuda itu bisa disebut dewasa jika dalam dirinya sudah ada ciri-ciri psikologis tertentu sebagai tanda kedewasaan. Di antara ciri-ciri psikologis tersebut, menurut G.W. Allport adalah: extension of the self (pemekaran diri sendiri).
Pemekaran diri sendiri (extension of the self), yang ditandai dengan kemampuan seorang untuk menganggap orang atau hal lain sebagai bagian dari dirinya sendiri juga. Perasaan egoisme (mementingkan diri sendiri) berkurang, sebaliknya tumbuh perasaan ikut memiliki. Salah satu tanda
pemuda bukan saatnya untuk memikirkan diri sendiri lagi, tapi ketika seorang itu telah menjadi pemuda, maka saatnya ia untuk lebih peduli kepada apa yang di luar dirinya.
42 | C a t a t a n M a s ’ u l G a u l
yang khas adalah tumbuhnya kemampuan untuk mencintai orang lain dan alam sekitarnya (Sarwono, 2007: 71).
Demikianlah, pemuda haruslah menjadi orang yang peduli: peduli dengan orang-orang sekitarnya; peduli dengan masyarakatnya; peduli dengan negaranya; peduli dengan agamanya; dan peduli kepada semua hal yang memang pantas untuk dipedulikan. Sebab, pemuda bukan saatnya untuk memikirkan diri sendiri lagi, tapi ketika seorang itu telah menjadi pemuda, maka saatnya ia untuk lebih peduli kepada apa yang di luar dirinya.
Saatnya Untuk Berkarya
Menjadi seorang pemuda, tidak cukup bagi kita untuk hanya melakukan pemekaran diri sendiri (extension of the self). Tapi kita juga harus mulai memikirkan karya apa yang akan kita berikan kepada orang-orang yang ada di sekitar kita; masyarakat kita; negara kita. Sebab, kehadiran kita di tengah masyarakat tidak akan ada gunanya jika kita tidak bisa memberi kontribusi apa-apa. Apalagi jika kita malah membuat kerusakan dan keonaran. Untuk itulah sebagai pemuda kita harus berkarya.
Sirot Fajar | 43
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, karya adalah (1) pekerjaan; (2) hasil perbuatan; buatan; ciptaan. Dengan demikian paling tidak ada dua hal yang harus kita lakukan:
Pertama: dalam pekerjaan yang kita lakukan, jangan hanya berpikir untuk diri sendiri, tapi juga memikirkan bahwa kerja yang kita lakukan memberi manfaat pada sesama. Pekerjaan apa? Pekerjaan apa saja. Tergantung dengan potensi yang kita miliki. Sebab, kita tidak akan bisa bekerja secara maksimal di luar kompetensi kita. Apapun kerja yang kita lakukan, kita harus melakukannya dengan semaksimal mungkin dan professional. Selain itu juga berupaya agar kerja kita itu memberi manfaat pada sesama.
Kedua: kita harus mulai memikirkan sumbangsih yang akan kita berikan kepada orang-orang sekitar kita. Bahkan kalau bisa kita perlu untuk memberikan sumbangsih kepada negara dan dunia. Sumbangsih dalam hal apa? Banyak hal. Di antaranya bisa berbentuk pemikiran-pemikiran baru yang mencerahkan, atau temuan-temuan ilmiah baru yang dibutuhkan masyarakat. Atau mungkin karya lain yang memang dibutuhkan masyarakat.
44 | C a t a t a n M a s ’ u l G a u l
Intinya, bahwa kehadiran kita di negara ini harus bisa memberikan manfaat kepada sesama. Sebagai pemuda, jangan sampai kemudian kehadiran kita justru meresahkan masyarakat karena ulah yang kita lakukan. Pemuda yang penuh karya, akan senantiasa memberikan manfaat kepada orang-orang sekitarnya, yang dengannya ia menjadi pemuda yang kehadirannya ditunggu-tunggu.
Mengintegrasikan ‘Peduli’ dan ‘Karya’
Negeri ini kini lagi menantikan lahirnya pemuda-pemuda yang peduli dan penuh karya; pemuda yang tidak hidup untuk dirinya sendiri saja, tapi juga berusaha untuk keluar dari dirinya, untuk memberi manfaat orang-orang sekitarnya; ia senantiasa berkarya yang dengan itu kepeduliannya semakin tampak nyata di tengah masyarakat dan negara.
Kita tidak bisa menjadi pemuda yang ‘peduli’ saja atau ‘penuh karya’ saja. Kita harus mengintegrasikan kedua-duanya. Kepedulian lebih banyak diperlukan ketika negara ini mengalami krisis, bencana, musibah, dan saat susah dan duka lainnya. Di saat itulah sangat dibutuhkan kepedulian
Sirot Fajar | 45
terhadap sesama. Dan karya lebih banyak dibutuhkan ketika kondisi normal. Dengan karya-karya itulah diharap bisa membuat negara ini jauh lebih baik dan berkembang dengan pesat.
Selain itu, sebuah kepedulian harus dibuktikan dengan kerja/karya, sehingga dampaknya lebih terasa oleh masyarakat dan negara. Sedangkan karya kita akan terasa kurang manfaatnya ketika kita tidak peduli dengan masyarakat dan negara kita sendiri, seperti kisah anak-anak negeri ini yang justru berkarya di negeri lain. Apapun alasannya, hal itu tentunya akan kurang manfaatnya bagi negara ini. Untuk itulah diperlukan integrasi antara peduli dan karya.
Sadar atau tidak ternyata begitu banyak kiprah pemuda yang tercatat dalam sejarah bangsa ini. Mula-mula pada awal tahun1900-an, tepatnya pada tanggal 20 Mei 1908, muncul organisasi bernama Budi Utomo (Boedi Oetomo) yang didirikan oleh sejumlah mahasiswa STOVIA (School tot Opleiding van Indische Artsen) seperti Soetomo, Gunawan, Cipto Mangunkusumo, dan R.T Ario Tirtokusumo. Tanggal itu sampai sekarang diperingati
46 | C a t a t a n M a s ’ u l G a u l
sebagai Hari Kebangkitan Nasional kerena organisasi ini dianggap sebagai organisasi kebangsaan yang pertama.
Tidak begitu lama setelah itu munculnya generasi 28 yang mempelopori persatuan nasiaonal dalam simbol tanah air, kebangsaan dan bahasa persatuan melalui Sumpah Pemuda. Setelah itu muncullah generasi 45 yang mempelopori perjuangan kemerdekaan. Yang mungkin masih lekat di ingatan kita adalah generasi 98 yang berhasil menumbangkan Orde Baru. Dan sebelum itu generasi 66 berhasil menumbangkan Orde Lama.
Kini adalah saat bagi kita menjadi generasi baru. Generasi yang akan diukir dalam tinta emas sejarah bangsa Indonesia. Tentunya hanya dengan itu: Menjadi pemuda yang peduli terhadap persoalan negara untuk kemudian berusaha menyelesaikannya, dan terus berkarya untuk menjadikan Indonesia yang lebih baik.
Sirot Fajar | 47
Prinsip utama seorang Qiyadah adalah optimisme. Apa yang dirasakan Jundi setelah mengikuti pertemuan dengan Anda? Apakah mereka merasa berkembang? Jika tidak, Anda bukanlah seorang Qiyadah! --Field Marshall Montgomery—
Tentu saja Field tidak pernah menuliskan kata Qiyadah & Jundi seperti dalam kata di atas. Sebab, saya telah mengganti kata pemimpin menjadi Qiyadah & karyawan menjadi jundi, hehe.. Terlepas itu semua, memang begitulah adanya. Bahwa tugas seorang pemimpin itu bisa membuat orang yang dipimpinnya berkembang menjadi lebih baik.. Selamat menyambut musim semi dakwah kampus...
Status FaceBook
48 | C a t a t a n M a s ’ u l G a u l
Sang Penterjemah
“Manusia paling utama dengan Al-Qur’an ini adalah yang mengikuti al-Qur’an meskipun ia belum membacanya”
(Hasan Al-Bashri)
Para sahabat Rasulullah dulu, jika belajar dengan Nabi Muhammad saw., biasanya hanya mendapat pelajaran beberapa ayat saja. Usai belajar mereka segera berusaha untuk mempraktekkannya. Mereka berusaha melaksanakan perintah dan mengejawantahkan ilmu yang baru saja didapat dari Nabi. Adalah Abu Hurairah yang memberi pelajaran besar bagi kita, bahwa kita harus berusaha sebisa mungkin untuk mengamalkan ilmu yang telah kita pahami.
Suatu ketika Abu Hurairoh mendapat penjelasan tentang beberapa ayat dari Nabi saw. Tapi belum begitu lama, Abu Hurairah berpapasan dengan Nabi saw di jalan. Namun Abu Hurairah menghindar. Dan Rasulullah tahu bahwa sahabatnya yang kelak paling banyak meriwayatkan hadis tersebut menghindar. Maka keesok harinya Rasulullah pun bertanya kepada Abu Hurairah, kenapa ia menghindar?
Sirot Fajar | 49
Abu Hurairah pun menjawab, “Saya takut bertemu engkau, ya Rasul. Saya takut engkau tanya apa yang telah saya amalkan dari penjelasan ayat yang kemarin. Dan pada waktu itu saya belum melakukan apa-apa.”
Begitulah generasi terbaik sepanjang sejarah itu memperlakukan al-Quran. Mereka berusaha sebisa mungkin untuk mengamalkan al-Quran. Mereka ibarat al-Quran yang berjalan di muka bumi ini. Mereka mempelajari al-Quran untuk di amalkan, maka membumilah al-Quran. Dan mereka pun menjadi generasi menyerah yang terbaik sepanjang masa.
Memiliki ilmu pengetahuan itu penting, namun lebih penting lagi adalah mengamalkan ilmu yang telah kita miliki. Mempelajari al-Quran itu wajib, namun lebih wajib lagi adalah mengamalkan al-Quran dalam hidup. Agar kita bisa mengamalkan al-Quran dalam laku kehidupan ini, maka terlebih dahulu kita harus menerima al-Quran sepenuh jiwa kita. Sebab, sebagaimana kata Sayyid Quthb dalam Ma’alim fi ath-thoriq, ketika jiwa itu telah menyatu dengan al-Quran, maka raga pun akan berkomitmen menjalankan manhaj al-Quran.
50 | C a t a t a n M a s ’ u l G a u l
Dalam kitab Al-Mustadrak diriwayat bahwa: Al-Quran akan menjelma di hari kiamat, lalu ia mendatangi seseorang yang membaca Al-Quan tapi melanggar isinya. Al-Quran menjelma sebagai musuhnya. Ia mengatakan, “Ya Rabb, Engkau memberikan aku kepada orang ini, tapi dia adalah seburuk-buruk orang yang membawaku. Dia mengetahui batasanku tapi ia menyia-nyiakan kewajibanku, melakukan kemaksiatan kepadaku dan meninggalkan taat kepadaku”. Al-Qur’an terus menerus melontarkan tuduhan dengan berbagai alasan sampai akhirnya orang itu dijebloskan ke dalam neraka. (Lili Nur Aulia, Kubisikkan Untukmu, 23)
Seharusnya, Al-Quran yang kita baca itu dapat memberi syafaat kita di akhirat nanti, sebagaimana sabda Rasulullah,
اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لِِصَْحَابِهِ
Al-Qur’an hanyalah sebuah kata. Dan kata itu tidak ada artinya jika tidak kita terjemahkan dalam laku kehidupan.
Sirot Fajar | 51
“Bacalah Al-Qur`an, karena ia akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafa'at kepada para ahlinya” (HR.Muslim)
Agar al-Qur’an benar-benar memberi syafa’at pada kita, hendaknya kita mengamalkan isinya: menerjemahkan dalam laku kehidupan kita. Sebab jika tidak demikian, maka al-Qur’an justru akan menjebloskan kita ke api neraka. Maka bagi orang beriman, hidup di dunia ini selamanya adalah sebagai penerjemah al-Qur’an dalam laku kehidupannya.
Al-Qur’an hanyalah sebuah kata. Dan kata itu tidak ada artinya jika tidak kita terjemahkan dalam laku kehidupan. Maka tugas kita adalah menjadikan al-Quran sebagai ruh kehidupan, dengan berusaha mengamalkannya.
Dalam perjalanan hidup ini, pastilah kita mebutuhkan petunjuk jalan agar bisa sampai ke tujuannya. Dan Allah, Sang Pencipta hidup ini, telah menurunkan petunjuk yang jelas. Maka tugas kita adalah benar-benar memahaminya itu untuk kemudian menjalankan petunjuk yang ada. Sebab jika tidak, ia pasti tersesat di belantara kehidupan ini.
Di antara salah satu nama Al-Qur’an adalah Al-Furqaan. Maka sikap seorang muslim terhadap al-Qur’an
52 | C a t a t a n M a s ’ u l G a u l
harus melahirkan furqaan. Pembeda. Bahwa ada perbedaan anatara yang hak dan yang bathil. Bahwa ada perbedaan anatara yang benar dan yang salah. Nah, sikap seorang mukmin harus bisa membedakan anatar keduanya. Bukan hanya sekedar membedakan saja, tetapi juga berbeda dalam menyikapi keduanya. Ia mengamalkan yang hak dan menjauhi yang bathil.
Saat ini sudah banyak pusat studi Al-Qur’an dan juga Perguruan Tinggi yang membuka jurusan tentang ilmu Al-Qur’an. Namun kebanyakan dari pendidikan yang ada itu hanya dititikberatkan pada pemahan saja; hanya berasyik pada rekreasi intelektual saja. Itu sebabnya biarpun banyak doktor bahkan professor di bidang Al-Qur’an, Hadits, dan Ilmu Agama lainnya, namun tetap saja umat islam ini terbelakang. Sebab para ‘ahli’ agama itu hanya
kembali pada Al-Qur’an adalah menyandarkan hidup kita pada Al-Qur’an; bagaimana kita berbuat, beramal, dan berperilaku sesuai dengan tuntutan Al-Qur’an.
Sirot Fajar | 53
memprioritaskan pengetahuan, dan tidak pada amal. Contoh yang paling sederhana dari hal ini adalah kasus yang terjadi di departemen agama, di mana ada korupsi terhadap uang pengadaan Al-Qur’an.
Akhirnya, untuk mengembalikan kejayaan umat ini, kita harus kembali pada Al-Qur’an. Bukan berarti kita harus belajar di studi al-Qur’an semua. Tidak! Tetapi kembali pada Al-Qur’an adalah menyandarkan hidup kita pada Al-Qur’an; bagaimana kita berbuat, beramal, dan berperilaku sesuai dengan tuntutan Al-Qur’an. Sebab, selamanya kita adalah Sang Penterjemah. Menerjemahkan al-Qur’an dalam laku kehidupan..
54 | C a t a t a n M a s ’ u l G a u l
Sajak Mas’ul Tahukah kamu apa artinya mas’ul itu? Secara bahasa berarti ‘orang yang ditanya’ Maka jangan salah jika ada yang tanya padamu Walaupun mungkin kamu tak tahu pasti jawabannya Mas’ul itu orang yang bertanggung jawab Atas apa yang diamanahkan padanya Maka wajar jika kamu dipaksa menjawab Atas semua yang terjadi pada wajihah Tak ada amanah kecil atau besar Baik masul fakultas atau jurusan Semua amanah harus membuat kita sadar Bahwa semua itu ada pertanggungjawaban Itulah susahnya pemimpin Salah sedikit banyak yang mengkritik Berbuat baik banyak yang nglupain Maka terus usahakanlah yang terbaik Memang tak ada yang sempurna Karena kita hanya manusia biasa jadi wajar jika ada salah dan lupa Maka maafkanlah sesama
Sirot Fajar | 55
Bagian 3
Menyalakan Lilin Dakwah
“Dakwah berkembang di tangan orang-orang yang memiliki militansi, semangat juang yang tak pernah pudar. Ajaran yang mereka bawa bertahan melebihi usia mereka. Boleh jadi usia para mujahid pembawa misi dakwah tersebut tidak panjang, tetapi cita-cita, semangat dan ajaran yang mereka bawa tetap hidup sepeninggal mereka.”
--KH. Rahmat Abdullah--
56 | C a t a t a n M a s ’ u l G a u l
Sepenggal Kisah di Dalam Bis
“Saya banyak mencermati pengalaman orang-orang terdahulu sehingga saya mengerti tentang mereka, seakan-akan hidup sepanjang usia mereka.”
--Ali bin Abi Thalib—
Jarak antara tempat menginapnya kafilah MTQ MN XII dan tempat berlombanya itu cukup jauh. Tempat menginapnya ada di asrama haji Sudiang sementara tempat lombanya ada di kampus II Universitas Muslim Indonesia (UMI). Berangkat dan kembali, para peserta naik bis yang telah disediakan tuan rumah. Karena jumlah bis yang terbatas, maka sering kali bis penuh sesak, dan penumpang yang menaikinya pun banyak yang berdiri.
Pernah suatu ketika dalam perjalanan, saya bersebelahan dengan salah seorang ikhwah dari Manado. Sengaja saya tidak menyebut namanya. Sambil berdiri di dekat pintu layaknya kondektur, kami pun bincang-bincang ngalor ngidul. Dan sampailah ia bercerita bagaimana perjalannanya sehingga bisa sampai mengikuti MTQ
Sirot Fajar | 57
tersebut. “Kami beruntung akh masih bisa berangkat. Benar-benar perjuangan untuk bisa sampai sini. Kami baru mendapat uang sabtu kemarin (H-1) setelah itu langsung berangkat.”
Ternyata perjuangan saudara kita ini tidak hanya untuk ikut MTQ saja. Tetapi hari-hari yang dilaluinya pun penuh perjuangan. Perjuangan untuk menegakkan izzah islam di kampus yang mayoritas civitas akademikanya beragama kristen. Mulai satpam sampai rektor hampir semuanya beragama kristen. Hanya beberapa saja dosen yang beragama islam. Dan total mahasiswa muslim tidak lebih dari dua ratus.
Pernah suatu ketika pihak kampus ingin menurunkan speaker yang biasa menggemakan adzan dari atas musholla. Maka berdatangan lah mahasiswa muslim ke musholla itu. Semuanya mencegah ‘pekerja kampus’ agar tidak menurunkan speaker tersebut. Bahkan ada salah satu senior aktivis dakwah kampus tersebut yang naik ke genteng untuk menghalangi ‘pekerja kampus’ tersebut. Ia bahkan menegaskan, jika masih ingin menurunkan speaker maka
58 | C a t a t a n M a s ’ u l G a u l
harus melangkahi mayatnya terlebih dahulu. Ia berani mati agar adzan tetap bisa menggema di kampus tersebut.
Mendengar kisah tersebut, saya pun menjadi merinding. Saya merasa bahwa apa yang saya lakukan ternyata masih belum apa-apa. Saya pun merasa malu. Belum berhenti keharuan saya, tiba-tiba ia mengenalkan dengan salah seorang temannya yang juga menjadi peserta MTQ. Saya pun berbincang dengannya. Dan saya pun kaget bukan buatan ketika mengetahui amanah dia saat ini. Sebuah amanah yang tidak terpikirkan di benak saya. Karena, sahabat kita ini adalah Ketua UKM Musik alias dia adalah anak band.
Memang sasaran dakwah ini adalah kepada semua manusia. Namun pilihan masuk ke UKM musik adalah sebuah pilihan yang sulit saya pahami. Terlebih di kampus yang umat muslim masih menjadi minoritas. Dan ketika prihal tersebut saya tanyakan, saudara kita ini menjawab, “Iya akh. Kami sengaja masuk UKM Musik, karena sekretariatnya dekat musholla. Kalau tidak kami kuasai maka mereka akan tetap bermusik saat ada waktu sholat. Agar hal itu tidak terjadi,
Sirot Fajar | 59
maka kami memasukinya. Agar saat waktu sholat ngebandnya berhenti, dan kami bisa sholat dengan tenang.”
Saya tidak akan memberi komentar, atau pun ulasan & ibrah dari kisah di atas. Saya hanya ingin bertanya, apa komentar saudara sekalian dan ibrah apa yang bisa saudara petik dari saudara kita di atas???
60 | C a t a t a n M a s ’ u l G a u l
“Kemenangan Dakwah Kampus bukan lah akhir dari perjuangan ini.
Tetapi, kemenangan Dakwah Kampus adalah langkah awal untuk memulai perjuangan yang lebih keras lagi
untuk membuktikan kiprah dakwah ini…”
Status FaceBook
Sirot Fajar | 61
Menyalakan Lilin Dakwah
“Ribuan lilin dapat dinyalakan sari satu batang lilin,
dan lilin itu tidak akan menjadi lebih pendek..
Kebahagiaan tidak pernah berkurang meskipun dibagikan..”
--Budha—
Seorang profesor pada suatu lembaga pengetahuan tinggi yang ternama menantang murid-muridnya dengan pertanyaan ini: “Apakah Tuhan menciptakan semua yang ada?” Dan seorang murid dengan berani menjawab, “Ya, Dia menciptakannya!
“Apakah Tuhan menciptakan segalanya?” sang profesor bertanya.
“Ya, Pak. Dia pasti menciptakan segalanya,” seorang murid menjawab.
Kemudian profesor itu bertanya, ”Jika Tuhan menciptakan segalanya, maka Tuhan menciptakan kejahatan. Dan sejak kejahatan ada, dan menurut prinsip bahwa karya-karya kita mendefinisikan siapa kita, kita dapat menganggap bahwa Tuhan adalah kejahatan.”
62 | C a t a t a n M a s ’ u l G a u l
Murid itu terdiam dan tidak menjawab pernyataan profesor yang hipotetis. Maka, sang profesor, merasa puas dengan diri sendiri, menyatakan dengan sombong di kelas itu bahwa dia telah membuktikan sekali lagi bahwa keyakinan orang-orang Kristiani adalah sebuah dongeng.
Murid lain mengangkat tangannya dan berkata, ”Bolehkah saya bertanya satu pertanyaan, Profesor?”
“Tentu,” jawab profesor itu.
Murid itu berdiri dan bertanya, ”Profesor, apakah dingin itu ada?
“Pertanyaan macam apa itu? Tentu dingin ada. Tidak pernahkah kamu kedinginan?”
Murid-murid yang lain tertawa terbahak-bahak mendengar pertanyaan pemuda itu.
Kemudian pemuda itu menjawab, ”Dalam kenyataannya, Pak, dingin itu tidak ada. Menurut hukum fisika, apa yang kita anggap dingin, dalam kenyataannya adalah ketakhadiran panas. Setiap orang atau benda mudah dipelajari ketika ia (benda atau orang tersebut) memiliki atau memancarkan energi, dan panaslah yang membuat tubuh atau zat memiliki atau memancarkan energi. Suhu nol mutlak (-460 F) adalah
Sirot Fajar | 63
ketakhadiran mutlak dari panas (keadaan di mana panas benar-benar tidak ada); dan semua zat menjadi lembam dan tidak mampu bereaksi pada suhu itu. Dingin itu tidak ada. Kita telah menciptakan kata ini untuk menerangkan bagaimana kita merasakan jika kita tidak memiliki panas.”
Murid itu melanjutkan, ”Profesor, apakah kegelapan itu ada?”
Dan profesor itu menjawab, ”Tentu, kegelapan itu ada.”
Murid itu menjawab, “Sekali lagi Anda salah, Pak. Kegelapan juga tidak ada. Kegelapan dalam kenyataannya adalah ketakhadiran cahaya. Kita dapat mempelajari cahaya, tetapi tidak dengan kegelapan. Dalam kenyataannya, kita dapat menggunakan prisma Newton untuk menguraikan cahaya putih ke dalam beberapa warna dan mempelajari berbagai panjang gelombang dari tiap warna. Anda tidak dapat mengukur kegelapan. Suatu sinar cahaya yang sederhana dapat mendobrak/menembus suatu dunia yang gelap dan meneranginya. Bagaimana Anda dapat mengetahui seberapa gelap suatu ruang tertentu? Anda mengukur jumlah cahaya yang ada. Tidakkah ini benar? Kegelapan
64 | C a t a t a n M a s ’ u l G a u l
adalah istilah yang digunakan oleh manusia untuk menjelaskan apa yang terjadi ketika tidak ada cahaya.”
Akhirnya pemuda itu bertanya kepada profesor, “Tuan, apakah kejahatan itu ada?”
Sekarang dengan tidak yakin, profesor menjawab, “Tentu, seperti yang telah saya katakan. Kita menyaksikannya setiap hari. Kejahatan ada dalam contoh sehari-hari seperti kekejaman manusia terhadap manusia lainnya. Ia ada dalam kejahatan kriminal dan kekerasan di mana-mana di dunia ini. Perwujudan-perwujudan ini tidak lain adalah kejahatan.”
Terhadap jawaban profesor itu, sang murid menjawab, “Kejahatan itu tidak ada, Pak, atau paling tidak, kejahatan tidak ada dengan sendirinya. Kejahatan sebenarnya adalah ketakhadiran Tuhan. Kejahatan persis seperti kegelapan dan dingin, suatu kata yang telah diciptakan manusia untuk menerangkan ketidakhadiran Tuhan. Tuhan tidak menciptakan kejahatan. Kejahatan diakibatkan ketika manusia tidak memiliki kasih Tuhan dalam hati mereka. Ia seperti dingin yang datang ketika tidak ada panas, atau kegelapan yang hadir ketika tidak ada cahaya.”
Sirot Fajar | 65
Akhirnya, profesor itu terduduk dan bertanya, “Anak muda, siapakah Anda?”
“Pak, nama saya Einstein, Albert Einstein.“
Ketika saya membaca kisah Einstein dan professor tersebut di beberapa web/blog yang saya temui, saya kemudian merenung, mencoba merangkai penjelasan dari ayat-ayat al-Quran. Maka teringatlah saya dengan sebuah ayat yang termaktub dalam Surah Al-Isra’ ayat 81:
“Dan katakanlah: ‘kebenaran telah datang dan yang batil telah lenyap.’ Sungguh, yang batil itu pasti lenyap.” (Qs. Al-Isra’ [17]: 81)
Kapankah kebatilan itu akan pergi? Ya, ketika kebenaran itu datang. Selama kebenaran itu belum datang, maka kebatilan pasti akan terus ada dan tetap eksis. Sebab, sebagaimana penjelasan Einstein, kebatilan itu berarti ketiadaan kebenaran. Andai saja ada kebenaran, maka tiada
Jika dihadapkan dengan kegelapan, jangan pernah mengutuknya. Sebab, mengutuk kegelapan tidak akan membuatnya menjadi terang.
66 | C a t a t a n M a s ’ u l G a u l
kebatilan. Disinilah tugas aktivis dakwah: membawa cahaya kebenaran untuk mengusir gelapnya kebatilan.
Jika dihadapkan dengan kegelapan, jangan pernah mengutuknya. Sebab, mengutuk kegelapan tidak akan membuatnya menjadi terang. Yang perlu kita lakukan hanyalah menyalakan cahaya. Sekecil apapun itu. Kita tak perlu mendatangkan bulan atapun menerbitkan matahari untuk mengusir gelapnya malam saat lampu padam. Kita hanya perlu menyalakan lilin. Demikian juga dengan dakwah ini. Kita hanya perlu menyalakan lilin dakwah untuk mengusir gelapnya kebatilan.
Bersediakah kau menyalakannya?
Sirot Fajar | 67
"Sesungguhnya Allah akan senantiasa menolong hambanya, selama hamba itu mau menolong saudaranya," begitu kata Nabi.. Apalagi jika seorang itu menolong agama Allah. Maka Allah pasti lebih akan menolongnya.. Yuk semangat berdakwah.. :)
Status FaceBook
68 | C a t a t a n M a s ’ u l G a u l
Ssstt,,, Jangan Diam…!!!
“Sama seperti besi yang bisa berkarat karena didiamkan, maka berdiam diri bisa merusak kesehatan”
--Leonardo da Vinci--
Ungkapan “Diam adalah Emas” ternyata tidak hanya populer di Indonesia. Di negara-negara lain, semisal Inggris dan Maroko, ternyata peribahasa itu pun cukup dikenal. Namun, ‘diam’ hanya akan benar-benar menjadi ‘emas’ jika diam dari ungkapan dan hal yang tidak bermakna. Ada saat di mana kita harus diam dan ada saat-saat lain yang kita harus bersuara dan bergerak.
Dalam perkataan, kita harus diam jika kita tidak bisa mengucapkan perkataan yang baik. “Barang siapa yang beriman dengan Allah dan hari akhir,” kata Rasulullah, “Maka hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” Dan kita harus berbicara untuk menyampaikan kebenaran; untuk menyampaikan kabar dan peringatan Allah swt.; untuk berda’wah kepada Allah.
Sirot Fajar | 69
Para sastrawan itu mampu merangakai kata yang begitu indah kita dengar. Ungkapan para penyair itu pun mampu menghanyutkan kita bagai angin yang semilir. Mereka mampu merangkum pesan dalam kata-kata yang ringkas dan cerdas. Namun kita bisa mengalahkan mereka. Kita bisa memiliki perkataan dan ucapan yang lebih baik nilainya dari pada para penyair dan sastrawan. Kita bisa mengalahkan mereka jika kita berda’wah. “Dan siapakah yang lebih baik perkataannya dari pada orang yang menyeru kepada Allah dan mengerjakan kebaikan…” (Fushilat [41]: 33).
Kita sering sekali tidak bisa diam dalam perkataan, dimana kita kesulitan mengurangi kicau yang tidak beraturan. Sehingga bualan kita kehilangan arah dan makna. Namun di balik itu, kita sering kali berdiam diri tidak melakukan apa-apa. Inilah yang harus dibalik agar bagaimana kita bisa sedikit dalam perkataan, namun diri ini tak bisa diam dalam berbuat kebaikan. Atau meminjam istilahnya iklan rokok, kita harus Talk Less Do More.
Dalam tindakan, kita harus terus bergerak. Jangan sampai kita berdiam diri. “Sama seperti besi yang bisa berkarat karena didiamkan, maka berdiam diri bisa merusak
70 | C a t a t a n M a s ’ u l G a u l
kesehatan,” kata Leonardo da Vinci. Dunia ini berubah karena bergerak. Untuk menjaga stabilitasnya, alam semesta ini pun bergerak. Dan peradaban manusia terus berkembang karena orang-orang yang bergerak. Karenanya, “Diam tak selalu emas,” kata Herry Nurdi. Kita harus bergerak. Jika gerak adalah tanda orang yang masih hidup, maka berdiam diri adalah tanda bagi orang yang sudah mati. Kalau tidak mati fisiknya, maka sebenarnya ia telah mati antusiasmenya..
Akhirnya, jangan pernah diam. Sampaikanlah kebenaran dan teruslah berbuat kebajikan yang bermanfaat bagi diri dan ummat. Karena di antara tanda kebagusan keislaman seseorang adalah meninggalkan apa-apa yang tidak bermanfaat. Berbuatlah…!!! Karena Allah juga menyuruh kalian untuk terus berbuat, “Bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu, begitu juga Rasul-Nya dan orang-orang mukmin…” (at-Taubah [9]: 105)
11 Rabiul Awal 1432 H.
Sirot Fajar | 71
ALLAH menegaskan bahwa al-falaah (ke-MENANG-an) adalah ketika kita selalu memperbaiki, menata dan membersihkan hati.. Sedangkan kerugian adalah ketika kita membiarkan hati kotor, mendiamkan penyimpangannya dan mengabaikan noda yang ada di dalamnya.. "Sungguh telah MENANG orang yang mensucikan (hati)nya dan telah rugi orang yang mengotori (hati)nya." (Qs. Asy-Syams: 9-10).. Mari kembali luruskan niat kita.. Hayya 'alal falaah.. Mari kita sambut kemenangan Da'wah Kampus…
Status FaceBook
72 | C a t a t a n M a s ’ u l G a u l
Sakinah dalam Perjuangan
Kalau ada kata ‘sakinah’, apa yang terbesit dalam pikiran Anda?
Saya yakin bahwa hal tersebut adalah ‘nikah’.
Tetapi, biarpun belum nikah, bisa kog kita menggapai sakinah.. hehe..
Emang apa sih sakinah itu? Secara sederhana, sakinah bisa berarti ketenangan. Antonim dari guncang & gerak. Tempat kita menenangkan diri dari berbagai aktivitas pun disebut Maskan. Rumah..
Jika kita menelisik kata sakinah dalam al-Quran, kita akan menjumpai bahwa kata sakinah terulang sebanyak enam kali. Keenam ayat itu terdapat pada Al-Baqarah [2] ayat 248; At-Taubah [9] ayat 26 & 40; dan Al-Fath [48] ayat 4, 18, 26.
Dalam konteks apa saja keenam kata sakinah tersebut diturunkan? Silahkan dibuka al-Quran masing-masing, untuk sekalian belajar tafsir maudhu’i (tematik).. :-)
Nah, dalam kesempatan kali ini, mari kita buka Surah At-Taubah ayat 25-26:
Sirot Fajar | 73
“...dan bumi yang luas itu telah terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari kebelakang dengan bercerai-berai. Kemudian Allah menurunkan KETENANGAN (sakinah) kepada Rasul-Nya dan kepada orang-orang yang beriman, dan Allah menurunkan bala tentara yang kamu tiada melihatnya, dan Allah menimpakan bencana kepada orang- orang yang kafir, dan demikianlah pembalasan kepada orang-orang yang kafir...”
Dalam ayat tersebut, Allah menurunkan sakinah kepada orang-orang beriman yang tetap menyertai Rasulullah berperang; yang tetap bertahan di medan pertempuran; yang tidak melarikan diri di saat yang lain kocar-kacir meninggalkan medan Hunain..
Pada peperangan yang terjadi pada tahun kedelapan hijriah tersebut, ada sebagian kaum muslimin yang berbangga dengan jumlah mereka yang banyak. Terlebih
jika kau ingin memeroleh sakinah, teruslah bertahan di jalan dakwah ini. Teruslah bertahan di medan perjuangan ini. Semoga dengannya Allah berkenan turunkan sakinah-Nya kepada kita.
74 | C a t a t a n M a s ’ u l G a u l
peperangan itu terjadi hanya berselang beberapa hari usai penaklukan kota Makkah (fathu makkah). Maka ketika ada seorang sahabat yang dengan semangat meneriakkan, “Kali ini kita tidak terkalahkan!”, para sahabat yang lain pun sepakat membenarkannya.
Akan tetapi, kenyataan yang terjadi di medan pertempuran berbeda dengan bayangan yang mereka angankan. Pasukan kaum muslimin yang berjumlah 12.000 ternyata kocar-kacir menghadapi musuh yang hanya berjumlah 4.000 pasukan. Dari 12.000 pasukan itu, hanya tersisa tidak lebih dari 300 orang yang bertahan. Kepada orang yang bertahan di medan pertempuran inilah Allah karuniakan kepada mereka Sakinah, yang membuat mereka tenang; tidak gentar menghadapi musuh dan berhasil mengubah kekalahan menjadi kemenangan gemilang.
Demikianlah... Sakinah Allah turunkan, salah satunya, kepada orang-orang yang tetap bertahan di medan pertempuran..
Akhirnya, jika kau ingin memeroleh sakinah, teruslah bertahan di jalan dakwah ini. Teruslah bertahan di medan
Sirot Fajar | 75
perjuangan ini. Semoga dengannya Allah berkenan turunkan sakinah-Nya kepada kita..
Jika kau tetap merasa berat bertahan di medan dakwah ini, mungkin kau perlu segera berdiri dan menyenandungkan lagu Maydani yang terinspirasi dari kata-kata Umar bin Khathab dengan lantang:
Bila ada 1000 mujahid, aku lah 1 di antaranya..
Bila ada 100 mujahid, aku lah 1 di antaranya..
Bila ada 10 mujahid, aku lah 1 di antaranya..
Bila ada seorang mujahid, aku lah yang menggenggamnya...
*)Catatan: Jumlah pasukan dalam perang Hunain ini ada beberapa riwayat. Jumlah di atas mengambil dari riwayat yang ada di tafsir jalalain. Satu hal yang pasti adalah jumlah pasukan muslim saat itu lebih banyak dari pasukan musuh..
76 | C a t a t a n M a s ’ u l G a u l
Oh, you hate your job? Why didn't you say so? There's a support group for that. It's called EVERYBODY Kamu benci pekerjaanmu? Bilang Saja! Ada perkumpulannya kog. Nama perkumpulannya: SEMUA ORANG (Drew Corey, Komedian Amerika)
Kamu merasa berat dengan amanah yang diberikan padamu? Kamu merasa terbebani dengan tugas yang ada? Ternyata itu bukan hanya kamu saja. Tapi hampir semua orang juga merasakan hal sama. Tetapi kita selalu punya pilihan untuk melakukan yang terbaik.. Jika kita LILLAH, insya Allah tak ada kata lelah..
Status FaceBook
Sirot Fajar | 77
Yang Mengajak, Yang Menyampaikan…
dakwah yang tenang,
namun lebih gemuruh dari tiupan angin topan yang menderu…
dakwah yang rendah hati,
namun lebih perkasa dari keangkuhan gunung yang menjulang…
dakwah yang terbatas,
namun jangkauannya lebih luas dari belahan bumi seluruhnya…
(Hasan Al-Banna, Majmu’atur Rasa’il)
Beberapa waktu lalu, saya mendapat SMS dari seorang adik, “Kak, menurut pean di MY Club ini kita bener-bener berda’wah gak? Cukup rumit menjelaskannya karena da’wah yang telah saya pelajari adalah da’wah yang terjun benar-benar ke masyarakat”
Di tengah keasyikan berpikir untuk menjawab tanya itu, saya jadi teringat dengan pertanyaan yang pernah saya lontarkan ke para senior. Waktu itu adalah forum sharing yang kami lakukan bersama para senior. Waktu itu saya bertanya, “Sebenarnya kita ini aktivis atau pasivis da’wah? Kalau benar-benar ‘aktif’ kenapa kita lebih mirip dengan seorang yang ‘pasif’. Kita berangkat kajian, halaqoh dll, dan
78 | C a t a t a n M a s ’ u l G a u l
di sana kita mendengar taujih ustadz. Yang aktif kan ustadnya (karena menyampaikan), sementara kita adalah orang yang pasif (karena hanya mendengar). Jadi lebih pantes disebut pasivis da’wah..”
Ah, saya juga lupa dengan jawaban para senior dulu. Karena saya tanya hanya sekedar tanya. Saya tanya karena pada waktu itu disuruh tanya. Itu saja, tidak lebih juga tidak kurang, Persis seperti mahasiswa yang bersekongkol dengan temannya untuk bertanya saat salah satu di antaranya presentasi. Agar mendapat nilai keaktifan.. (jika ada yang merasa, afwan nggeh.. Hehe…)
Da’wah Kampus Vs Da’wah Kampung
Sebenarnya tidak ada perbedaan yang prinsipal antara da’wah kampus dan da’wah kampung. Hanya saja sasaran antara keduanya lah yang berbeda. Sasaran da’wah kampus adalah civitas akedemika yang meliputi: mahasiswa, dosen, dan karyawan. Dan jika memungkinkan baru melebarkan ranahnya ke masyarakat sekitar. Sementara sasaran da’wah kampung adalah masyarakat secara umum. Perbedaan obyek da’wah inilah yang menjadikan lingkup kegiatan antara da’wah
Sirot Fajar | 79
kampus dan da’wah kampung berbeda. Afwan, agar pembahasannnya tidak melebar, apa saja perbedaan lingkup kegiatan antar keduanya monggo untuk dibuka di buku-buku da’wah secara umum dan da’wah kampus.
Di antara salah satu tujuan da’wah kampus adalah Membentuk dan me-suplai alumni yang berafiliasi kepada Islam serta optimalisasi peran kampus dalam mentransformasi masyarakat menuju masyarakat islami (lihat dalam buku-buku da’wah kampus seperti: Risalah Manajemen Dakwah Kampus [tim SMPN FSLDK Indonesia], Menuju Kampus Madani [Ridwansyah Yusuf Achmad], Menuju Kemenangan Dakwah Kampus [Ahmad Atian])
Da’wah kampus lebih mirip sebagai ‘kawah candradimuka’ yang berusaha untuk mentransformasi individu-individu yang pada awalnya belum memiliki kompetensi apa-apa menjadi individu-individu yang memiliki kompetensi keislaman yang tinggi, profesional, intelek, dan siap melakukan amal da’awi (Lihat Risalah Manajemen Dakwah Kampus, hlm: 70). Singkat kata, da’wah kampus adalah tempat pembelajaran agar nantinya ketika mahasiswa telah terjun ke masyarakat (baca: Kampung) bisa
80 | C a t a t a n M a s ’ u l G a u l
menjalankan amal da’awi. Pada mulanya adalah kampus dan pada akhirnya adalah kampung..
Antara Da’wah dan Tabligh
Dulu ketika masih di pesantren, saya beranggapan bahwa seorang da’i adalah orang yang sering berceramah: tiap hari kultum, tiap pekan khutbah jumat, tiap bulan kajian rutin, dan tiap tahun kajian akbar, hehe.. Namun, seiring berjalannya waktu akahirnya saya pun sadar bahwa alangkah sempitnya jika da’wah hanya dipahami dengan memberi ceramah saja. Alangkah terbatasnya kerja da’wah jika seorang itu baru disebut da’i jika ia telah naik mimbar..
Secara bahasa da’wah berasal dari kata da’aa-yad’uu yang berarti mengajak atau menyeru. Dan di antara salah satu media da’wah yang sering digunakan adalah dengan ’menyampaikan secara langsung’ melalui kajian, ceramah, dll. Dari sini lah kemuadian kita mengenal istilah tabligh. Secara bahasa tabligh berasal dari ballagho-yuballighu-tabliighon yang berarti menyampaikan. Hal ini menimbulkan persepsi bahwa da’wah adalah ceramahnya seseorang di atas mimbar
Sirot Fajar | 81
atau di depan jemaah banyak; seorang baru bisa disebut da’i ketika ia telah bisa berceramah dan naik mimbar.
Alangkah sempitnya jika da’wah dimaknai hanya sebatas kegiatan tabligh saja. Padahal da’wah bisa dilakukan kapan saja dan di mana saja. Paling tidak, kalau pun toh kita belum bisa berda’wah kepada banyak orang, kita masih bisa berda’wah pada diri kita sendiri (da’wah nafsiah), atau juga bisa melakukan da’wah fardiyah (orang per orang). Selain itu media da’wah pun bisa dilakukan dengan menulis, dll..
Yang Mengajak dan yang Menyampaikan..
Fokus da’wah kita adalah mengajak orang untuk berbuat kebajikan dan menyampaikan kebenaran islam ke semua manusia. Dalam riwayat Bukhori, Ibnu Mas’ud mengisahkan, “Rasulullah selalu memberikan mau’idzah kepada kami beberapa hari sekali, karena khawatir akan menimbulkan kebosanan pada diri kami.” Ini menunjukkan pada kita bahwa Rasulullah lebih banyak memberi contoh dalam kehidupan nyata dari pada sekedar berbicara. Rasulullah menyampaikan kebenaran islam lebih banyak dengan amal perbuatan. Sebab, sebagaimana kata hikmah,
82 | C a t a t a n M a s ’ u l G a u l
lissanul haal afshhohu min lisaani maqool.. Bicara dengan kenyatan lebih dahsyat pengaruhnya dari pada sekedar untaian kata-kata..
Akhirnya kader da’wah sejati bukanlah orang yang pintar retorika dan merangkai kata-kata saja. Namun kader da’wah sejati adalah orang yang berusaha memenuhui seluruh fikirannya dengan perjuangan, seluruh ucapannya dengan hikmah dan kebajikan, dan seluruh amalnya dengan kemanfaatan untuk umat dan orang sekitarnya. Ia mengajak kebaikan dengan lisannya, dan menunjukkan kebenaran islam dengan pesona akhlaknya..
Jum’at 6 Muharrom 1433 H, Usai sholat Jum’at,
Saat hujan mengguyur Lidah Wetan, yang genangan airnya menembus genteng Ma’had Zam-zam..
Hmm.. Saatnya untuk ngepel lagi..;-)
Sirot Fajar | 83
Mungkin mimpi kita untuk memenangkan dakwah kampus ini terlalu tinggi jika melihat kondisi saat ini. Namun jangan sampai kita menyerah sebelum bertanding.
Jangan sampai untuk sekedar bermimpi saja kita tidak memiliki kesabaran.
Mungkin juga jalan dakwah ini memang benar-banar berat. Namun jangan sampai kondisi ini melumpuhkan semangat kita untuk terus berjuang.
Jangan sampai kita seperti yang dikatakan Sayyid Quthb, “KAU MULAI JEMU BERJUANG, LALU KAU TANGGALKAN SENJATA DARI BAHUMU????”
Status FaceBook
84 | C a t a t a n M a s ’ u l G a u l
Sampaikan Kebaikan, Meskipun Belum Melaksanakannya
“Seandainya seseorang tidak boleh memerintahkan kebaikan dan mencegah kemungkaran sehingga ia menjadi orang yang bersih dari semua dosa, maka tidak ada seorang pun yang memerintahkan kebaikan dan mencegah kemungkaran.”
(Sa’id bin Zubair)
Anak kecil itu membaca surat An-Nashr. Begitu merdu ia membaca. Apalagi logat kekanak-kanakannya semakin membuat semua orang yang melihatnya menjadi gemas. Idha jaa’a nashrullahi wal fath, begitu ia membaca. Al-Hajjaj bin Yusuf dan orang-orang yang melihatnya pun semakin kagum. Tapi mereka mendadak ricuh ketika anak kecil itu membaca ayat berikutnya, wa ra’aita an-naasa yahrujuuna fii diinillahi afwaaja. Ia mengganti kata yadhuluuna (mereka semua masuk) menjadi yakhrujuuna (mereka semua keluar). Sehingga ayat kedua dari surat Al-Ashr itu pun artinya
Sirot Fajar | 85
berubah menjadi: Dan kamu melihat manusia berbondong-bondong keluar dari agama Allah.
“Hai anak kecil, bacaanmu keliru. Yang benar adalah, wa ra’aita an-naasa yadhuluuna fii diinillahi afwaaja,” Begitu Al-Hajjaj bin Yusuf, seorang panglima yang kejam dan dzolim pada masanya itu, mencoba membenarkan bacaan anak kecil itu.
Tapi anak kecil itu dengan tegas dan keras mengatakan, “Tidak! Bacaanku benar, dan engkau lah yang salah. Memang, dahulu mereka berbondong-bondong masuk islam, tapi kini mereka semua berbondong-bondong keluar dari agama islam, sebab kedzolimanmu.”
Ketika membaca kisah tersebut di cover belakang buku Da’i-da’i Cilik yang ditulis Syekh Nashir Asy-Syafi’i (judul asli Al-Athfaal lakin du’at), saya pun tidak bisa menahan diri untuk tidak membeli buku tersebut. Ternyata, yang kita lakukan selama ini belum lah seberapa. Terlalu naif jika membandingkan apa yang kita lakukan dengan yang dilakukan anak itu. Di usia kita yang entah berapa, dakwah yang kita lakukan ternyata masih jauh jika dibanding dengan
86 | C a t a t a n M a s ’ u l G a u l
anak kecil itu. Paling tidak ada beberapa hal yang menjadikan anak kecil itu lebih unggul dari kita.
Pertama, usia. Di usia yang begitu belia, anak itu telah mulai berdakwah. Coba bandingkan dengan kita, umur berapakah kita mulai berdakwah?? Umumnya kita mengenal aktivitas dakwah itu saat mulai beranjak dewasa, bahkan ada yang lebih tua lagi. Memang, dalam buku tersebut penulisnya tidak menyebut usia anak kecil itu. Tapi dalam Psikologi perkembangan, seseorang itu masih disebut anak-anak jika usia belum lebih dari 12 tahun.
Kedua, objek atau sasaran dawah. Kepada siapa biasanya kita berdakwah? Umumnya kita masyarakat biasa atau rekan sesame. Ke pemimpin? Mungkin pernah, tapi itu pun kebanyakan melalui demontrasi. Coba kita bandingkan dengan anak kecil itu. Di usia yang begitu belia, ia berani melakukan dakwah ke pemimpin yang dzolim lagi kejam.
Ketiga, bekal dakwah. Di usia yang begitu belia, anak itu telah hafal al-Qur’an. Coba bandingkan dengan kita, berapa ayat yang telah kita hafalakan. Bahkan hafalan penulis sendiri juga masih sangat sedikit. Mungkin di antara kita ada yang hafal, tapi ketika hafal usia kita mungkin tidak
Sirot Fajar | 87
sebelia anak tersebut. Sekali lagi kita kalah dengan anak kecil tersebut.
Kisah di atas hanyalah cermin bagi kita. Agar kita tergugah untuk mulai berdakwah. Atau kalau sudah mulai meniti jalan dakwah agar lebih semangat dalam berdakwah. Jangan sampai karena kisah tersebut kita justru membuat kita lemah dalam berdakwah. Lemah karena merasa tidak pantas untuk berdakwah. Percayalah bahwa kita pun harus berdakwah, karena:
Pertama, maa laa yudroku kulluhu fa laa yutroku kulluhu, begitu kata koidah ushul fiqih yang ke-33 dalam buku Mabaadi Awwaliyah yang ditulis Abdul Hamid Hakim. Artinya: “Sesuatu yang tidak bisa kita lakukan semuanya maka jangan ditinggal semuanya.“ Misal, ada seseorang yang jumlah tanggungannya itu lima orang. Ketika waktu pembayaran zakat fithr ia pun harus membayar untuk lima orang. Tapi ternyata ia hanya sanggup membayar untuk tiga orang saja. Maka yang tiga itu harus ia bayarkan. Tidak bisa ia meninggalkan semuanya atau tidak membayar zakat sama sekali hanya gara-gara kurang dua orang saja.
88 | C a t a t a n M a s ’ u l G a u l
Begitu pun kita dalam berdakwah. Ketika kita baru sadar untuk berdakwah di usia senja, maka itu pun tidak jadi so’al. Jangan sampai karena berdalih “sudah terlalu tua” atau “sudah terlanjur tidak berdakwah,” kemudian kita tidak berdakwah sepanjang hidup kita. Tidak ada kata terlambat dalam berdakwah. Justru kita harus super semangat untuk mengejar ketertinggalan kita dalam menapaki jalan dakwah.
Kedua, Laa yukallifullaha nafsan illa wus’ahaa, begitu kata Allah sebagaimana yang termaktub dalam surat al-Baqarah. Allah tidak membebani seseorang melebihi kesanggupannya. Kalau kita hanya sanggup berdakwah kepada teman-teman kita sendiri, maka mari kita lakukan hal itu dengan sungguh-sungguh. Tapi jangan sampai kita tidak meningkatkan kualitas diri dan dakwah kita karena berdalih dengan ayat tersebut. Sesuai kesanggupan kita adalah batas maksimum dari kemampuan kita; sesuai dengan usaha maksimum yang kita lakukan. Jika kita belum berusaha maksimal, maka jangan sekali-kali berdalih dengan ayat tersebut.
Ketiga, ballighuu ‘anni wa lau aayatan. Sampaikanlah dariku walaupun satu ayat, begitu pesan Rasulullah. So, biar
Sirot Fajar | 89
pun ilmu kita tidak seberapa, sampaikanlah!! Kalau kita menunggu pintar baru berdakwah, emang kapan kita pintar? Imam Ghozali bahkan mengatakan, “Siapa yang mengatakan dirinya telah mengetahui, sebenarnya dia termasuk orang yang bodoh.” Segera berdakwah, InsyaAllah ilmu yang kita miliki pun akan ditambah oleh Allah.
Ada satu hal yang cukup sering digunakan orang untuk tidak melakukan dakwah. Yaitu merasa masih banyak kekurangan, banyak melakukan kesalahan dan dosa, serta sering melalaikan kewajiban agama. Padahal, sebagai manusia yang tidak ma’shum, kita semua pasti pernah melakukan kesalahan dan banyak berkurang. Keengganan itu sering kali diperkuat dengan firman Allah yang belum dipahaminya secara benar:
“Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaktian, sedang kamu melupakan diri (kewajiban) mu sendiri, padahal kamu membaca Al Kitab (Taurat)? Maka tidaklah kamu berpikir?” (Al-Baqarah [2]: 44)
“Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar
90 | C a t a t a n M a s ’ u l G a u l
kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan”. (Ash-Shaff [61]: 2-3)
Suatu ketika seorang berkata kepada Al-Hasan, “Sesungguhnya Fulan tidak mau memberi nasihat seraya berdalih, ‘Aku takut mengatakan sesuatu yang tidak aku laksanakan.’”
Al-Hasan menjawab, “Siapa kah di antara kita yang yang mampu melaksanakan apa-apa yang ia katakan? Setan ingin menguasai orang ini, sehingga tidak ada seorang pun yang akan memerintahkan kebaikan dan mencegah kemungkaran.”
Al-Hasan benar. Jika kita menunggu baik untuk memulai berdakwah, mungkin di dunia ini tidak ada orang yang berdakwah. Dalam sebuah riwayat Rasulullah bersabda, “Perintahkanlah yang ma’ruf meskipun kamu belum mengamalkannya, dan cegahlah kemungkaran meskipun kamu belum meninggalkan seluruhnya.” (Dihasankan Imam As-Suyuthi dalam Al-Jami’ush Shaghir [8177] diriwayatkan dari banyak jalur di antaranya riwayat Ibnu Abi Dunya dari Abu Hurairah dan riwayat Thabrani dari Anas. Masing-masing memiliki kelemahan, namun riwayat itu naik ke peringkat
Sirot Fajar | 91
hasan lighoirihi sebab saling menguatkan. Arba’in Da’awiyah no: 13)
Memerintah pada kebaikan dan mencegah kemungkaran adalah suatu kewajiban seorang Muslim. Begitu pun dengan mengerjakannya. Sebagaimana koidah ushul fiqih di atas, maka kita tidak bisa meninggalkan salah satunya, dengan beralasan belum bisa melakukan keduanya. Lebih baik kita melakukan salah satunya dari pada tidak melakukan kedua-duanya.
Akhirnya, bagaimanapun kondisi kita, jika kita senantiasa memerintah pada kebaikan dan mencegah kemungkaran, serta memberikan nasihat pada orang lain, maka kita akan lebih berpeluang untuk menjadi lebih baik. Sebab, sebagaimana Kulwit @salimafillah, “Menjadi da’i adalah memperbaiki diri; agar lebih mudah dinasihati; sebab telinga sendiri lebih dekat dari pada milik sesama.”
“Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani (orang-orang yang sempurna ilmu dan ketakwaannya kepada Allah), karena kamu selalu mengajarkan Al Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya” (Ali ‘Imraan [3]: 79)
92 | C a t a t a n M a s ’ u l G a u l
Anyone who doesn't take trust seriously in small matters cannot be trusted in large ones either.. Siapa yang tidak memandang serius kepercayaan dalam skala kecil, tidak bisa dipercaya untuk skala besar.. --Albert Einstein-- Termasuk dalam hal ini adalah amanah... Sekecil apapun amanah yang diberikan kepada kita, biar pun keliatannya ndak penting, yang jika kita acuhkan tampak tidak masalah, tetap saja kita harus menjalankannya dengan sebaik-baiknya..
Status FaceBook
Sirot Fajar | 93
Mengubah Dunia Dengan Cinta..
“Perdamaian adalah maslahat kemanusiaan yang agung. Tapi manusia tidak selalu mencintainya sejak awal”
--Anis Matta--
Ah, tidak perlu saya jelaskan mengenai kondisi dunia hari ini. Saudara tentu sudah melihat dan mendengarnya. Baik itu secara langsung, maupun lewat televisi, surat kabar, internet dan media lainnya. Dan saya yakin saudara adalah orang yang cerdas, sehingga sudah bisa menyimpulkan, bagaimana dengan kondisi dunia hari ini..
Tapi, tahukah engkau wahai saudaraku, kondisi yang ada sekarang ini, dapat diubah dengan satu kata: cinta. Ya, cinta. Sebuah kata yang sudah terlalu sering kita dengar. Biar pun tidak semua di antara kita memahami apa cinta itu sebenarnya. Dan ‘cinta’ yang akan kita bahas disini paling tidak ada dua makna.
Pertama: cinta dalam arti yang sebenarnya. Andai ada cinta di hati pemimpin, maka ia akan melakukan apa saja untuk mensejahterakan rakyatnya. Andai ada cinta di hati
94 | C a t a t a n M a s ’ u l G a u l
rakyat, maka mereka akan taat dan patuh pada pemimpin mereka. Andai ada cinta di hati orang kaya, maka mereka akan memberikan hak orang miskin sesuai dengan semestinya. Andai ada cinta di antara kita, maka orang tidak akan merampok, mencuri, mengkorupsi dan berbagai kedholiman terhadap hak orang lain. Sebab, orang yang mencintai akan senantiasa berusaha membahagiakan orang yang dicintainya; orang yang mencintai akan terus memberi, memberi, dan memberi kebaikan pada orang yang dicintainya. Dan bukan sebaliknya.
Kedua: cinta yang berarti da’wah. Syaikhut Tarbiyah KH Rahmat Abdulllah mengatakan, “Dakwah adalah cinta”. Dan memang, da’wah adalah salah satu wujud cinta kita pada sesama. Karena, dengan da’wah itu kita berarti mengajak kebaikan pada saudara kita; dengan da’wah itu kita mencegah saudara kita untuk berbuat kenistaan; dengan da’wah berarti kita peduli dengan saudara kita. Dengan dakwah itu berarti kita—meminjam istilahnya Ust.Salim—mengambil cinta dari langit, lalu menebarkannya ke bumi.
Kita tidak akan bisa berda’wah kalau tidak ada cinta dalam hati kita. Ketika ada cinta dalam hati ini, maka
Sirot Fajar | 95
perasaan dalam hati menjadi lembut, kata yang terucap pun menjadi indah, dan perilaku pun menjadi mempesona. Dalam keadaan seperti itulah da’wah yang kita serukan akan menjadi lebih mudah diterima. Sebab, sebagaimana tercantum dalam suran Ali ‘Imraan ayat 159, “Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.” Maka benarlah kata Rumi:
Jalan para nabi kita adalah jalan cinta
Kita adalah anak-anak cinta
Dan cinta adalah ibu kita..
Dalam suasana apapun, jadi lah kita orang-orang yang penuh cinta. Jadilah kita para penebar cinta di muka bumi ini. Bahkan di saat peperangan pun kita harus tetap menjadi orang yang penuh cinta. "Akan kami perangi mereka dengan cinta," begitu kata Hasan Al Banna. Sebab hanya dengan cinta lah kita bisa membangun dunia ini.
Akhirnya, Mari kita bangun dunia ini dengan cinta..
Aku mencintai kalian… ^_^
96 | C a t a t a n M a s ’ u l G a u l
Sedikit Renungan Dalam buku Risalatun ilal Amiin, Ustadz Jasim Muhalhil mencoba menguraikan sebab-sebab mundurnya seseorang dari gelanggang dakwah. Salah satunya adalah KESOMBONGAN.. Bagimana bentuk kesombongan dalam konteks dakwah? Dalam tulisannya di Majalah UMMI, Ust Tete Qomaruddin mencontohkan, di antara bentuk kesombongan dalam konteks dakwah adalah melecehkan seseorang yang sudah dimusyawarahkan menjadi pemimpin dakwah dengan mengatakan, “Mengapa harus dia yang jadi pemimpin? Apa yang membuatnya layak untuk itu? Untuk apa aku melaksanakan program-programnya yang dangkal dan tidak realistis?” Mungkin kita pernah melakukan hal itu. Mari beristighfar pada Allah.. Astaghfirullah Rabbal Baraayaa, Astaghfirullah minal khotoo’aa..
Sirot Fajar | 97
Bagian 4
Semangat Pembelajaran
“Orang-orang yang berhenti belajar akan menjadi pemilik masa lalu | Orang-orang yang terus belajar akan menjadi pemilik masa depan.”
--Mario Teguh--
“Orang-orang itu telah melupakan bahwa belajar tidaklah melulu untuk mengejar dan membuktikan sesuatu, namun belajar itu sendiri, adalah perayaan dan penghargaan pada diri sendiri.”
― Andrea Hirata, Padang Bulan
Ta’allamuu qobla an tasuudu.. Belajarlah kalian sebelum kalian mempin!”
--Umar bin Khatthab--
98 | C a t a t a n M a s ’ u l G a u l
Maaf, Aku Belum Berpengalaman!
“Orang bodoh tidak belajar dari pengalaman,
orang pintar belajar dari pengalaman,
orang bijak belajar dari pengalaman orang lain..”
--Anonim—
“Kepercayaan diri, dibangun dari salah satunya pengalaman. Ini berlaku dalam semua bidang keahlian. Termasuk dalam kancah pergerakan islam.”
–Anis Matta—
“….jika pengalaman artinya suka menghadapi masalah baru dengan cara lama: Bahaya!”
--Salim A. Fillah—
Remaja itu masih terlalu belia ketika tiba-tiba ayahnya yang seorang raja meninggal. Sebagai putra mahkota, maka ia pun kemudian didaulat untuk naik tahta kerajaan. Saat itu usianya 20 tahun. Masih sangat muda.
Sirot Fajar | 99
Baru saja naik tahta, ia menghadapi tantangan yang besar: banyak daerah yang berontak karena menganggap remeh Sang Raja yang masih muda dan belum berpengalaman. Para jendral senior pun mulai khawatir. Maka mereka menyarankan agar Sang Raja melakukan negoisasi dengan para pemberontak. Akan tetapi raja muda ini memilih memerangi para pemberontak.
Singkat cerita, raja muda tersebut berhasil mengatasi pemberontakan. Bahkan, sesaat setelai itu dia mulai memperluas kekuasaan. Dengan 35.000 tentara ia berhasil menaklukkan kerajaan Persia yang selama 2000 tahun berkuasa dan tak terkalahkan. Ia sendiri yang memimpin pasukannya dengan gagah berani.
Tak berhenti sampai disitu, pasa usia 24 tahun ia menaklukkan Mesir tanpa perlawanan. Hanya dalam waktu singkat, kekuasaannya mencakup 3 benua dan berhasil membangun 21 kota baru. Yang mana pencapaiannya ini jauh mengungguli ayahnya dan juga prestasi jendral senior yang berpengalaman.
100 | C a t a t a n M a s ’ u l G a u l
Demikian lah sekelumit kisah Iskandar Yang Agung yang kini dikenal sebagai salah satu penakluk dalam sejarah terbesar dalam sejarah dunia..
Apa rahasia yang menjadikan Iskandar Yang Agung bisa mencapai prestasi yang gemilang? Padahal ia sempat diragukan para jendral senior dan diberontak oleh rakyatnya karena dianggap terlalu muda dan tidak berpengalaman?
Salah satunya adalah pendidikan & pembelajaran. Pada usia 13 tahun, ia berguru langsung pada Aristoteles, filsuf paling terkenal di zamannya bahkan hingga sekarang. Biarpun ia tidak berpengalaman, tetapi ia banyak menyerap banyak pengalaman orang lain sehingga ia tidak perlu mengalami kekalahan seperti pendahulunya, dan ia juga juga banyak belajar bagaimana cara memenangkan pertempuran dari para pendahulunya, bahkan belajar dari para musuhnya.
Seperti tertulis dalam Quote awal tulisan ini, “orang pintar belajar dari pengalaman, orang bijak belajar dari pengalaman orang lain..”, demikianalah seharusnya yang dilakukan para aktivis dakwah. Bahwa pengalam tidak harus mengalami sendiri. Kalau kita bisa mengambil pelajaran dari
Sirot Fajar | 101
pengalaman orang lain, kenapa harus susah-susah mengalami sendiri?
Terkadang seorang itu merasa minder atau tidak mampu ketika belum berpengalaman. Padahal yang terjadi sebenarnya bukanlah ketidakmampuan, tetapi ketidakpercayaan-diri. Ketidakpercayaan diri inilah yang kemudian membuatnya benar-benar tidak mampu.
Seorang yang berpengalaman belum tentu bisa melakukan keberhasilan yang sama di waktu yang lain. Adakalanya justru orang yang tidak berpengalaman berhasil melakukan yang lebih baik, karena ia senantiasa belajar dari pengalaman orang lain.
Dalam mengelola lembaga dakwah fakultas & jurusan misalnya, adakah orang yang sebelumnya sudah berpengalaman? Sangat sedikit sekali. Hampir tidak ada orang yang berpengalaman, karena itu adalah tempat untuk
Adakalanya justru orang yang tidak berpengalaman berhasil melakukan yang lebih baik, karena ia senantiasa belajar dari pengalaman orang lain.
102 | C a t a t a n M a s ’ u l G a u l
mencari pengalam untuk amanah-amanah yang lebih besar. Bahkan, tidak ada presiden yang sebelumnya berpengalaman jadi presiden, kecuali incumbent :p
Akhirnya, tidak ada alasan ‘karena belum berpengalaman’ dalam menjalankan amanah. Yang terpenting adalah komitmen dan kesungguhan dalam menjalankannya. Selebihnya, mintalah pertolongan kepada Allah agar Dia memudahkan dan menguatkan kita dalam menjalankannya..
Sirot Fajar | 103
“Kalau ada kanker yang menggerogoti agama-agama, maka di antaranya bisa berbentuk umat yang hanya berbangga dengan status, tak peduli dengan nilai dan kualitas, lalu menjadikan simbol status itu sebagai gincu saja atau alat justifikasi kezaliman.”
--KH. Rahmat Abdullah—
Nah, kader dakwah pun demikian..
Jangan hanya membanggakan statusmu sebagai aktivis dakwah kampus, tapi buktikanalah dengan kiprah nyata untuk dakwah ini..
Selain itu, tingkatkanlah kualitasmu agar menjadi kader dakwah yang sebenarnya..
Status FaceBook
104 | C a t a t a n M a s ’ u l G a u l
Yang Membuka Hati dan Wawasan
“Jadikan Tarbiyah taman terindah untuk lahirkan bunga-bunga jannah full barokah. Give the BEST Get the BEST. Jadilah pahlawan kebaikan”
(Solikhin Abu Izzuddin, 06/12/09)
Ada satu hal yang membuat saya penasaran ketika pertama kali melihat tayangan video “Jejak-jejak Mimpi” yang dibuat Akh Danang Ambar Prabowo dari IPB. Bukan isinya, tapi ucapan thank to di akhir tayangan yang menginspirasi tersebut. Di antara yang disebut adalah thank to “Tarbiyah, yang telah membuka hati dan wawasanku”.
Pertama kali saya melihat itu saat tahun terakhir di pesantren pada acara sosialisasi kampus yang diadakan para alumni. Sebenarnya sejak memasuki aliyah saya sudah sering mendengar kata tarbiyah. Adalah Ustadz Shobri yang saat itu menjadi ketua IKADI Nganjuk sering bercerita mengenai aktivitas yang dilakukannya: tarbiyah. Sebagai orang pesantren yang kebetulan juga mbak saya kuliah di IAIN Sunan Ampel, sepengetahuan saya tarbiyah adalah
Sirot Fajar | 105
nama salah satu fakultas di IAIN. Itu saja. Sama dengan Fakultas Pendidikan di perguruan tinggi umum, hehe..
Nah, sebenarnya apa sih tarbiyah itu? Mari kita cermati arti kata tarbiyah dari bagian yang paling awal: akar kata. Bagi gerakan yang didirikan Hasal Al-Banna tarbiyah memiliki sedikitnya tiga makna. Sebagaimana diulas Salim A. Fillah dalam buku Saksikan Bahwa Aku Seorang Muslim.
Pertama: Rabaa yarbuu yang berati tumbuh. Tarbiyah menumbuhkan seseorang dari kekanakan ruh, kekanakan akal, dan kekanakan jasad menuju kematangan dan kedewasaan masing-masingnya.
Kedua: Rabiya yarbii yang berarti berkembang. Tarbiyah mengembangkan manusia muslim dalam kemampuan-kemampuan yang dibutuhkannya menjalani kehidupan.
Ketiga:: Rabba yarubbu yang berarti memberdayakan. Ia yang telah tumbuh dan berkembang harus diarahkan untuk berdaya guna.
Intinya, tarbiyah secara bahasa bisa berarti improvement, development, dan empowerment. Lalu apa arti tarbiyah secara istilah?
106 | C a t a t a n M a s ’ u l G a u l
Imam Baidhowi (wafat 685) mengatakan bahwa pada dasarnya ar-rabb itu bermakna tarbiyah yang makna lengkapnya adalah “menyampaikan sesuatu hingga mencapai kesempurnaan”. (New Quantum Tarbiyah, hlm: 217)
Mencapai kesempurnaan. Apa makna dari itu? Bukankah manusia itu tidak ada yang sempurna. Lantas kenapa tarbiyah dengan begitu ‘berani’ ingin menjadikan seorang menjadi sempurna? Jawabannya adalah karena kesempunaan itu relatif. “Ukuran kesempurnaan,” kata Anis Matta dalam Serial Kepahlawanan-nya, “Adalah batas maksimum dari kemampuan setiap indvidu untuk berkembang. Karena, ‘Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya...’ (al-Baqarah: 286)”
Pendidikan terhadap anak-anak berkebutuhan khusus dianggap cukup sukses jika anak tersebut bisa mengerjakan kebutuhannya sendiri, tidak bergantung pada orang lain. Misal, biar anak tersebut tunanetra tapi bisa memasak telur sendiri dan tidak minder dengan ketunaannya. Seperti itu lah tarbiyah. Ia membina dan mendidik orang sesuai dengan kebutuhannya. Maka ‘mencapai kesempurnaan’ adalah gerak
Sirot Fajar | 107
untuk menjadi lebih baik yang disesuaikan dengan kemampuan maksimum individunya.
Tarbiyah itu sebagai langkah pembinaan, penumbuhan dan pengembangan potensi akal, fisik dan hati manusia agar sesuai dengan fithrahnya. Aktivitas ini, kata Pak Solikhin, tentu bukan sekedar memfungsikan saja, tetapi bagaimana semua itu mampu berfungsi optimal dan ‘hidup’ sehingga mampu menangkap sinyal-sinyal dengan cerdas. Sebab, “Apa yang dapat menjadi sempurna namun tidak menjadi sempurna adalah sebuah aib di mata para pahlawan,” kata seorang penyair.
Tambah bingung ya? Begitulah tarbiyah. Dimensi yang termuat dalam kata tersebut sangatlah banyak. Jika kita mencari definisi kata ‘pendidikan’ pun mungkin akan menjumpainya berbagai pendapat dari para tokoh dan buku, yang jika kita baca semua mungkin akan tambah bingung. Namun saya pernah membaca buku Arsitek Peradaban-nya Anis Matta yang menukil definisi tarbiyah/pendidikan dalam tiga kata saja.
Fannu tasykiilil insaan. Itu lah definisi tarbiyah yang terdiri dari tiga kata saja, yang beliau nukil dari buku
108 | C a t a t a n M a s ’ u l G a u l
Manhaj Tarbiyah Islamiyah yang ditulis Muhammad Quthb. Yang artinya: Seni membentuk manusia. Jadi tarbiyah bukan sekedar ngaji atau tholabul ilmi saja tetapi lebih dari itu. Tarbiyah adalah proses untuk membentuk pribadi-pribadi Qur’ani yang cemerlang dalam hidupnya, yang terwarnai dengan shibghoh Allah.
Dalam masanya dulu, tarbiyah berhasil mengubah Abu Bakar yang lemah dan penangis menjadi orang yang teguh melawan kemurtdan; mengubah Umar bin Khatthab yang sangar menjadi penangis kala membaca Al-Qur’an; mengubah Mushab bi Umair yang hidupnya glamour menjadi zuhud; mengubah Bilal budak hitam menjadi pemimpin yang terompahnya sudah berada di surfga terlebih dahulu: dan mengubah... Sanggupkah dirimu untuk diubah??
Dalam perjalanan hidup ini kita membutuhkan tarbiyah. Dengan tarbiyah itu lah kita membina diri agar hidup ini menjadi lebih baik tiap waktu ke waktu. Dengan tarbiyah itu lah kita mencoba menjadi insan rabbani yang senantiasa bergegas diri menyambut seruan ilahi..
Sirot Fajar | 109
Apa yang terjadi kalau tak ada cinta saat berdakwah?? Lorraine Monroe bilang, "If you don't love the work you're doing, you get sick--physically, mentally, or spiritually. Eventually, you'll make other sick too... jika kamu tidak mencintai pekerjaan yang sedang kamu lakukan, kamu akan sakit--fisik, psikis, atau spiritual. Bahkan bisa jadi kamu bisa bikin orang sakit.." Mari kita cintai dakwah ini dengan sepenuh hati :)
Status FaceBook
110 | C a t a t a n M a s ’ u l G a u l
Inilah yang Membedakan Kita dengan Mereka
“Halaqah menjadi basis dakwah karena tanpa halaqah, dakwah berubah menjadi acara seremoni belaka..”
(Satria Hadi Lubis, Buku Pintar Mengelola Halaqah, 150)
Ceritanya saya lagi membaca sebuah skripsi yang ditulis mahasiswa USU untuk tambahan refrensi skripsi saya. Judulnya cukup menarik: “Gambaran Subjective Well Being Mahasiswa Anggota Paduan Suara Mahasiswa Gerejawi”. Secara sederhana (karena penjelasannya panjang), Subjective Well Being bisa kita artikan Bahagia, karena memang ia bagian dari Happyness.
Bagimana hasilnya? Ternyata Mahasiswa yang menjadi anggota Paduan Suara Mahasiswa Gerejawi (PSMG) memiliki Subjective Well Being lebih tinggi dari pada mahasiswa yang mengikuti Paduan Suara Biasa. Apa sebabnya? Hal religius/spiritual. Ya, para responden mengaku bahwa lirik lagu yang dinyanyikan dan kegiatan spiritualitas yang
Sirot Fajar | 111
dilakukan dalam PSMG memberikan perasaan tenang dan menyatu dengan Tuhan.
Religius/Spiritual. Inilah yang membedakan PSMG dan paduan suara biasa. Ini pula lah yang menjadikan para aggotanya merasa bahagia. Begitu bahagianya mereka sampai merasa bahwa lagu yang keluar dari mulut mereka itu ibarat suara malaikat.
Apa pelajaran yang bisa kita ambil? Bahwa di antara yang membedakan organisasi dakwah dengan organisasi biasa adalah masalah Religius/Spiritual. Ketika sisi Religius/Spiritual ini tidak ada di dalam organisasi dakwah, maka ia tidak ada bedanya dengan organisasi lainnya. Ketika anggota organisasi dakwah tidak merasakan sentuhan Religius/Spiritual dalam dirinya, maka ia akan segera futur dan merasa sangat berat berada di barisan dakwah.
Dakwah ini adalah jalan yang penuh onak dan duri. Karakteristik dakwah ini adalah katsirul aqabat; banyak rintangannya; sehingga membutuhkan keteguhan hati untuk melewatinya. Karakteristik dakwah ini adalah thuulut thariq; panjang jalannya; sehingga membutuhkan nafas panjang yang akan menguatkan kita untuk terus menusuri jalan maraton
112 | C a t a t a n M a s ’ u l G a u l
ini. Karakteristik dakwah adalah qillatur rijaal; sedikit orangnya; sehingga membutuhkan kesabaran ketika harus sendiri; sehingga membutuhkan kekuatan yang lebih besar untuk mengerjakan tugas yang banyak dengan sedikit orang.
Jalan Dakwah ini bukanlah jalan yang mudah. Jalan dakwah ini adalah jalan yang berat. Lalu apakah yang akan menguatkan kita? Ruhiyah kita. Energi yang perlu kita isi pertama kali adalah energi ruhiyah. Sebab ruhyiah merupakan energi besar yang melebihi materi dan semua yang kasat mata. Kalo kata Motivator: Motivasi yang paling tinggi dan langgeng adalah Al-Quwwal Ar-Ruhiyah; Motivasi karena Allah.
Maka, saya sedikit sedih ketika melihat beberapa wajihah kerohanian di kampus tidak/belum mengaktifkan kajian rutin. Kenapa? Kajian-kajian lah yang akan memberikan sentuhan Religius/Spiritual pada para anggotanya. Ketika SKI/UKKI/LDK/LDF/dkk tidak bisa menyentuh pada sisi Religius/Spiritual-nya, maka anggotanya akan segera membanding-bandingkan dengan organisasi lain yang secara materi lebih menguntungkan dan menyenangkan. Kalo nggak percaya, dicoba aja..
Sirot Fajar | 113
Mas’ul Gaul
Bukan yang tampilannya cool
Apalagi yang dandanannya amburadul
Juga bukan yang suka bermasygul
Yang hobinya hanya berkemul
Dia hanya seorang rajul
Pemimpin orang yang lagi berkumpul
Pada sesama sering merangkul
Dan selalu meneladani Sang Rasul
Beberapa saat usai diberi amanah sebagai ketua MY Club, saya diajak mbak-mbake jalan-jalan sambil makan-makan. Baik banget ya mbak-mbake itu. Ngomong-ngomong kalian pernah nggak diajak begitu? Ah, kasihan banget kalau belum :-p
Namun ini bukan jalan-jalan ke taman bungkul, atau tempat biasa orang jalan-jalan dan berkumpul. Bersama beberapa teman yang juga dapat amanah di MY Club, kami jalan-jalan silaturrahim ke rumah Pak Dani Setiawan (pernah
114 | C a t a t a n M a s ’ u l G a u l
jadi Ketua Puskomnas FSLDK 2010) dan Bunda Nisa’, yang kebetulan waktu itu mereka masih tinggal di Driyorejo, untuk sharing-sharing tentang Dakwah Kampus. Lha makan-makannya ya saat udah bertamu itu terus disuguhi makanan, wkwkwk…
Masih teringat bagaimana celetukan Pak Dani saat saya baru saja masuk dan mau salaman dengan beliau, “Antum akh yang jadi ketua MY Club sekarang? Ya udah keluar sana antum!”
Saya pun bingung dan membatin, “Lha ini bapaknya gimana, wong duduk aja belum udah disuruh keluar.” Tapi saya terus menjabat tangan beliau dan duduk.
Setelah teman-teman duduk semua, kemudian beliau melanjutkan, “Antum nanti harus sering-sering keluar kampus agar wawasannya terbuka. Antum harus bergaul dengan teman-teman dari LDK lain biar nggak
para aktivis dakwah kampus kini harus menjadi orang yang gaul dan tidak kuper: gaul kepada teman-teman di sekitar agar dakwah mudah diterima; dan gaul dengan teman-teman di luar sana agar wawasan makin luas dan banyak pengalaman
Sirot Fajar | 115
kuper. Jangan sampai antum di sini seperti pendekar sabuk hitam, tapi setelah keluar ternyata jiaaaaaaaaaaaah masih sabuk putih.”
Di bulan berikutnya, kebetulan ada rakorwil (rapat koordinasi wilayah) FSLDK Jatim di Unair. Lagi-lagi mbak-mbake nyuruh saya untuk hadir. Akhirnya saya pun hadir walaupun hanya sehari, karena besoknya ada acara sendiri di kampus.
Karena ingin menjadi masul yang gaul dan tidak kuper, sebagaimana dipesankan Pak Dani, sejak saat itu kemudian saya mulai berusaha untuk selalu menghadiri acara FSLDK. Mulai saat PMLDK di UWKS bersama Mas Gunanto, Sar-Nas di UGM bersama 12 teman lain dari MY Club, FS-Nas di ITB bersama Baihaqi. Dan yang terakhir dan paling berkesan tentu saja FSDA VI di UTM. Selain karena saya juga masuk kepanitiaan, dari MY Club dan Formusa yang hadir mencapai 25 lebih. Itu mungkin rekor keikutsetaan kami di acara FSLDK.
Sebenarnya, ketika kita mengikuti acara FSLDK atau acara di kampus lain itu acaranya biasa aja. Secara acara itu biasa saja. Misalnya Sekolah LDK, kita bisa saja mengadakan
116 | C a t a t a n M a s ’ u l G a u l
sendiri sebagaimana yang pernah dilakukan Tim Syiar tahun lalu. Yang menjadi luar biasa dan begitu berkesan adalah ketika kita bertemu dan bergaul dengan teman-teman dari LDK lain; ketika saling bercerita tentang perkembangan LDK masing-masing; ketika berkisah tentang suka duka selama menjadi ADK; ketika berbagi pengalaman yang mengharukan, dll. Itulah saat-saat yang begitu mengesankan. Dan di situlah saat kita banyak belajar.
Akhirnya, Sirot tentu bukan mas’ul yang gaul. Bahkan bagi sebagian orang, ia termasuk orang yang kuper. Melalui tulisan ini saya hanya ingin menyampaikan sebuah harapan. Harapan agar para aktivis dakwah kampus kini menjadi orang yang gaul dan tidak kuper: gaul kepada teman-teman di sekitar agar dakwah mudah diterima; dan gaul dengan teman-teman di luar sana agar wawasan makin luas dan banyak pengalaman..
Catatan: Maaf, bahasanya Unesa banget, hehe.. Semoga yang dari kampus lain tetap bisa memahami…
Sirot Fajar | 117
“Justifying a fault doubles it.” Pembenaran atas kesalahan membuat kesalahan menjadi dua kali lipat. --Peribahasa Perancis— Seorang kawan yang pernah ditilang polisi bercerita. Ceritanya, jarak dari tempat ia tinggal dan kampus tidak terlalu jauh. Maka ia pun tidak pernah pakai helm. Berkali-kali polisi mengingatkan, “Mas helm-nya dipakai” tapi tidak sampai menilangnya. Nah suatu ketika, Pak Polisi menilangnya. Maka ia beralasan, “Pak, saya ini mahasiswa. Jaraknya ke kampus dekat.” Apa kata Pak Polisi? “Justru karena Anda itu mahasiswa mas, jadinya harus tahu kalau hal ini melanggar lalu lintas,” begitu jawaban Pak Polisi yang membuat teman saya terpaksa rela ditilang.. Kayaknya tidak berlebihan nasihat presiden pertama Amerika George Washington: “It is batter to offer no excuse than a bad one; Lebih baik tidak menyampaikan alasan dari pada mengungkap alasan yang buruk.”
118 | C a t a t a n M a s ’ u l G a u l
Dulu di zaman Khalifah Umar juga pernah terjadi hal demikian. Seorang lelaki peminum khamr dibawa ke hadapan khalifah. Ketika telah dibuat keputusan atasnya, ia mencoba untuk membela diri dengan harapan bisa meringankan hukuman, “Demi Allah wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya Allah telah menakdirkan ini atas diriku.” Apa jawab Umar? Kepada para pembantunya Umar justru bilang: “Berikan dia hukuman dua kali. Hukuman pertama karena ia telah minum khamr. Hukuman kedua karena ia telah menghina Allah.” Nah, semoga ada hikmah.. Jangan suka buat-buat alasan. Apalagi alasan untuk mangkir dari amanah dan dakwah :-)
Sirot Fajar | 119
Bagian 5
Bersama dalam Dakwah
Kalian tahu kenapa hujan itu menyenangkan? Karena turunnya rame-rame
Pasti garing kalau hujan itu turunnya hanya satu tetes
Lantas satu tetes lagi, dan seterusnya.
Sungguh,
Di dunia ini sesuatu yang positif selalu spesial saat rame2 dilakukan
Shalat jamaah, rame2 tentu lebih afdol
Gotong royong, rame2 tentu lebih oke
Belajar, rame2 saling bantu lebih banyak yang dipelajari
Bekerja, rame2 saling tolong lebih cepat selesai
Itulah gunanya teman2 terbaik
Teman2 yang saling menasehati dan mengingatkan
Rame2 menjadi selalu lebih seru.
Kalian tahu kenapa keyboard laptop atau HP harus lengkap?
Karena hilang satu saja, rasanya tidak utuh lagi.
Begitulah pertemanan yang baik.
Hilang satu, terasa kosong semuanya.
Rame-rame selalu lebih menyenangkan.
*Darwis Tere Liye
120 | C a t a t a n M a s ’ u l G a u l
Penari dan Perbedaan Kita Lihatlah para penari itu..!! Kostum yang mereka kenakan berbeda-beda.. Namun keragaman itu, justru menjadikan mereka tampak indah dan serasi.. Karena biarpun kostum mereka berbeda, namun mereka memiliki satu tujuan dan tekad yang sama: menghibur orang yang menyaksikannya..
Sirot Fajar | 121
Kesamaan tujuan itu lah yang menjadikan mereka tampak serasa dan serasi.. Kalau benar Allah sebagai tujuan kita (Allahu ghoyatuna), Rasulullah sebagai teladan kita (Ar-Rasul qudwatuna), dan al-Quran sebagai pedoman kita (al-Quraan dusturona), maka sebenarnya banyak hal yang telah menyamakan kita.. Namun mengapa kita sering kali berselisih hanya karena kostum (baca: partai, harokah, jamaah, ormas, organisasi, dll) kita berbeda.. Jika demikian, mari kita bertanya pada diri ini, apakah kita sedang menuju-Nya ataukah ingin menampakkan kostum kita???
122 | C a t a t a n M a s ’ u l G a u l
Kita Mungkin Berbeda, Tapi . . .
Tiba-tiba saja saya teringat kenangan saat berada di asrama haji Sudiang Embarkasi Makassar, saat iku MTQ Mahasiswa Nasional XII. Satu pekan yang begitu indah, bertemu orang-orang yang luar biasa. Tiap sudut santero, selalu saja kutemui orang-orang yang pegang mushaf. Mungkin memurajaah hafalannya, atau mungkin juga tilawah, atau entah lah.. Yang jelas mereka adalah pemuda dari penjuru negeri ini yang cinta Al-Quran, insyaAllah..
Berada di Makassar membuat saya bisa selalu bangun lebih pagi karena perbedaan waktu. Makassar masuk kawasan WITA sehingga jamnya lebih cepat satu jam dari pada di Surabaya. Jadi saya bisa sholat tahajjud sebelum shubuh. Nah suatu pagi, di saat perjalanan ke Masjid untuk Sholat Shubuh berjamaah, ternyata wudhu saya batal. Mau tidak mau saya pun harus wudhu di Masjid. Karena antrian yang agak panjang, maka sampai iqomat pun saya belum wudhu. Dan di tengah penantian itu, sayup-sayup saya mendengar imam sholat berkata, “Jamaaah sekalian, bagi yang mau qunut, nanti saya beri waktu.”
Sirot Fajar | 123
Akhirnya saya pun sholat dengan menjadi makmum masbuq. Dan tatkala imam selesai salam, tiba-tiba terjadi keributan. Saya tidak tahu pasti sebab keributannya, dan juga tidak bisa memperhatikan karena harus menyempurnakan rakaat sholat yang masih kurang. Perkiraan saya, ada orang yang tidak terima karena sholatnya tidak pakai qunut, karena biasanya selalu pakai qunut (ini sholat khusyu’ apa enggak ya?).
Di tengah keributan itu, Sang Khotib yang biasanya memberi kultum tiap usai sholat, segera naik mimbar. Panjang lebar ia menjelaskan mengenai perbedaan itu, dan di akhir penjelasannya, beliau mengatakan dengan tegas, “Saudara sekalian..! Perbedaan adalah rahmat. Dan pertengkaran adalah laknat. Kalau saudara mau dilaknat, ayo bertengkar dengan saya..”
Seusai Sang Khatib turun mimbar, ada salah seorang yang menyerukan, “Takbir..!!” maka seketika Masjid pun riuh dengan teriakan “ALLAHU AKBAR”. Namun, ternyata pertikaian yang sempat terhenti itu akhirnya berlanjut lagi beberapa saat. Namun jarak ruang dan waktu juga yang
124 | C a t a t a n M a s ’ u l G a u l
akhirnya memisahkan ‘pertengkaran’ mereka, karena semua jamaah segera kembali ke wisma masing-masing.
Setelah saya tanyakan ke teman-teman yang saya jumpai, ternyata permasalahannya bukan ‘qunut’, karena yang masalah itu Sang Imam telah meminta izin. Lha yang dipermasalahkan apa?? Basmalah. Ya, salah seorang makmum tidak terima karena imam sholat membaca basmalah disirrikan.
Dalam permasalahan agama ini, memang sering kali ada perbedaan di tengah umat. Namun selama mereka masih percaya bahwa rukun islam itu ada lima dan rukun iman itu ada enam, maka seharusnya tidak ada pertengkaran di antara mereka, karena pada hakikatnya mereka masih bersaudara. Innamal mu’minuuna ikhwatun, begitu firman Allah dalam salah satu ayatnya.
Kita mungkin berbeda, tapi selama kita percaya bahwa Allah adalah Tuhan kita, dan Nabi Muhammad adalah Rasul-Nya maka kita tetap saudara. Ketika Ali bin Abi Tholib ditanya mengenai posisi orang-orang yang berontak terhadapnya, ia menjawab, “Mereka adalah termasuk saudara kita, hanya saja mereka berlaku dzalim pada kita”
Sirot Fajar | 125
Memang perbedaan tidak dapat kita hindari di dalam kehidupan ini. Namun jangan pula kita menyuburkan perbedaan. Ada orang yang justru mencari-cari perbedaan dengan alasan ingin mendapat rahmat Allah. Ia berdalih bahwa Rasulullah bersabda, ”Ikhtilaafu ummati rohmah: Perselisihan di kalangan umatku adalah rahmat.” Padahal di kalangan ahli hadis, hadis tersebut masuk kategori hadits maudhu’. Bahkan Syaikh Al-Bani mengatakan: hadis itu tidak ada asalnya.
Berbedaan itu sebuah keniscayaan. Maka yang perlu kita lakukan bukanlah menghindari perbedaan, tapi bagaimana agar perbedaan di antara kita berubah menjadi sebuah kebaikan. Andai saja kandungan hadits di atas benar, apakah semua perbedaan itu akan menjadi rahmat?? Ini lah pertanyaan yang perlu kita jawab.
Menurut ust. Ahzami Samiun Jazuli, perbedaan yang bisa menjadi rahmat bukan sekedar asal beda. Perbedaan yang berpotensi melejitkan kekuatan adalah perbedaan yang bersifat variatif atau pengembangan. Namun perbedaan yang bersifat kontradiktif justru akan memunculkan perpecahan dan kehancuran.
126 | C a t a t a n M a s ’ u l G a u l
Bisa. Bisa saja Allah menjadikan umat ini bersatu. Bisa saja Allah menghilangkan semua perbedaan yang ada di antara kita. Bahkan Allah sendiri telah menegaskan dalam surat Al-Maidah ayat 48:
وَلَوْ شَاء ا ه للُّ لَجَعَ لَكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلَكِن لِهيَبْلُوَكُمْ فِي
مَا آتَاكُم فَاسْتَبِقُوا الخَيْرَات
“Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan.”
Perbedaan adalah ujian. Allah hendak menguji sejauh mana ‘kedewasaan’ kita dalam menghadapi perbedaan yang ada. Allah ingin tahu, bagaimana sikap kita dalam menyikapi perbedaan yang ada. Dengan perbedaan itu Allah ingin melihat kita: siapa di antara kita yang paling bagus amalnya. Dan dengan perbedaan itu, mari kita berlomba untuk menjadi golongan terbaik dalam pandangan Allah dan Rasul-Nya..
Sirot Fajar | 127
Temukan Komunitasmu.. duri dalam bunga mawar itu dihargai karena bunganya bukan karena durinya yang tajam.. Anjing yang air liurnya najis itu, derajatnya dapat terangkat dan disebut dalam al-Quran karena ia bergabung dengan kafilah kebaikan: Ashaabul Kahfi.. itulah The Power of "Berjamaah". ketika kita bergabung dengan kelompok kebaikan, maka derajat kita akan terangkat dengan sendirinya.. maka temukanlah "komunitas Emas" dan bergabunglah bersamanya.. agar hidup anda tidak termubadzirkan dan termarjinalkan.. dan tentu saja, hidup anda akan jauh lebih indah.. Sudahkah Saudara Menemukan "Komunitas Emas" tersebut...???
Catatan; sepertinya sajak ini terinspirasi dari buku yang ditulis Pak Sholikin Abu Izzuddin. Tapi saya lupa ada di buku apa. Maklum udah lama banget nulisnya…
128 | C a t a t a n M a s ’ u l G a u l
Madu di Sarang Lebah
Tiba-tiba saya ingin lagi nulis catatan untuk teman-teman sekalian. Khususnya teman-teman Master of Syuro, yang kerjanya syuro terus. Tiada hari tanpa syuro. Pagi sebelum kuliah syuro. Siang saat di kampus juga syuro. Sore pun masih syuro lagi. Bahkan bila perlu malam pun juga syuro. Kog syuro terus? Emang udah tau ye syuro itu apaaan?? Kalo tampang-tampang antum sih, ana gak yakin, hehe.. Nggak yakin kalo nggak tahu. Pasti tahu!
Tetapi izinkan saya berbagi sedikit tentang apa yang baru saya ketahui. Semoga dengan ini Allah menambahkan pemahaman pada saya dan antum yang berkenan membacanya. Selain itu, saya menulis catatan ini untuk mengikatnya, agar tidak lupa di waktu yang akan datang. Seperti pesan Imam Asy-Syafi’i: “Ilmu adalah binatang buruan, dan pena yang menuliskan adalah tali pengikatnya.”
Syuro biasa diartikan dengan ‘musyawarah’. Dan kata ‘musyawarah’ sendiri dalam KBBI diartikan dengan: pembahasan bersama dengan maksud mencapai keputusan atas penyelesaian masalah. Nah, dalam kesempatan bincang-
Sirot Fajar | 129
bincang kali ini, mari kita lihat makna syuro dari bahasa di mana ia diambil: Bahasa Arab.
Kata syuro itu terdiri dari tiga haruf: Syin, Wau, & Ra’ yang pada mulanya bermakna: Mengeluarkan madu dari sarang lebah. Makna ini kemudian berkembang, sehingga mencakup segala sesuatu yang dapat diambil atau dikeluarkan dari yang lain (termasuk pendapat). Syuro juga dapat berarti mengatakan atau mengajukan sesuatu. Jadi kalo pas syuro antum diem aja itu pada hakikatnya sama saja antum tidak ikut syuro, karena tidak mengatakan atau mengajukan sesuatu. Hehe afwan jika ada yang tersungging..
Madu. Itu lah ‘hasil’ dari syuro. Dan madu bukan sekedar manis dirasa, tetapi ia juga obat untuk banyak penyakit, sekaligus sumber kesehatan dan kekuatan. Itu berbeda dengan obat pada umumnya yang rasanya pahit. Apa maknanya? Bahwa kebijakan yang dihasilkan melalui syuro harusnya bukan sekedar baik. Lebih dari itu, ia harusnya semanis madu. Sehingga orang yang menjalani kebijakan itu tidak merasa pahitnya hasil syuro tersebut. Memang susah. Tetapi kita harus mengupayakannya. Terlebih bagi jamaah
130 | C a t a t a n M a s ’ u l G a u l
dakwah. Agar tidak ada yang merasa bahwa dakwah ini pahit (seperti obat). Dakwah ini harus semanis madu.
Tetapi...
Madu terbaik hanya dapat dihasilkan oleh lebah terbaik. Dan antum semua, yang melakukan syuro itu lah lebah-lebah yang harusnya menghasilkan madu terbaik. Maka mari teladani lebah: makhluk yang sangat berdisipin, kerjasamanya mengagumkan, makanannya dari sari kembang, di mana pun ia hinggap takpernah membuat kerusakan, ia tak mengganggu kecuali diganggu, bahkan sengatannya pun dapat menjadi obat..
Maka benarlah Rasulullah yang mengibaratkan seorang Mukmin dengan Lebah. Sebagaimana diriwayakan oleh Imam Ahmad: ”Demi Dzat yang jiwa Muhammad ada dalam genggaman-Nya, sesungguhnya perumpamaan seorang mukmin adalah seperti lebah, ia makan yang baik-baik, mengeluarkan yang baik-baik, bila ia hinggap tidak membuat dahan patah dan rusak” (HR. Ahmad)
Oh ya, satu lagi. Ini pesan Mbak Anik Andri Asnanik yang ditulis di buku Sepotong Hati Untukmu Mahasiswa: “Jika seorang mukmin diibaratkan seekor lebah, maka
Sirot Fajar | 131
sebagai da’i yang tugasnya menyeru, mungkin kita belum memiliki “daya sengat” seperti yang dimiliki lebah. Sehingga yang terjadi adalah ucapan kita tidak didengar, ajakan kita tidak direspon. Proses tarbiyah yang kita jalani hanya sebagai ajang tatap muka dan transfer ilmu. Tidak membekas dan tidak berpengaruh pada pemegang tongkat estafet dakwah selanjutnya. Maka bekal ilmu dan iman yang kita perkuat dan semai dalam jiwa masih perlu banyak revolusi. Kata pepatah Arab, “Faqidusy-syai’i la yu’thihi” (orang yang tidak mempunyai sesuatu, tidak akan bisa memberikan sesuatu itu pada orang lain).”
Semoga kita bisa senantiasa menjadi Lebah yang menghasilkan Madu terbaik...
Senin, 17 Juni 2013 usai shubuh..
Ketika hendak membaca buku “Wawasan Al-Quran: Tafsir Maudhu’i atas Pelbagai Persoalan Umat.” untuk persiapan MTQ MN XIII di Padang. Kebetulan ada pembahasan tentang syuro..
132 | C a t a t a n M a s ’ u l G a u l
Kekitaan Teringat saya tulisan KH Rahmat Abdullah dalam Warisan Sang Murabbi. Dalam tulisan yang berjudul ‘Tarbi Mania’ beliau menuliskan, “Kam fina wa laisa minna wa kam minna wa laisa fina (Berapa banyak orang yang ada di tengah kita tetapi bukan kelompok kita dan berapa banyak orang yang tercatat bagian dari kita tetapi tak ada di tengah kita)”. Ikhwah sekalian, ternyata ‘kekitaan’ kita tidak terletak pada kebersamaan kita secara fisik, tapi lebih ditentukan oleh ketertautan hati dan kebersamaan kita dalam menanggung beban da’wah dan dalam melalui jalan panjang perjuangan. Biarpun seorang itu satu asrama/kos dengan kita, tetapi jika ia tidak pernah memikirkan da’wah ini, maka sebenarnya ia bukanlah bagian dari da’wah ini. Namun biarpun seorang itu jauh dari kita, tidak bersama kita, tetapi ia selalu memikirkan da’wah ini, maka itu lah orang yang pada hakikatnya termasuk golongan kita. Sertakan aku dalam do’a rabithah yang antum baca ya!
Sirot Fajar | 133
Ukhuwah Anjaliyah
Mungkin judul ini terlalu memaksa. Namun saya tidak menemukan judul lain untuk mengisahkan ukhuwah para Anjal (anak jalanan) yang saya jumpai suatu ketika.
Ceritanya saya naik bus di Tuban untuk kembali ke Surabaya. Karena sudah penuh, maka Sang Kondektur pun menyuruh saya duduk di ‘bantalan’ yang di sebelah sopir. Tidak lama berselang, ada seorang cewek yang naik, kemudian duduk di samping saya. Sekilas saya perhatikan, ada tatto di lehernya. Saya bisa melihatnya karena kebetulan rambutnya pendek. Saya amati tatto itu, ingin tahu gambar apa. Di saat itu saya baru sadar kalo ia habis potong rambut, karena banyak potongan rambut kecil di pakaian dan lehernya.
Saya pun mengalihkan perhatian ke yang lain; membaca majalah Tarbawi yang saya bawa. Tiba-tiba kondektur yang di depan kami membuka obrolan dengan cewek tersebut, “Habis potong ya mbak?”
“Iya ini.”
134 | C a t a t a n M a s ’ u l G a u l
Setelah itu Sang Kondektur melanjutkan obrolanya dengan pertanyaan yang lain, “Dari mana, mau ke mana, mau ngapain, biasa mangkal di mana, sekarang bawa barang atau tidak, dll..”
Dengan semangat cewek di samping saya itu menjawab. Dari jawabannya, akhirnya saya tahu kalau ia anak jalanan, mau ke rumah cowoknya. Dan dari obrolan mereka berdua saya juga tahu kalau sang kondektur juga orang jalanan. Bahkan ia mengenal beberapa nama yang disebutkan si cewek. Pun demikian dengan cewek tersebut, ia mengenal beberapa nama yang disebut Sang Kondektur. Klop.
Sampai disitu saya menyinyimpulkan satu hal, yang menjadi pelajaran pertama: orang itu akan mudah berakrab-akrab dengan orang yang sama dengannya. Mereka sama-sama orang jalanan. Maka mereka pun cepet akrab. Bahkan mereka pun sudah saling percaya sampai menanyakan prihal ‘barang’.
Bus terus berjalan. Sampai akhirnya ada seorang pengamen yang naik. Pengamen yang sudah sering saya temui dan tidak pernah saya beri karena tidak suka gayanya: bertindik, rambut gondrong, bertatto. Ketika pengamen
Sirot Fajar | 135
tersebut selesai bernyanyi dan mulia mengeluarkan bungkus permen dari sakunya,dengan segera cewek di samping saya pun mengambil uang dari dompetnya. Tak tanggung-tanggung, ia mengeluarkan uang puluhan ribu. Maka sang kondektur pun bertanya, “Mau buat apa uang itu?”
“Ya itu buat pengamen.” Jawab si cewek dengan santai.
“Owh..” jawab Sang kondektur sambil menganggukkan kepala. Ia kemudian melanjutkan, “Kog banyak?”
Dengan mantap kemudian si cewek bilang, “Itu temanku. Aku kenal dia. Kasihan jadi ya saya beri ini...”
Saya pun kaget bukan main. Seumur-umur saya tidak pernah memberi pengamen uang puluhan ribu. Bahkan hanya beberapa kali saja saya memasukkan uang puluhan ribu di kotak amal masjid saat sholat jumat. Maka hal ini pun kemudian memberi saya pelajaran kedua tentang persaudaraan mereka: ternyata mereka begitu ringan tangan untuk berbagi dengan sesamanya..
Saya kemudian merenung. Ternyata Ukhuwah Anjaliyah mereka begitu kuat. Dari tampilannya, si cewek yang duduk di sebelah saya bukanlah orang yang sudah sukses besar. Ia masih biasa yang mungkin hidupnya hanya
136 | C a t a t a n M a s ’ u l G a u l
sedikit lebih baik dari teman-temannya sesama anak jalanan. Tapi ketika ia bertemu dengan teman lamanya, ia tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk berbagi.
Kini, banyak saudara kita yang terkena bencana dan musibah. Semoga hal itu menjadikan Ukhuwah Insaniyah kita tergerak untuk membantu mereka, saudara kita sesama manusia. Biar pun beda suku, ras, bangsa, dan lainnya, semoga hal itu tidak mengalangi kita untuk berbagi pada sesama..
Kini, banyak saudara kita sesama muslim yang menghadapi masalah besar. Semoga hal itu menjadikan Ukhuwah Islamiyah kita tergerak untuk membantu mereka, saudara kita sesama muslim. Biarpun mungkin beda madzhab, harokah, dan lainnya, tapi jika mereka masih satu akidah, marilah kita membantunya...
Semoga catatan sederhana ini bermanfaat.. :-)
Sirot Fajar | 137
Siapa suka si mawar merah.. Dapat ditanam di tempat teduh.. Siapa suka berpecah belah.. Rahmat Allah semakin jauh... (Tifatul Sembiring, MenKomInfo) Mari kita cari persamaan-persamaan di antara kita, dan sejenak melupakan perbedaan-perbedaan di antara kita.. Semoga kita bisa dipertemukan oleh Allah dalam indahnya ukhuwah...
Status FaceBook
138 | C a t a t a n M a s ’ u l G a u l
Syubhat dalam Berjamaah
Pada dini hari tanggal 13 Maret 1963, di New York City, seorang manajer sebuah bar, Catherine (Kitty) Genovese, diserang seorang lelaki tak dikenal di depan apartemennya. Ia pun menjerit minta tolong, barangkali ada tetangganya yang terbangun dan tergugah mau menolongnya. Seketika lampu-lampu apartemen menyala. Maka lelaki yang menyerang itu pun menghentikan aksinya dan berniat untuk kabur.
Sayang nian, orang-orang dalam apartemen itu tidak tergerak untuk memberikan pertolongan. Sehingga lelaki penyerang yang sempat berniat kabur itu pun melanjutkan aksinya. Ny. Genovese pun dihabisi lelaki tak dikenal tersebut. Ia ditusuk berkali-kali hingga kehabisan darah dan akhirnya meninggal. Parahnya lagi, penyerangan mengerikan yang terjadi selama 45 menit itu, disaksikan oleh 38 saksi mata. Tapi dari jumlah sebanyak itu, tidak ada satu pun yang tergerak untuk menolong Ny. Genovese atau menelpon polisi.
Kejadian itu menggelitik dua psikolog sosial, John Darley dan Bibb Latane, untuk mulai berspekulasi dengan
Sirot Fajar | 139
menawarkan penjelasan yang dapat diuji. Dua psikolog tersebut akhirnya sampai pada kesimpulan bahwa: dalam keadaan banyak bystander maka akan terjadi fenomena diffusion of responsibility atau terjadi ‘penyebaran tanggung jawab’. Semakin banyak bystander yang ada, semakin kurang rasa tanggung jawab untuk melibatkan diri pada keadaan darurat tersebut. Dan semakin banyak bystander, semakin rendah presentase orang yang memberikan respons dan makin lama mereka menunggu sebelum memberi respons.
Dalam kehidupan berjamaah, fenomena ‘penyebaran tanggung jawab’ ini pun terjadi. Apapun yang terjadi dalam jamaah, tidak akan ditanggung satu orang saja, tapi akan ditanggung sebanyak orang yang ada dalam jamaah tersebut. Terlepas dari besarkecilnya beban yang ditanggung antar anggota jamaah. Ketika terdapat kesalahan dalam ijtihad jama’i, misalnya, maka kesalahan itu tidak akan dibebankan kepada satu orang saja. Tetapi ditanggung bersama-sama. Walaupun mungkin keputusan syuro berasal dari gagasan seorang individu anggota majlis syuro.
140 | C a t a t a n M a s ’ u l G a u l
Keadaan seperti itu bisa menjadi boomerang bagi jamaah, jika seluruh anggota jamaah memiliki pikiran yang sama untuk mengelak dari tanggung jawab: lebih mengharap saudaranya yang melaksanakan tanggung jawab, dan bukan dirinya sendiri. Akibatnya, tidak satu pun dari anggota jamaah yang menjalankan keputusan syuro. Karena lebih mengharap saudaranya yang lain yang menjalankan keputusan syuro sambil membebaskan dirinya dari tanggung jawab. Na’udzu billah min dzalik..
Maka, kematangan tarbawi individu dalam kehidupan berjamaah merupakan sesuatu yang niscaya. Hanya dengan kematangan tarbawi itulah individu dalam jamaah akan merasa bertanggung jawab dengan kelangsungan jamaah. Dengan kematangan tarbawi, individu tidak akan lagi mengharap saudaranya yang akan menggugurkan kewajiban kifayah-nya. Ia justru akan berusaha menggugurkan kewajiban kifayah saudaranya. Mereka akan berlomba-lomba mengerjakan kebaikan yang ada. Subhanallah…
Selain fenomena diffusion of responsibility, dalam psikologi sosial juga dikenal istilah Social Loafing. Inilah syubhat kedua dalam berjamaah. Ketika beberapa orang
Sirot Fajar | 141
melakukan sesuatu hal dengan bersama-sama, mereka mungkin terlibat dalam Social Loafing: mereka berpura-pura bekerja keras, tapi nyatanya mereka mengeluarkan usaha yang lebih sedikit dari pada yang mungkin akan mereka lakukan jika melakukannya sendirian.
Memang, ketika kita melakukan kerja bersama-sama, secara otomatis kita akan mengeluarkan tenaga yang relatif lebih sedikit, karena telah dibantu dengan yang lainnya. Tapi yang dimaksud dengan Social Loafing adalah membiarkan orang lain melakukan pekerjaan lebih banyak dari pada dirinya sendiri. Jika demikian, maka orang yang melakukan Social Loafing secara tidak langsung telah medholimi saudaranya. Karena ia telah membebani saudaranya lebih dari beban yang seharusnya dipikulnya. Beban yang seharusnya ia pikul, telah sedikit dialihkan kepada saudaranya yang lain. Sehingga ia termasuk orang yang membebani saudaranya.
Untuk mengurangi fenomena Social Loafing ini, perlu ditanamkan komitmen kepada seluruh anggota jamaah. Yaitu menumbuhkan keyakinan yang kokoh sehingga membelenggu seluruh hati nuraninya dan kemudian menggerakkannya
142 | C a t a t a n M a s ’ u l G a u l
perilakunya menuju arah yang diyakininya. Selain itu, kesadaran tawâshou (saling menasihati) anatar anggota jamaah perlu diperbaiki, sehingga nantinya mereka akan saling mengingatkan dengan saudaranya yang lain.. [wallahu a’lam bi ash-showaab..]
Sirot Fajar | 143
Senyum Sejenak Suatu ketika, saat usai menempelkan SK Panitia WAFO (Warung Informasi: untuk sambut Mahasiswa baru) di asrama-asrama, ada adik akhwat yang SMS: A: Mas, saya xxx dari asrama yyy. Nama saya kog tidak ada di daftar panitia wafo ya? Terus saya masuk di sie apa? S: Ya afwan, nama yang masuk SK yang dilaporkan masulny aja & yang udah jelas sie-nya. Yang belum masuk, nanti menyusul. A: Terus saya masuk sie apa? S: Maunya sie apa? A: Saya ndak tahu. Terserah sampean. Saya nurut saja. S: Ya udah, amanahnya beli konsumsi di amanah ;-) [Ket: salah satu toko roti, tempat mahasiswa biasa pesan konsumsi acara adalah Toko Amanah] A: Serius ini.. S: Ini juga serius :-D Besoknya saat syuro: S: Ya udah, begitu saja. Apa ada yang mau disampaikan lagi? Mbake: Udah ndak ada. Tapi ada yang mau kami sampaikan di luar topic Wafo. Boleh?
144 | C a t a t a n M a s ’ u l G a u l
S: Ya, silahkan. M: Afwan, antum itu kalo di-SMS adik2e balasnya yang serius. Masak ditanya amanahnya apa beli roti di amanah? Bla bla bla bla…. … … … S: Nggeh mbak -_- Amanah memang harus dijalani dengan serius, tetapi dalam proses menjalaninya terkadang perlu nyantai :-) Kenapa saya jawab nggak serius begitu? Karena saya pun ndak tahu mau masukkan sie apa. Yang lebih tahu kan mbak-mbaknya. Saya jawab begitu biar ia tanya mbaknya aja.. Jawaban guyonan itu sebenarnya untuk menghilangkan image kalo saya terlalu serius. Karena kata sebagian teman, Sirot itu orang terlalu serius, padahal ya sebenarnya nggak begitu amat :-p
Sirot Fajar | 145
Bagian 6
Teruslah di Jalan Dakwah
Kalau mau mutung mending ke laut aja
Lalu kenanglah Dzun Nun yang berpaling dari kaumnya
Yang kemudian terpenjara di perut ikan dalam gulita
Dan akhirnya terselamatkan karena kasih sayang Rabb-nya
Jalan dakwah memang melelahkan
Seringkali juga ada ujian dan cobaan
Tapi tetaplah engkau terus bertahan
Semoga segera beroleh kemenangan
146 | C a t a t a n M a s ’ u l G a u l
Pengganti atau Yang Diganti?
“Dan jika kamu berpaling, Dia akan menggantikan (kamu) dengan kaum yang lain, dan mereka tidak akan jadi seperti kamu” (Qs. 47: 38)
Ada pepatah bahasa Indonesia yang berbunyi, “Mati Satu Tumbuh Seribu” Pepatah itu mengingatkan saya pada “Generasi Pengganti” yang disinyalir Allah dalam surat Al-Ma’idah ayat 54:
“Wahai orang-orang yang beriman! Barang siapa di antara kamu yang murtad (keluar) dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum, Dia mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya…”
Jika kita murtad dari agama ini, maka Allah akan mendatangkan kaum yang lebih baik dari kita. Jika kita tidak mau berjuang, maka akan ada saja orang yang mau memperjuangkan agama ini, karena da’wah akan terus berjalan dengan atau tanpa kita. Akhirnya semuanya kembali pada kita, apakah kita ingin menjadi umat yang ‘diganti’ atau menjadi umat yang ‘mengganti’.
Sirot Fajar | 147
Proses pergantian itu tidak bisa dianalogikan dengan pemain line-up dalam sepak bola. Di mana pemain pengganti biasanya memang tidak lebih baik dari pemain yang diganti. Pemain cadangan/pengganti biasanya memang kualitasnya dibawah pemain line-up. Tidak! Karena Allah telah menjamin bahwa orang yang mengganti itu lebih dicintai oleh Allah. Tentunya, karena yang mengganti lebih baik dari pada yang diganti.
Kalau kita mencermati ayat di atas, maka kita akan menemukan sebuah fakta: jika ada satu orang yang keluar dari agama ini atau tidak lagi mau berjuang di jalan da’wah ini, maka Allah akan mengganti dengan banyak orang. Hal ini dapat dilihat dari penggunaan bahasa al-Qur’an. Tatkala menyebut kata murtad (yang diganti), Allah menggunakan kata yartadda yang kalau dalam bahasa arab itu merupakan kata mufrod/tunggal. Sedangkan ketika menyebut penggantinya, Allah menggunakan kata qoum yang berarti kaum atau orang banyak. Hal ini dikuatkan lagi dengan penggunaan kata jama’/plural setelahnya (yuhibbuuna, yujaahiduuna, dan la yakhoofuuna)
148 | C a t a t a n M a s ’ u l G a u l
Maka satu orang yang murtad dari agama ini, maka Allah akan mengganti banyak orang yang lebih baik dari dia. Satu orang yang mutung dari jalan da’wah ini, maka Allah akan mengganti dengan seribu orang yang lebih baik dari dirinya. Disinilah pepatah, “Mati Satu Tumbuh Seribu” itu nyata terlihat…
Ketika makin banyak yang mutung dari jalan dakwah, ketika jumlah kader dakwah terus berkurang, mungkin saja kita akan merasa makin berat. Bahkan mungkin kecewa karena ternyata kita tidak pernah menjumpai ‘para pengganti’ yang dijanjikan tersebut. Namun kita harus tetap yakin dengan datangnya generasi pengganti tersebut.
Mungkin saja Allah mengganti dalam bentuk yang lain. Orang-orang yang mau bertahan, Dia jadikan menjadi orang dengan kapasitas yang luar biasa, yang bisa mengisi kekosongan yang ditinggalkan orang-orang sebelumnya. Bukankah ada seorang yang disetarakan dengan ribuan orang? Bukankah kata Qoum, juga seakar dengan kata Qowwam yang berarti pemimpin?
Akhirnya, bertanyalah kita pada diri ini, apakah kita akan menjadi orang yang ‘diganti’ atau kah yang ‘mengganti’??
Sirot Fajar | 149
Masa muda adalah saat yang tepat untuk belajar yang sebanyak-banyaknya. Terlebih bagi para calon PEMIMPIN. Belajar di masa muda mutlak diperlukan.. Umar bin Khatthab berpesan, "Ta'allamu Qobla An Tasuuduu: Belajarlah sebelum kalian memimpin.." Mengapa?? Sebab, "Ketika anak muda menjadi pemimpin ia akan kehilangan banyak waktu belajarnya," begitu kata Imam Syafi'i..
Status FaceBook
150 | C a t a t a n M a s ’ u l G a u l
Kader-kader Yang Tak Pernah Keder
Keluarlah keluarlah saudaraku
Berdirilah tegap di ujung jalan itu
Sebentar lagi sejarah kan lewat
Mencari aktor baru untuk drama kebenarannya
Sambut saja dia
Engkaulah yang ia cari
(M. Anis Matta, Lc)
Seringkali kali saya mendengar keluhan dari adik-adik. Ada yang beralasan karena pergaulan di kampusnya tidak ada yang ikut ngaji, sehingga ia pun malas untuk menghadiri halaqah. Ada yang memang bawaannya sejak SMA tidak kenal islam, sehingga di saat kuliah agak parno dengan hal-hal yang berbau islam. Ada yang SMA-nya rajin ngaji tapi karena salah pergaulan akhirnya tidak mau ikut ngaji lagi. Bahkan ada yang dari pesantren, tetapi saat kuliah kehilangan identitas kesantriannya. Dan berbagai curahan hati lainnya..
Sirot Fajar | 151
Tak terkecuali, masalah-masalah itu pun menyapa kader-kader yang telah lama terjun di dunia dakwah. Berapa banyak kader yang begitu getol berdakwah saat dikampus tapi ia menghilang begitu saja dari arena dakwah setelah diwisuda. Atau mungkin kader yang begitu semangat dakwahnya ketika di masjid dan syuro’, tapi ketika saatnya kuliah di kampus, ia kembali ke habitat semula: menjadi orang yang pantas untuk didakwahi. Semoga Allah menjaga dan senantiasa memberikan rahmat-Nya kepada kita agar tidak futur dari jalan dakwah ini..
Yang sering menjadi alasan ke-futur-an adalah karena sebab lingkungan dan kondisi. Karena temannya tidak ada yang mau diajak ngaji, maka ia pun tidak ngaji juga, karena kalau tetap ngaji dibilang ‘sok alim’. Karena teman-temannya pada lepas jilbab atau mungkin pake tapi ‘jilbab gaul’ dan pakaiannya kekurangan bahan, maka ia pun segera meminjam pakaian adiknya untuk menyesuaikan dengan teman-temannya. Dan berbagai contoh yang lainnya...
Dalam berinteraksi sosial seseorang hanya dihadapakan pada dua pilihan: mempengaruhi dan dipengaruhi. Kalau ada orang yang tidak mau ‘mempengaruhi’,
152 | C a t a t a n M a s ’ u l G a u l
maka ada kemungkinan bahwa dia ingin menjadi orang yang ‘dipengaruhi’, biarpun ia tidak menyadarinya. Kalau kita tidak mampu—atau mungkin juga tidak mau—mempengaruhi teman-teman kita untuk berbuat kebajikan, maka diri kita akan berpotensi untuk dipengaruhi agar berbuat keburukan. Ketika kita punya kesungguhan untuk memengaruhi lingkungan kita, paling tidak kita tidak akan mudah untuk di pengaruhi.
Jika sekarang banyak yang curhat karena telah dipengaruhi lingkungannya, semoga nantinya banyak yang bilang dan bertekad, “Karena lingkungan saya seperti itu, maka saya harus mempengaruhi lingkungan dengan pengaruh yang ada dalam diri saya. Saya harus merubah lingkungan menjadi lebih baik”.
Seseorang yang kuat melawan arus lingkungan yang menghanyutkan hanyalah orang-orang yang kuat: kuat kepribadiannya, kuat karakternya, kuat tsaqofahnya, kuat tarbiyahnya, kuat ibadahnya, dan kuat imannya. Mereka menjadi orang yang kuat karena memiliki konsep diri yang jelas. Dalam bahasanya para ulama, mereka adalah orang-
Sirot Fajar | 153
orang yang ma’rifatun nafs atau orang yang mempunyai pengetahuan tentang dirinya.
Ma’rifatun nafs adalah sebuah ilmu yang berdiri paralel dengan ma’rifatullah. Maka Ibnu Qiyyim AL-Jauziyah memasukkan ilmu ma’rifatun nafs sebagai ilmu kedua setelah ma’rifatullah. Sebab, seperti kata Ali bin Abi Thalib, “man ‘arofa nafsahu, ‘arofa Rabbahu... Barang siapa yang mengenal dirinya maka ia mengenal Tuhan-Nya”
Seorang yang mengetahui ‘dirinya’ dengan baik maka ia akan berpeluang untuk dapat menumbuhkan dan memaksimalkan sisi-sisi positif yang ada dalam dirinya. Dengan mengetahui kadar kemampuannya maka seseorang akan mampu mengoptimalkan quwwatul khair (kekuatan kebaikan) yang ada dalam dirinya. Dan di saat yang sama ia akan mampu meminimalisir quwwatus syarr (kekuatan kejahatan) yang ada dalam dirinya.
Ya.. ya.. ya... ‘alaa kulli haal, kader dakwah sejati harus siap menghadapi bagaimanapun kondisi lingkungannya. Ia senantiasa teguh menghadapi arus dan badai kerusakan umat. Ia akan selalu bersama kebenaran biarpun hanya ia seorang diri yang bersama kebenaran tersebut. Mereka
154 | C a t a t a n M a s ’ u l G a u l
mengingatkan saya dengan ungkapan Imam Hasan Al-Banna, “Antum ruhun jadidah tarsi fi jasadil ummah”. Kamu adalah ruh baru, kamu adalah jiwa baru yang mengalir di tubuh ummat, yang menghidupkan tubuh yang mati itu dengan Al-Qur’an.
Kini saatnya kader tidak lagi mengandalkan kebesaran oraganisasi. Atau menagandalkan dakwah rame-rame. Ia harus mampu terjun ke lapangan seorang diri. Ia harus mampu menjadi ruh baru yang mengalir di tengah lingkungannya. Maka kader masa kini senantiasa meningkatkan kapasitas dirinya. Karena hanya dengan itulah ia bisa menjadi pribadi yang lebih baik. Sebab Rasulullah sendiri telah mengingatkan:
مَنْ أَبْطَأ بِهِ عَمَلُهُ لَمْ يُسْرِعْ بِهِ نَسَبُه “Barang siapa yang lambat amalnya maka tidak akan dipercepat oleh nasabnya.” (HR. Abu Daud)
Nasab kita tidak akan memberi manfaat pada kita jika kita sendiri tidak mau beramal. Begitu pun dengan organisasi. Sebaik dan sehebat apapun organisasi tersebut membantu diri kita, tetapi kalau diri kita sendiri tidak
Sirot Fajar | 155
segera tergerak untuk berbenah dan memperbaiki diri, maka kesemuanya itu tidak ada gunanya.
Ah, kader.. Begitu indah namamu. Kebersamaan kalian di jamaah memang bagus, namun ada saatnya nanti kalian tidak lagi bersama. Ada saatnya kalian harus berpisah dan menanggung beban dakwah ini seorang diri. Mulai sekarang, belajarlah untuk ‘menikmati kesendirian’. Rubahlah dirimu sendiri. Budayakanlah Tarbiyah Dzatiyah (pendidikan mandiri) untuk menguasai mata kuliah kehidupan; untuk memahami medan dakwah antum.
Akhirnya, jika membahas para kader, saya selalu teringat dengan penulis buku ‘Untukmu Kader Dakwah’ Syaikhut Tarbiyah KH. Rahmat Abdullah. Suatu ketika beliau berpesan, ”Selalulah bersama Kebenaran, walaupun Engkau sendirian..”. Jangan pernah takut bersama kebenaran. Jangan pernah malu melakukan kebaikan. Pengaruhilah lingkungan Antum agar menjadi lebih baik. Jadilah cahaya di kegelapan di lingkungan Antum. Dan jangan pernah gentar. Karena saya yakin, bahwa antum adalah kader-kader yang tak pernah keder..
156 | C a t a t a n M a s ’ u l G a u l
Yakinlah, Bahwa Kita Bisa Memimpin..
“Teruslah bergerak, hingga kelelahan itu lelah mengikutimu
Teruslah berlari, hingga kebosanan itu bosan mengejarmu
Teruslah berjalan, hingga keletihan itu letih bersamamu
Teruslah bertahan, hingga kefuturan itu futur menyertaimu
Tetaplah berjaga, hingga kelesuan itu lesu menemanimu.”
(KH. Rahmat Abdullah)
Yahudi mengapa mereka berprestasi?. Begitulah pertanyaan yang diajukan KH. Toto Tasmara melalui judul bukunya. Tentu buku itu tidak mengajak kita untuk mengagumi dan mengikuti orang Yahudi. Tidak! Yang perlu kita contoh dari Yahudi adalah semangatnya. Biarpun jumlahnya hanya sedikit tapi mereka bisa mengendalikan dunia ini. Biarpun secara kuantitas mereka sedikit, namun secara kualitas tidak ada lagi yang meragukan mereka.
Seharusnya ini patut ditiru para aktivis dakwah, dimana jumlah mereka sangat sedikit jika dibandingkan dengan jumlah orang yang harusnya didakwahi. Di manapun itu, baik di kampus, kampung, parlemen, pasar dan tempat
Sirot Fajar | 157
lainnya, selalu saja jumlah para penyeru kebaikan itu lebih sedikit. Namun biarpun demikian, kita harus optimis bahwa kita juga bisa memenangkan dakwah ini. Syaratnya hanya satu: sabar. Ya, sabar. Sebab kesabaran itu lah yang akan menguatkan kita untuk terus menapaki jalan dakwah ini.
“Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah [2]: 249)
“Maka jika ada di antaramu seratus orang yang sabar, niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ratus orang kafir; dan jika di antaramu ada seribu orang (yang sabar), niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ribu orang, dengan seizin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar.” (Al-Anfaal [8]: 66)
“Memperjuangkan dakwah islam, sama dengan meniti jalan yang sudah dilalui Rasulullah saw. Dan jalan ini sejak dahulunya, memiliki tabiat serius dan sangat jauh dari sikap santai,” begitulah tulis Muhammad Nursani dalam artikelnya di majalah Tarbawi yang berjudul ‘Ini Jalan yang Penuh Keseriusan’.
158 | C a t a t a n M a s ’ u l G a u l
Jalan dakwah ini ada permulaannya dan tidak ada akhirnya. Selama kita masih bernafas, maka selama itu pula kita berkewajiban menjalankan dakwah ini. Karena jalannya yang panjang dan penuh keseriusan itu lah maka Syaikh Musthofa Masyhur mensyaratkan sifat ‘nafasun thawil’ atau nafas panjang, yang harus ada dalam diri para pejuang dakwah. Baginya, jalan perjuangan yang terjal dan panjang tak mungkin bisa dilewati oleh orang-orang yang ber-‘nafas pendek’ alias mudah goyah, dan tidak sabar.
Kesabaran. Apakah makna yang kita pahami tentang kesabaran itu? Dalam Serial Kepahlawanan-nya Anis Matta mengatakan, “Kesabaran adalah daya tahan psikologis yang menentukan sejauh apa kita mampu membawa beban idealisme [...], dan sekuat apa kita mampu survive dalam menghadapi tekanan hidup.”
Mungkin mimpi kita untuk memenangkan dakwah kampus ini terlalu tinggi jika melihat kondisi saat ini. Namun jangan sampai kita menyerah sebelum bertanding. Jangan sampai untuk sekedar bermimpi saja kita tidak memiliki kesabaran. Mungkin juga jalan dakwah ini memang benar-banar berat. Namun jangan sampai kondisi ini melumpuhkan
Sirot Fajar | 159
semangat kita untuk terus berjuang. Jangan sampai kita seperti yang dikatakan Sayyid Quthb, “Kau mulai jemu berjuang, lalu kau tanggalkan senjata dari bahumu?”
Kesabaran. Sejauh manakah kita harus mempertahankan kesabaran dalam perjuangan ini. Sedangkan dalam Al-Qur’an Allah selalu memerintah untuk bersabar dalam semua tahap perjuangan dakwah Rasulullah: dakwah sirriyah, dakwah jahriyyah, hijrah, periode Madaniyah, menjelang turunnya kewajiban jihad, ketika ada perintah jihad, setelah jihad dilaksanakan dan seterusnya..
Kesabaran. Dan apakah yang akan Allah berikan jika kita mampu bersabar dalam perjuangan ini? “Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar. Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami.” (As-Sajdah [32]: 24)
Yakinlah saudaraku, bahwa kita pun bisa memimpin dan memenangkan dakwah (di) kampus ini. Syaratnya hanya satu; bersabarlah. Karena Allah telah berjanji akan memberikan kepemimpinan dalam agama (al-imaamu fi ad-diin) ini ketika
160 | C a t a t a n M a s ’ u l G a u l
kita mampu bersabar. Bersabarlah, bersabarlah, dan bersabarlah dalam melakukan perjuangan dakwah ini.
Akhirnya, “Sabar”, kata Anis Matta dalam Arsitek Peradaban-nya, “Bagaikan laut yang dapat menghanyutkan semua kesedihan, kelemahan, ketakutan, kecemasan, kekhawatiran, emosi, ketergesa-gesaan, dan semuanya. Tapi bukan hanyut untuk hilang selamanya. Melainkan hanyut untuk kembali menjadi kekuatan jiwa baru, dorongan baru, dan semangat baru.”
“Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung.” (Ali ‘Imraan [3]: 200)
Selamat menikmati episode dakwah kampus yang aduhai..!!
Sirot Fajar | 161
Sekelumit Kisah Seorang bertanya kepada Hasan Al-Banna, “Bila keadaan memisahkan hubungan kita, siapa yang Anda rekomendasikan untuk kami angkat jadi pemimpin?” Dengan tegas beliau menjawab, “Wahai Ikhwan, silahkan angkat orang yang paling lemah, kemudian dengar dan taatilah dia, niscaya ia akan menjadi orang paling kuat di antara kalian” Ketika cerita ini saya sampaikan saat mengisi materi Al-Qiyadah wal Jundiah di UKM BKI UWKS, seorang peserta bertanya: Apa benar Hasan Al-Banna menyarankan memilih orang yang paling lemah? Saya pun cuma tersenyum kemudian menjawab: maksudnya, jika yang paling lemah saja menjadi orang paling kuat jika didukung, apalagi jika orang tersebut sudah kuat. Tentu akan lebih kuat lagi.. Nah, siapapun masul kalian, dukunglah dengan sepenuh hati. Jika ada yang kalian tidak suka, silahkan disampaikan dengan cara yang baik…:-)
162 | C a t a t a n M a s ’ u l G a u l
Sampai Allah Mengirim ‘Malaikat’-Nya
Allah pasti ‘kan bersamamu
Bila kau selalu bersama-Nya
Allah pasti ‘kan menolongmu
Bila kau menolong agama-Nya
(Izzatul Islam, Allah Bersamamu)
Dalam sebuah organisasi, tak terkecuali organisasi/lembaga dakwah, kaderisasi merupakan salah satu kerja inti. Proses kaderisasi bertujuan menghasilkan kader yang memiliki kecakapan (muwashofat) kader sehingga terbentuk pribadi yang unggul. Kurang lebih begitulah yang saya baca dalam buku Risalah Manajemen Dakwah Kampus.
Masih dalam buku yang sama disebutkan bahwa, “Untuk dapat merealisasikan model kader yang kita inginkan, harus dibuat pentahapan menuju ke sana. Inilah yang kita sebut alur kaderisasi.” Dalam penjenjangan kadernya itu mungkin ada beberapa tahapan dan nama yang berbeda dari masing-masing kampus, yang itu disesuaikan dengan kampus masing-masing. Namun esensinya sama: kaderisasi.
Sirot Fajar | 163
Di Unit Kegiatan Kerohanian Islam (UKKI) Universitas Negeri Surabaya (Unesa), pun ada beberapa tahapan kaderisasi. Tahap pertama adalah Study Islam Intensif (SII) [kader muda], tahap kedua: Learning I [kader madya], dan tahap tiga: Learning II [kader purna].
Nah, biasanya SII selalu dilakukan di pesantren-pesantren yang ada di luar kota. Menurut beberapa senior yang sempat saya wawancarai, SII sengaja dilakukan di luar kota agar memberi kesan tersendiri bagi peserta. Selain itu, hal itu juga untuk menarik peserta agar minat ikut jenjang kaderisasi (Ya biasa, kalau keluar kota bisa sekalian rihlah). Mungkin mereka ingin menerapkan prinsip pesan pertama begitu menggoda, selanjutnya terserah Anda.
Tahun 2009, tahun ketika saya baru mulai memasuki dunia kampus, kebetulan SII diadakan di Pon-Pes Riyadul Jannah Pacet Mojokerto. Dari foto yang ada di pamflet, bisa kami lihat bahwa pesantren tersebut benar-benar asri dan indah. Apalagi ditambah kolam ikan yang ada di dalam pesantren. Tempat ini pun cukup menarik bagi para mahasiswa. Itu terbukti dengan tidak cukupnya tiga
164 | C a t a t a n M a s ’ u l G a u l
kendaraan yang disediakan panitia, yang kemudian memaksa mereka untuk mendatangkan dua kendaraan lagi.
Selama kegiatan, di hadapan peserta, panitia selalu menampakkan kecerian. Mereka mengaku gembira dengan banyaknya peserta yang sampai melebihi target. Tapi dibalik kegembiraan itu semua, ternyata panitia merasa khawatir dengan membludaknya peserta. Mereka khawatir kalau uang yang dianggarkan sebelumnya tidak cukup. Dan untuk mencari tambahan dana tentu merupakan hal yang sulit karena acara telah dimulai. Selain itu panitia juga sudah terlalu sibuk untuk melakukan itu semua.
Ketika hari ke-3, sebelum acara ditutup, semua panitia dan peserta berkumpul untuk melaksanakan penutupan di ruang aula pesantren. Sembari menunggu pengasuh Pon-Pes yang dicanangkan menutup acara tersebut, ketua panitia menjelaskan keadaan yang sebenarnya. Di satu sisi ia merasa bahagia karena pesertanya banyak dan dapat berjalan dengan baik, tapi di sisi yang lain ia merasa sedih karena dana yang dianggarkan tidak cukup. Dana yang dianggarkan untuk menyewa kendaraan buat pulang, telah dipakai
Sirot Fajar | 165
menyewa saat berangkat. Sehingga dana buat pulang pun menjadi kurang.
Di tengah suasana seperti itulah kemudian pengasuh pesantren yang mau menutup acara datang. Tapi beliau tidak datang sendiri. Beliau datang bersama seseorang yang sebelumnya belum pernah kami lihat dan kenal. Dari tampangnya, seharusnya kami sudah bisa mengira, siapa sebenarnya orang itu. Tapi karena kecamuk pikiran kami, sehinga kami tidak terlalu memedulikan kehadiran orang itu.
Setelah ketua panitia selesai bicara, dan kami sepakat untuk menggalang dana seikhlasnya untuk biaya pulang, bapak pengasuh Pon-Pes minta waktu sebentar untuk berbicara. Beliau menjelaskan siapa sebenarnya lelaki yang bersamanya itu. Kami pun seketika bertakbir, karena ternyata orang yang bersamanya adalah Syeh Ahmad Darwis yang baru datang dari Mesir. Beliau mau mengisi seminar di Malaysia, tapi menyempatkan diri untuk berkunjung ke pesantren tersebut. Yang lebih menggembirakan, karena Syeh Ahmad Darwis bersedia memberi sedikit nasehat kepada kami.
166 | C a t a t a n M a s ’ u l G a u l
Ketika melihat kami mengumpulkan uang, Syeh Ahmad Darwis berbisik kepada bapak pengasuh. Setelah itu beliau memanggil panitia yang membawa kardus buat pengumpulan uang. Tak kami sangka ternyata beliau mengeluarkan lembaran uang 100 ribuan dan memasukkannya dalam kardus. Kami pun seketika bertakbir. Setelah itu bapak pengasuh menjelaskan, bahwa ketika berbisik tadi, Syeh Ahmad Darwis bertanya, untuk apa kami mengumpulkan uang.
Kejadian itu pun semakin membuat kami yakin, jika kita mau menolong agama Allah, maka Allah tidak akan pernah menyia-nyiakan kita. Di saat kami kesulitan untuk pulang, ternyata Allah mengirim ‘malaikat’ dari mesir. Yang selain menyumbang materi, ‘malaikat’ itu pun memberi tausiyah kepada kita. Sehingga semakin membuat kami yakin untuk terus berada di jalan dakwah ini…
“Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (QS. Muhammad [47]: 7)
Maka jangan pernah mangkir dari jalan dakwah ini. Sebab, “Dakwah akan terus berjalan, dengan atau tanpa kita. Kalau tidak bersamamu dakwah akan bersama yang lain.
Sirot Fajar | 167
Kalau tidak bersama dakwah, engkau mau bersama siapa?”. Begitu yang saya baca di buku New Quantum Tarbiyah.
Selalulah berada di jalan dakwah ini, kapanpun, dimanapun, dan dalam kondisi bagaimanapun. Dengan dakwah, InsyaAllah hidup kita akan lebih barakah. Dengan kita berada di jalan dakwah ini, Allah akan senantiasa menolong kita, dengan cara yang tidak pernah kita pikirkan sebelumnya.
Wallahu a’lam bish showaab...
168 | C a t a t a n M a s ’ u l G a u l
Daftar Pustaka
Abdullah, Rahmat. 2008. Warisan Sang Murabbi. Jakarta: Tarbawi Press.
Alamsyah, Isa. 2010. No Excuse!. Jakarta: Asma Nadia Publishing House.
Aulia, Muhammad Lili Nur. 2011. Allah, Kokohkan Kaki Kami di Atas Jalan-Mu. Jakarta: Tarbawi Press.
Baron, Robert A. dan Byrne, Donn. 2005. Psikologi Sosial. Terjemahan oleh Ratna Djuwita. Jakarta: Erlangga.
Fajar, Sirot. 2013. Psikologi Pemuda. Yogyakarta: Mitra Pustaka Nurani
Fillah, Salim A.. 2007. Saksikan Bahwa Aku Seorang Muslim. Yogyakarta: Pro-U Media.
Izzuddin, Solikhin Abu. 2009. New Quantum Tarbiyah. Yogyakarta: Pro-U Media
Nursani, Muhammad. 2008. Berjuang di Dunia Berharap Pertemuan di Surga seri-2. Jakarta: Tarbawi Press
Nursyam, Fakhruddin. 2006. Arba’in Da’awiyah. Solo: Bina Insani Press
Matta, Anis. 2007. Arsitek Peradaban. Jakarta: Firah Robbani.
Matta, Anis. 2009. 8 Mata Air Kecemerlangan. Jakarta: Tarbawi Press.
Sarwono, Sarlito Wirawan. 2007. Psikologi Remaja. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Sirot Fajar | 169
Shihab, Quraisy. 2007. Lentera Hati. Bandung: Mizan Pustaka
Syafi’i, Syaikh Nashir Asy-. 2007. Dai-dai Cilik: kisah Anak-anak Ajaib Penuh Inspirasi. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar.
Zairofi, Ahmad. 2009. Lelaki Pendek Hitam dan Lebih Jelek dari Untanya. Jakarta: Tarbawi Press
Dan berbagai sumber lain yang saya tidak lagi mengingatnya. Baik itu buku, majalah, Koran, bulletin, blog, fb, sms tausiyah, nasihat para asatidz, dan lainnya. Terutama yang menjadi Status Facebook.. Afwan jika ada refrensi yang belum tercantum. “Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur'an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian.”
170 | C a t a t a n M a s ’ u l G a u l
Profil Penulis
Sirot Fajar pernah menjadi Ketua Muslim Youth Club (FB: Klub Da’wah Kampus Unesa) pada tahun 2011 & 2012. Selain itu juga pernah aktif di berbagai organisasi kampus di antaranya: Infokom BEM FIP, KaDept Agama BEMP Psikologi, KaDept PSDM UKKI Lidah 2012, Dirjen Kajian Islam Kementrian Agama BEM Unesa 2013, dll..
Sejak menjadi ketua MY Club, ia ‘terpaksa’ mulai mengisi kajian-kajian & training yang diadakan SKI, Depag/LDF, Musholla, dll, juga ke beberapa kampus tetangga yang ada di Surabaya..
Allah mengabulkan keinginannya untuk menjadi mas’ul yang tidak kuper dengan memberi kesempatan berkunjung ke berbagai kampus di luar Surabaya dalam berbagai kegiatan di antaranya: di UM Malang, UMI Makassar, UGM Yogya, UB Malang, ITB Bandung, UNJ Jkt, Univ Andalas, Univ Trisakti Jkt, UNP Padang, UIN Jogja, UTM Madura, dll..
Telah menulis dua buku yang telah diterbitkan: Psikologi Pemuda dan 30 Renungan Agar Sukses Menjalani Hidup.
Untuk Bersilaturrahim dengannya bisa kirim email ke sifa_jarumy@yahoo.com atau langsung di 0857-3229-9580.
Sirot Fajar | 171
Psikologi Pemuda
“Kalau aku dihadapkan pada masalah besar, maka yang kupanggil pertama kali adalah seorang pemuda.”
--Khalifah Umar bin Khatthab—
“Berikan padaku 10 pemuda maka dengannya aku akan mengguncang dunia.”
--Soekarno, Proklamator RI—
“Anak-anak muda selamanya adalah energi peradaban yang mengalirkan sungai sejarah. Setiap kali energi itu meledak, maka sejarah segera mencatat peristiwa-peristiwa dan langit menjadi saksi.”
--Anis Matta—
Siapakah pemuda itu? Yang begitu hebat dan bisa diandalkan? Yang dinanti-nanti dan dirindukan? Adakah di antaramu yang sudah termasuk di dalamnya? Atau, maukah kamu menjadi bagian darinya? Menjadi pemuda: generasi hebat, pembangun umat!
Dapatkan buku Psikologi Pemuda di TB Gramedia atau beberapa TB online yang ada..
172 | C a t a t a n M a s ’ u l G a u l
30 Renungan Agar Sukses Menjalani Hidup
“Mereka yang tak pernah lupa hakekat hidup yang hanya sekali, tak pernah ragu untuk memilih keabadian si sisi-Nya dan terus menggaungkan suara kebenaran yang diyakininya”
(KH. Rahmat Abdullah)
“Jika kamu mendambakan kemuliaan yang sempurna, maka janganlah membanggakan kemuliaan yang bisa sirna”
(Ibnu ‘Athaillah)
Ternyata tidak semua orang paham akan hakikat hidup ini. Atau, mungkin juga paham hanya sering melalaikannya. Padahal, bagaimana pemahaman kita terhadap hidup ini, seperti itulah kita menjalaninya.
Renungan-renungan dalam buku ini akan membantu kita memahami kehidupan. Bukan sekedar menjalani, namun menjalani kehidupan dengan penuh makna sehingga memperoleh kesuksesan hidup. Sukses dalam pandangan manusia, dan lebih penting lagi dalam pandangan Allah..
Sirot Fajar | 173
Sepotong Hati Untukmu Mahasiswa
“Berawal dari kata, peristiwa besar bisa terjadi. Berawal dari kata, perubahan-perubahan mengejutkan bisa mengguncang hati. Berawal dari kata pula, seorang yang keras bisa lunak hatinya. Sebaliknya, orang baik-baik bisa berubah menjadi orang yang rusak karena mendengar, mencerna atau membaca tulisan yang merusak hati dan pikiran..” (Inspiring Words for Writers)
Cita-cita kami untuk memenangkan dakwah kampus pun ingin kami mulai dengan ‘kata’.
Sebab, sebagaimana kata pemikir dan pemimpin pergerakan Islam di India, Abul Hasan Ali Al-Hasani An-Nadawai, bahwa “Kata adalah sepotong hati”.
Maka ini lah sepotong hati untukmu..
Buku ini berisi kumpulan tulisan teman-teman Klub Dakwah Kampus pada tahun 2011. Berisi renungan, kisah, dan motivasi untuk terus menguatkan kita agar terus berada di jalan dakwah (kampus)..
Buku ini hanya dicetak terbatas untuk kalangan sendiri. Hanya ebook-nya disebarluaskan secara gratis..
Ingin mendapatkan buku atau ebook-nya? Silahkan hubungi akun FB Klub Da’wah Kampus Unesa, email sifa_jarumy@yahoo.com atau SMS 0857-3229-9580.
174 | C a t a t a n M a s ’ u l G a u l

